Monday, 27 March 2017

I was one of person who believe that live in a big city is a huge advantage for its facility, connection and working opportunity. But, I start to doubt my own perception because life is hard here. It beats you everyday and in th

at everyday you have to get up and keep move on for tomorrow is still coming. You will need to at least feed yourself to stay alive -if saying fight back is too much. Life is hard here becuase the availability of facility does not necessarily mean that you can access the facility or you dont need it. Here, facility does not feel like privilege, it is just a daily need. And to build connection, you need time (you have to admit, your time is very limited) and (most of time) you need money to be connected with many. Not to mention, you dont always get the job that you like. 
Therefore recently I started to question if life could be better if I live in a different place, if I am having different job, is there a better thing I can do for myself but not here. I start seeing living in rural area as an option. 
This weekend I am forced to take a detour from my holiday plan, from hiking to go home (to Lampung) because my foster grandpa passed away. Sad indeed, but I also try to take the opportunity to get input from my family and neighbour about my plan. I would like to know "how is life in rural place like this?". I drawn myself into their daily conversation. As you may imagine it is an anywhere opportunity to get. In a village, you can get the talk about life anywhere and anytime. Take time to visit them in their house- join them in the afternoon talk after naaping time or in the evening after dinner, they will tell you all the story you missed from the village. 
The stories flow. In the village where my parent live, *Life is Hard, Dear*. People get sick. The same illness suffer by people in big city. Stroke, heart attach, diabete, leukimia, breast cancer and many more. Health facility is very basic here. The nearest hospital is 70 km away. For light illness people go to "Puskesmas" or community health center.  Private doctor is another option. Life is hard  here in my village, for "to live in village is a healthier life" is just a myth. 

A man just came back from his farm. The background is the empty market . The activivy stop at apptoximately 10.00 am. Many tenant just get enough money to eat for that day because they do not sell alot. 

Another fact is that people are trapped in loan. It is a common practice for civil servant. They will hypothecate their civil servant certificate to be in debt to bank.  People talked about Mr. A have a huge bank loan for his child school in Germany and failed to pay because here in the country the child cannot get a job that cover his study expense. Mr. B took loan to buy car. People was shocked knowing that Mr. And  Mrs. C got divorce and Mr. C refuses to split their loan to build house and buy car. Now Mrs. C should pay those choking debt by herself. 

Right Pict: Tradisional house of Lampung. Left Pict: Typical contemporer house built by society nowadys

Once again, I thought only people in big city would take this risky lifestyle. I, myself, is trying hard to avoid debt especially to entity like bank. I do not take any offer to have credit card for I am affraid I cannot control my shopping appetite. I thought people in the village would realize it better that economic situation in the area do not give them much opportunity to invest and multiple their money moreover if civil servant salary is the only source of income they have. Life is hard here for the expensive lifestyle
Talking about economic situation, farming is no more a potential source of income. For example, 3 years ago cassava and corn have a huge profit potential, but now the price is going down and farmers are loosing their profit. Other commodity like durian, papaya, chilli etc are affected by bad weather. The price is high but they can only harvest a few. It is pretty different in the city. People are still going to work despite bad weather. They still get monthly salary regardless their productivity. 
In the village, it gets worse by security concern. Robbery is daily news for society and install terror in their head. It limits society mobilization and willingness to buy valuable things for they are affraid it will endangered themselves. Security is almost not a concern in the city, especially Jakarta. Government wants to make investor feel safe. Their money is save. Their investment is safe. While, it is totally different here in the village. The robbery is an old news but seems government has no power over the criminal. Society live in terror. But who cares, maybe because there is no investor money to be protected. Who cares that it affects economic activity of the villagers. People are affraid or  do not have money to buy things. Market is empty. Money circulates very slowly. This district is dying. 
Sadly, I have to conclude  that, *life is hard here for economic activity does not work properly*. 
I have not given up to find a comparison. I decided to visit my uncle in Cianjur, a district on West Java. 
(to be continued)

Aneh rasanya, benar-benar berada dalam petuah *semuanya diciptakan berpasangan*. Eits.. aku nggak lagi mau bahas tentang jodoh. Ini tentang hidup dan mati.

Beberapa hari lalu,  aku dapat kabar bahwa kakekku (Mbah Awi) meninggal - kakek angkat ayah, tapi beliau sungguh sayang kepada kami cucu-cucu bukan kandungnya. Beliau selalu mengingatkanku pada mbah kakung dalam hal fisik, namun benar-benar dalam versi yang berbeda dalam hal karakter. Mbah kakung orang yang tegas ceplas ceplos dan cenderung kejawen. Mbah Awi lembut sekali, tutur bahasanya terucap rapi ciri khas cendikiawan dan memegang teguh islam dalam kesehariannya. Yang pasti keduanya baik dan aku ingin mengamalkan teladan-teladan kebaikan mereka. Semoga keduanya diberi tempat yang indah di sisi Alloh.

Ada mati dan ada hidup. Keesokan harinya di jam makan siang, seorang teman kantor bercerita riang di tangah kantor " hore, garis dua... garis dua*. Akhirnya istrinya hamil. Terdengar ada getaran haru, bahagia dan cemas dalam teriakan itu. Semua orang menyelamati.

Aku sendiri lalu memikirkan tentang betapa manusia dengan sangat mudah digantikan. Hari ini aku kehilangan, di hari yang sama seorang teman menerima kehadiran kehidupan baru. Sangat urgent rasanya untuk segera menyadari dan menjelang tujuan hidup sebelum Tuhan memutuskan sudah saatnya aku digantikan oleh nyawa lainnya.

Wednesday, 23 December 2015

Mengenang perjalanan  terakhir bersama emakku.

Seorang perempuan paruh baya menatap sayu keluar jendela kereta.


Hatinya sedikit resah, diperjalanan ini suaminya sakit. Masuk angin kalau kata orang jawa.
Iya bersyukur putri ketiganya akhirnya dapat bergabung dengan mereka saat kereta mampir di Statiun Jatinegara.

Kala menatap ke jendela itu, ia mengucap syukur dengan getir.

Segala puji bagi Allah yang telah memberinya kekuatan untuk menempuh perjalanan PP 2000 km ini meski dengan langkah terseok-seok dan tangan kanan yang setengah berfungsi.
Terima kasih pula karena dikuatkan akan janji keberkahan silaturahmi bagi siapapun yg menyongsongnya, sehingga membumbungkan kekuatan untuk melakukan perjalanan ini.
Terima kasih untuk sekali lagi mendapatkan kesempatan melihat kampung halamannya setelah 10 tahun berlalu. Saat itu Mbah Kakung anak-anak pulang kepangkuan Gusti Alloh.

Terima kasih telah diizinkan berada didekat putra sulung tercinta. Sudah belasan tahun sejak sang putra meningggalkan Sang Ibu, kembali ke Sang Pencipta. "Apa kabarmu di sana, Nak? Ibu rindu," lirihnya.

Terima kasih, dapat berada di rumah itu lagi, walau hanya sebentar. Rumah yang ia bangun dengan hasil jerih payahnya sendiri ketika ia belum dipertemukan dengan ayah anak-anak. Rumah di mana ia membesarkan anak-anaknya, hampir seperti seorang diri, karena suami harus berurbanisasi.
"Jangan jual rumah Ibu ya Nak. Satu-satunya harta yang pernah Ibu miliki dalam waktu lama," pesannya dalam hati, berharap anak-anaknya mengerti.

Ia menghela nafas. teringatkan lagi ia sudah cukup tua, rasanya baru beljm lama sejak ia semalaman gendong anak-anaknya yang demam . Kini badan itu seringkali harus dibopong anak-anaknya ketika berjalan.

Baru sebentar rasanya hari-harinya dipenuhi rengekan 5 anak-anaknya yang kini sudah mulai belajar mandiri. Rumah sudah mulai sunyi.

Lalu sebentar ia menatap sendu putrinya di baris seberang sana. Putrinya sibuk membuatkan teh panas untuk ayahnya.

"Nduk, kamu sudah besar sekarang. Kamu jarang pulang. Tapi ibu mengerti, dulu juga ibu begitu, berapi- api merajut mimpi," ucapnya dalam hati.

Ia lalu mencoba terlelap sambil berdoa, semoga esok ia kuat menyusuri jembatan Pelabuhan menuju Terminal Bakauheuni. Atau paling tidak anak dan suaminya akan cukup sabar menantinya diujung jembatan yang akan ia arungi dengan langkah terseok-seok.

Emak ku tercinta,

Mungkin memang seperti itulah sifatnya selalu optimis dan merasa kuat. Atau mungkin pula, ia cukup menyadari bahwa ia harus melakukan perjalanan ini, sekali lagi merasa dekat dengan tanah kelahirannya, dengan orang-orang terkasihnya dan sekali lagi mengarungi bumi bersama satu-satunya  laki-laki yang pernah memikat hatinya, karena mungkin kesempatan itu takkan ada lagi.


Tuesday, 9 June 2015

Akhir- akhir ini aku merasa sangat labil, terlalu banyak berfikir dan bertanya bahkan cenderung was- was. Aku ingat diriku duku tak begitu. Aku dulu seperti tahu sekali apa yang ku mau dan apa yang benar. Mungkin karena dulu aku jauh lebih sedikit tahu dari sekarang, mungkin juga karena dulu aku terlalu naive. Memandang hidup dengan kacamata sederhana. Kacamata hitam putih.

Mungkin ini rasanya jadi dewasa. Hidup serasa penuh tantangan. Jika dulu aku dapat memprediksi apa yang akan aku hadapi esok hari, bahwa rasa hidup tak akan jauh beda dari hari ini dan aku merasa baik- baik saja akan hal itu. Kini aku khawatir tentang bagaimana ini, bagaimana itu dan seterusnya. Kadang aku merasa takut saat memikirkan hari esok akan sama dengan hari kemarin. Aku terlalu takut jika langkah yang ku ambil adalah kemunduran dan bukan langkah maju yang dapat membawaku selangkah lebih dekat dengan mimpiku.



Lalu ngomong- ngomong tentang mimpi. Apakah bermimpi memang seaneh ini rasanya. Kamu seperti mengejar sesuatu yang tak tampak dengan beban di pundakmu yang amat  berat karena puluhan to-do list yang harus kamu lakukan dengan tekun dan berkesinambungan. Satu- satunya cara untuuk memindahkan beban itu menjadi investasi tak kasat mata adalah dengan melakukan semua  to-do list itu sehingga ia berubah menjadi proses pembelajaran yang membuatmu menjadi lebih mumpuni dari sebelumnya.

Namun pengejaran seperti tak pernah berakhir. To-do list yang satu hanya akan membawamu kepada deretan to-do list baru. Pengetahuan yang baru semakin membuatmu merasa kecil dan tak tahu apa- apa, bahwa sepuluh tetes pengetahuan lainnyalah yang kamu butuhkan setelah meneguk setetes pengetahuan. Lalu badan dan pikiranmu mulai berontak. "Masa bodoh" katanya, "kamu masih punya hari esok. Sekarang waktunya beristirahat dan ingat kamu masih punya satu session serial untuk ditonton." Seringkali aku kalah dalam pertempuran seperti ini, berakhir dengan penyesalan karena aku tak bergerak dari titik pengejaranku kemarin. masih di sini ribuan mil dari mimpi- mimpi yang ku.

Aku adalah seorang pemimpi. Aku selalu sadar itu. Aku pun pernah merasakah pahit manisnya meraih mimpi yang rasanya mustahil dengan semua tambahan pencapaian yang aku tak pernah minta sebelumnya. Aku biarkan diriku bergelimang kesepian hanya agar pengejaran mimpiku terus menjadi mungkin. Aku pernah mengabaikan waktu agar raga dan pikiranku dapat melaju ke mimpiku dengan lebih cepat. Lalu apa yang membedakannya...Baik dalam mimpiku yang ini dan yang telah tercapai, aku sama- sama dapat mecium manisnya pencapaian, melihat indahnya senyum kelegaan dan menerawang bertambah luasnya kesempatan. Namun mengapa dorongan pencapaian ini tak setinggi dulu.
Apakah memang aku sudah lelah? Namun itu adalah alasan, sedangkan pemimpi tak suka beralasan. Ataukah ini bukan mimpi sejatiku sehingga raga dan jiwaku tak mau berjuang selayaknya para pemimpi. Mungkin aku butuh bantuanmu untuk menjawabnya, atau aku sebenarnya tahu jawabanya? Ah... semakin linglung diri ini rasanya.


Lalu ku baca lagi tulisanku hari ini. Tiba- tiba aku merasa bodoh dan abstrak. (-;

Aku berharap. dalam setiap langkahku, Alloh memberi petunjuk, keridoan dan ilmu yang bermanfaat.

Wednesday, 4 February 2015

Patriarchy is an old story in Indonesia family but does not mean it has left its society. The emancipation discourse has continuously spread but for me myself I am not sure whether majority of women are struggling on it for themselves and their daughters, or human - no matter their sexuality, are always a selfish creature with a high tendency of prioritizing pleasure over dignity. In a patriarchal society like Indonesia, you may easily find women who are submissive to men (yes, plural) and easily  be destroyed by the game the men play. In this post, let's talk about a woman that I recently met. She has married for the 3rd time this January. 
In short, right a week before her 3rd married, one of her friend (has known her quiet awhile) reminded her about her divorce decree with her first husband. She, until now, does not hold the court decree. She was divorced through verbal statement and a divorce letter from her husband.  It is still a mystery how the local department can issue her marriage certificate with the 2nd husband although she does not have the divorce decree back then. She further explained that her 1st ex-husband allowed her to marry the second husband if she agreed to sign an agreement. This agreement stated that one day she will give up their only child to his custody. 


Her friend reminded her to settle all the things first; get official divorce decree from the first husband and win child custody at court. At the first time she was sure enough that she wanted to do all that, but she then started making excuses later in the discussion. At the end, she stuck on her plan, marrying the 3rd guy without doing any of her friend advice.


Question crossed my mind.

- Why is she doing this? Married and divorce without really concerning legality. 
- Isn't it bad if later her husband take her son? Is she love her son or not?
- What is in her mind? is it because she just cannot control her desire to have a new husband?
- Is it simply because she does not want to take this seriously because she has ever get away from this once?
- Or she keeps a secret that makes her must marry the 3rd guy soon?

And... I also ask myself 
Why am I so care about this?
Why is it so bothering me?
Is it because I concern about her?
or is it because I am too aware of woman emancipation and translate her decision as a setback that I can hardly accept?

Then, I think I just have to let it go and be happy for her for having a new family and start a new life. That's what friend are for. 

But if I may share my perspective, I would say
1. Women is complex. In our society, women must have strong reluctance. When woman has make a decision related to somebody else, especially that involved the family, the woman will be so reluctant to chance it especially if the family is happy about the choice. So in this case, after the whole family was there in her engagement day, and knowing when the procession will be conducted, the woman will not have a heart to even propose a delay of the wedding day to take care of the legal documents. 

2. The women is not in the capacity of worrying what I worried. Maybe she know less, hence she worry less. She know the definition of emancipation but she is going to work for money and never think of emancipation. It seems to me she never think of women's right, children's right or how cruel a human being is one day till it can take her son from her. The woman was under a believe that life will simply be good enough when there is a husband beside her, no matter what kind of problem it can bring to her life. 

I do want to say that it is because of her ego. But  education must also put a hand on this. Here in our society, if you only went to school up to senior high school, you would be thought as if right is like a wish list of tertiary stuff for yourself. Do not need to understand why you need that, get it if you can or just forget if you cannot. Most of the time it is treated merely as exam material, not an important discourse that is should be address seriously. The result? You know a few of your right and do not even ever think of "how to get it or when I can say that my right is violated?". It is worsen by the fact that she lives in patriarchal society where the people believe women should be submissive to men. That your social status is defined by standard like "whether or not you have husband", then, (if yes), who your husband is, where he works, or how much wealth he posses.



And like most of us probably think, it is so unfortunate because if women do not realize that they have rights, women will never know that their right has been taken from them, that maybe in many occasions they can always choose to say "NO and enough" toward a man who take them for granted.


Therefore, Girl!!! be grateful of all the education you enjoy, the cafe talk you have with other ladies discussing about women's right, the books about women's right that you read, or the environment support you received till you can achieved as much as you want including achieving higher than most of men around you.


Huft!! sorry for writing as if I am luckier and happier than the three-times-married woman.
It is just a relic of my perspective about Indonesian Women, patriarchy, and woman's right!

Special for you "Daughter" from John Mayer who care enough to a daughter around you!!



Sunday, 4 January 2015

Tahun baru, ada yang memaknainya dengan perayaan kembang api, ada yang memilih perenungan, ada yang memilih kebersamaan dengan keluarga sambil bakar jagung ataupun aneka daging, ada juga yang tertidur lelap menganggap pergantian tahun masehi layaknya pergantian hari Rabu ke Kamis.

Tanggapanku? Manusia itu bermacam-macam, cara mereka meraup rasa bahagia pun macam-macam, aku rasa sebagian besar masyarakat Indonesia merayakan tahun baru karena berbagai sistem dalam kehidupan mendorong mereka seperti itu misalnya sistem penanggalan umum yang digunakan, aktivitas tutup buku pada institusi yang dilaksanakan akhir tahun, godaan akan kemeriahan hiburan , promo akhir tahun dan kembang api di malam tahun baru, juga bonus tahunan dibagikan akhir tahun, mendorong sebagian besar manusia untuk paling tidak bersenang-senang dengan itu melalui liburan, makan bersama keluarga atau membeli kembang api yang indah jika tersulut api untuk menambah sedikit keceriaan. Bukankah pada dasarnya manusia senang akan keceriaan dan kemeriahan, hal yang ditawarkan oleh malam tahun baru. 

Aku? Aku bukan individu yang suka hingar bingar. Hujan malam tahun baru kemarin buatku adalah berkah, karena aku suka hujan, lebih dari malam tahun baru itu sendiri. Lalu diundang makan jagung bakar dan ayam bakar dirumah Bulikku juga merupakan berkah. Perut kenyang tanpa keluar sepeser uang. Moment terpenting dalam malam tanggal 31 Desember itu adalah "Aku memutuskan untuk pindah ke kamar kost" tak lagi numpang di rumah Paklik dan Bulik walaupun aku tahu mereka tak keberatan sama sekali. InsyaAllah aku akan kembali ke meja kerja dalam beberapa hari dan akan kembali mampun membayar sewa kamarku lagi. 


Resolusi? tentu saja aku punya (contradictive  sekali dengan ketidakinginanku untuk merayakan tahun baru, Haha). Resolusiku tahun ini sangat simple secara garis besar aku berharap: 




Mengenai kenangan, (mungkin sangat cliche), beberapa baris kata dari orang-orang yang ada ataupun melintas di hidupku , juga beberapa catatan ku sendiri di sosial media pada tahun 2014 yang masih berdengung dikepalaku adalah yang akan ku bagikan kali ini. 

"Kalau sudah tahu lauk yang kita punya akan berlebih atau tidak ada yang makan, berikan ke anak yatim belakang rumah. Saat kita membiarkan lauk-lauk itu basi dan teronggok di meja sampai esok pagi, mungkin saja mereka sedang makan hanya dengan nasi dan garam" Bapakku

"Semakin tinggi yang kita capai, semakin luas pandangan kita" Usep 
Catatan rollerrelic:  Jadi jangan heran kalau orang yang sukses bisa makin sukses dan yang kaya bisa makin kaya. Mereka mencapai dan memaknai pencapaiannya dengan mencoba melihat lebih jauh lagi, jalan mana lagi yangg harus didaki agar dapat mencapai yang lebih tinggi. Mereka yang miskin dan biasa saja kalau tak coba mendaki wajar saja akan tetap berada ditempatnya.


"Jika saya membantu anak saya mendapatkan pekerjaan atau suatu posisi dengan menggunakan nama saya atau menyuap, itu artinya saya menghina anak saya, merendahkan dia yang sudah bekerja keras untuk meraih kemapuannya saat ini" Jun HM




Kulit boleh menghitam karena terbakar matahari, asal jangan hati yang menghitam karena berlaku tidak jujur.  rollerrelic


"Rezeki itu sudah diatur, dont worry you have done your part, berusaha" Ratna Dewi




"If you cannot find what you are looking for in two minutes, go asking somebody, that will make you effective." Leo Wibisono 

"In career, it is better to kill then to be killed" Sheila  

"Life is composed by plenty of small wonderful things. If a wonderful thing is gone, does not mean your life is not wonderful anymore. It is just a lil bit less wonderful. So don't feel like you have come on the end of your life. It is there and still wonderful. Face it!" rollerrelic




Sebagai kutipan penutup dan juga tamparan jika aku hanya memandangi rencanaku tanpa melakukannya ku harus ingat bahwa 

"Idea is cheap, excellent execution what makes them expensive" Yoris Sebastian. 



Wednesday, 24 December 2014

Sedikit tentang getirnya kehilangan ibu dan bagaimana obrolan dapat menghindarkan Ibumu dari hal serupa. Catatan (yang mungkin bisa menyelamatkan nyawa) bagi kamu yang saat ini sedang berkutat dengan gejala medis dan pelayanan medis.
Seperti Pak Dahlan Iskhan,  Emak tak tahu kapan tepatnya dirinya lahir. Tanggal, bulan, tahun semuanya tak tercatat secara akurat. Kelurahan memutuskan untuk menulis di KTP bahwa beliau lahir pada 30 Juni. Berbeda dengan tanggal lahir, aku tahu persis kapan Ibuku wafat - 2 Mei 2014 sekitar Pukul 4.15, tanpa aku di samping beliau. Tak sempat aku memapah beliau keluar kamar saat beliau mengeluh sesak di dada. Tak sempat aku mengambilkan beliau minum agar tenggorokan dan dadanya sedikit lega. Tak sempat pula aku mengecup kening dan memeluk beliau sebelum beliau di makamkan, karena aku masih jauh di seberang lautan saat itu terjadi. 

Berikut adalah memoar hari-hari yang ku lalui setelah emakku wafat 

*Saat kabar kepergian beliau sampai ke telingaku Pukul 6.30
Tak bisa ku cucurkan air mata. Aku tahu belahan jiwaku telah pergi selamanya, aku tak akan bisa menatap wajah keriputnya lagi dan takkan pula dapat mencium tangannya yang bau surga walaupun telapaknya kasar karena tempaan detergen dan sabun cuci piring. 
Ku kabarkan hal ini pada teman kostku, lalu memasukkan baju seadanya ke dalam tas dan bergegas menuju statiun kereta yang akan membawaku ke terminal bus untuk pulang ke kampung.
Satu setengah jam kemudian bus mulai bergerak. Di sanalah air mataku menetes untuk pertama kali. aku ingat sekali, tetesannya tak deras. Ku tatap jendela bus dan terus mendengungkan ke dalam hati "Akhirnya Emak terbebas dari semua rasa sakit dan beban, aku tahu hari ini akan datang, dan ini adalah yang terbaik untuk emak". Tak ada isakan, hanya beberapa tetes air mata. 

*Sesampainya aku di rumah, Emak telah dimakamkan
Delapan jam perjalanan, dan petang di 2 Mei  2014 pun segela menjelang. Duduk di antara bapak, kakak, adik, saudara-saudara, tak ada suara emak lagi. Suara nyaring penuh kasih sayang untuk semua anaknya. Dan aku pun tersentak akan kenyataan bahwa bahkan aku tak bisa menatap dan memeluknya untuk terakhir kali. Kenyataanya lebih pedih dari yang ku bayangkan selama di bus. 

*Hari ke-2 hingga ke-7
Saudara-saudara berdatangan, beberapa dari mereka tinggal untuk membantu mempersiapkan acara yasinan, sekedar menggoreng pisang, kerupuk atau malakukan hal yang njlimet seperti memasak soto untuk para tetangga yang berkenan datang ke rumah selepas magrib untuk membaca Surat Yasin bersama. Ku sadari betapa saudara-saudara ku sangatlah murah hati, mereka sangat peduli pada kami dalam suka maupun duka.
Di antara banjirnya kepedulian itu, terselip cerita-cerita tentang bagaimana saudara dan tetangga mengenang emak. Sudah barang tentu Emak bukan manusia sempurna, namun kebaikan-kebaikan sederhana emak diingat kuat oleh mereka, persona-persona emak yang luput dari pandanganku yang masih dangkal ini. Aku kembali tersentak, ada perasaan yang menusuk kala menyadari, banyak di antara cerita itu yang aku asing mendengarnya. Aku tak di sana saat hal itu terjadi. Aku tak ada untuk mengambil suri tauladan keseharian dari emak yang telah menjadi teman yang baik, tetangga yang peduli dan saudara yang perhatian bagi banyak orang. Anaknya yang sangat suka berpetualang ini melewatkan banyak hari tanpa hari-hari emaknya. Terlalu sedikit curahan hati dan cerita yang ku dengar dari emak tentang hari-harinya saat aku pulang ke rumah ataupun berbicara dengannya melalui telepon. Dua puluh tahun yang ku jalani bersamamu dan dari semua nilai- nilai kehidupan yang telah kau tanamkan di hatiku,  tak ku sangka masih banyak nilai-nilai kehidupan yang belum sempat kau tunjukkan padaku (atau aku saja yang lambar menyadarinya).

*Setelah hari Ke-7 sejak Emak Wafat

Setelah hari ke-7 barulah aku berani bertanya tentang bagaimana kronologi sebelum emak wafat. Kakak dan adik ku pun bercerita. Beliau terkena serangan jantung. Dua bulan terakhir beliau mengeluh sakit di dada. Dokter memberi beliau obat untuk di minum setiap hari. Subuh itu emak mengalami sakit itu lagi dan dengan jalan itulah beliau wafat tepat sebelum di bawa ke rumah sakit.

Hari demi hari bergulir, kami masih menata hati untuk move-on. Lalu kakakku menerima broadcast melalui  media sosial mengenai penyakit jantung. Di sana disebutkan pula gejala yang dialami emak dan dikabarkan bahwa gejala seperti itu dapat diberi pertolongan pertama dengan aspirin, karena merupakan gejala penyumbatan pembuluh darah di jantung yang mana darah mengental dan aspirin dapat membantu karena bersifat mengencerkan darah. 


Hari itu memang sudah 2 hari sejak supply obat Emak habis. Beliau hanya minum ekstrak kulit manggis sebagai gantinya. Bapak dan Kakak telah menawari beliau untuk kembali ke dokter untuk cek kesehatan sekaligus beli obat lagi. Namun beliau menolak karena sudah merasa baikan dan masih ada stock kapsul ekstrak kulit manggis. Kami pun tak memaksa beliau untuk kembali ke dokter. Sudah kurang lebih 7 tahun emak secara rutin harus periksa ke dokter atau menjalani terapi karena terserang stroke pada pertengahan 2007. Meski begitu beliau selalu semangat untuk menjalani pengobatan baik medis, herbal, terapi. Sejak akhir tahun 2013 beliau sudah hampir sepenuhnya pulih dan masih terus mengkonsumsi obat sesuai saran dokter dan juga suplement herbal yang diperbolehkan oleh dokter. Baru 2 bulan sebelum meninggal merasakan gejala sakit jantung itu.

Namun jika dipikir lagi, aku harus bilang bahwa aku kecewa kepada dokter yang menangani Emak. Beliau tidak secara spesifik menjelaskan kepada keluarga kami tentang apa yang dialami emak, obat apa yang iya butuhkan, bagaimana obat itu membantu beliau dan harus bagaimana setelah obat habis dan apa resiko yang mungkin terjadi jika kami tak memahami dan melaksanakan hal itu. 

Hal ini dapat terjadi karena lemahnya controlling system terhadap medical service baik publik maupun swasta oleh pemerintah, kurangnya kepedulian dokter untuk mengeedukasi pasien dan keluarganya terkait situasi medis pasien, masih lemahnya kesadaran pasien dan keluarganya akan hak-hak mereka sebagai customer dari pelayanan medis. Jika di negara seperti Singapura dan Jerman, dokter akan berusaha sekuat tenaga untuk membimbing pasien dan keluarganya membuat informed decision (keputusan yang diambil berdasarkan informasi komprehensif) dengan paling tidak menyediakan pelayanan konsultasi yang sejelas-jelasnya, di Indonesia, kebanyakan dokter bekerja dengan mindset kejar setoran. Apalagi mereka yang buka praktek di kabupaten atau kecamatan, ruang praktek belum dibuka, antrian sudah mengekor, alhasil, waktu untuk konsultasi yang seharusnya menjadi hak pasien dan kewajiban dokter pun dikorbankan. Dokter mengusir pergi pasien secepat mungkin setelah diperiksa dan diberi resep. Pemerintah pun sepertinya lengah untuk mengedukasi masyarakat tentang betapa pentingnya sesi konsultasi ini hingga mungkin dapat menyelamatkan nyawa mereka saat keadaan menjadi darurat.

Sehingga aku ingin menyarankan pada teman-teman yang saat ini sedang merawat keluarga atau sedang mengalami sendiri gejala medis. Jangan ragu untuk 'mengeksploitasi' dokter yang menangani Anda jika hal itu terkait dengan info medis. Memang benar dokter mendapatkan ilmunya dengan biaya yang mahal namun para dokter juga terikat ikrar pelayanan yang sebaik-baiknya pada masyarakat.

Jadi pastikan Anda mendapatkan info sejelas-jelasnya mengenai 

1. Apa penyakit atau gejala medis yang diderita?
2. Mengapa hal itu dapat terjadi dalam tubuh kita? Reaksi atau krisis seperti apa yang terjadi dalam tubuh kita sampai hal itu bisa terjadi?
3. Apa dampak dari gejala medis itu bagi tubuh kita secara umum, spesifik pada organ yang mengalami krisis juga termasuk organ lain yang mungkin secara tak langsung dapat terkena dampak. 
4. Obat apa yang dokter sarankan dalam resep? Apa saja yang terkandung di dalamnya? Bagaimana obat itu bereaksi atau bekerja dalam tubuh hingga ia bisa meredakan gejala medis tadi? Apa efek samping obat itu?
5. Berapa lama atau banyak pasien harus mengkonsumsi obat itu?
6. Apakah harus segera kembali ke dokter jika obat sudah akan habis ataukah cukup meminum satu set resep itu saja dan tak perlu menebus obat lagi?
7. Jika dalam situasi tertentu  kita tak bisa meraih obat namun gejala nya muncul seberapa berbahayanyakah hal itu jika kita tak segera memberikan obat itu? Adakah pertolongan pertama yang dapat dilakukan?

Bagiku ini adalah sebuah kehilangan tapi juga kelegaan karena pastinya Emak sudah berada di tempat yang lebih baik di alam kubur. Kami yakin karena beliau adalah insan yang sabar (seorang istri yang bertahan dan tegar dalam segala keterpurukan, seorang ibu yang walaupun hanya pernah sekolah hingga kelas 2 SD namun mampu dengan penuh kesabaran membesarkan tubuh dan jiwa kami (6 anaknya) dengan nilai-nilai kehidupan yang mungkin professor pun tak dapat menanamkannya dengan baik di jiwa kami).
Bagi kamu, semoga kisah pelayanan medis yang didapat emakku bisa menjadi pengetahuan agar yang membaca post ini tak harus mengalami hal serupa. 


 
*Ribuan kilo jalan yang engkau tempuh
lewati rintangan demi aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan 
Walau telapak kaki penuh darah penuh nanah
Seperti udara kasih yang engkau berikan 
Tak mampu ku membalas..... Ibu
(Iwan Fals)