Saya adalah newbie hiker. Baru Mei tahun 2015 mendapatkan kesempatan untuk naik gunung karena kebaikan kakak angkatan saya saat kuliah yang mau menemani saya mendaki Gunung Lawu untuk pertama kalinya.
Terus terang saya mulai mendaki karena penasaran dengan bagaimana mendaki telah mengubah cara pandang terhadap alam dan hidup pendaki-pendaki yang saya kenal. Di samping itu tentu saja karena saya ngiler melihat foto-foto para pendaki yang sedang muncak. Berdiri di puncak gunung dan disuguhi hamparan awan putih yang bergulung-gulung dia bawah kaki. Belum lagi foto-foto sunrise yang breathtaking. Saya sangat penasaran akan sensasinya jika mengalaminya langsung.
Ngomong-ngomong soal sensasi di puncak gunung. Aku akan berbagi sedikit tentang 3 puncak gunung yang telah ku daki
1. Puncak Lawu- Puncak Hargo Dumilah 3265 mdpl. Mentari sudah timbul di ufuk timur saat aku keluar dari tenda. Warna ungu, jingga, hitam, putih, kuning berbaur menciptakan semburat yang indah. Setelah sedikit peregangan dan melakukan ritual pagi, aku paksa teman mendakiku yang masih malas-malasan di tenda untuk keluar dan bernagkat ke puncak. Ternyata jaraknya dekat sekali. Hanya 1 menit jalan kaki .
Saat sampai di puncak matahari perlahan naik. Aku sangat beruntung karena mendapat kesempatan untuk melihat bayangan segitiga Gunung Lawu di sisi barat gunung. Bayangan yang hanya bisa dinikmati dalam beberapa detik.
Alhamdulillah, langit cerah pagi itu. Namun tak ada gumpalan awan disana. Langit Lawu terlalu bersih. Terlalu biru. Angin bertiup kencang namun sangat sejuk bahkan cenderung dingin. Sedikit kecewa karena tak ada adegan foto di atas awan. Tapi sensasinya luar biasa. Menjadi bagian dari keindahan yang masif seperti itu aku tiba-tiba merasa kecil dan merasa kurang bersyukur atas alam yang dihamparkan Tuhan.
2. Puncak Rajabasa
Rajabasa adalah gunung yang berada disekitar pesisir tenggara Lampung. Tipikal gunung yang berada didekat pantai dan tidak terlalu tinggi -1281 mdpl, udaranya tidak terlalu dingin namun berlimpah angin. Angin kencang terus menyerang tenda kami sejak malam. Sleeping system saya berupa baju dan celana panjang, jaket polar, sleeping bag dan sleeping pad klymit tiba-tiba terasa berlebihan.
Kira-kira pukul 5.00 pagi saya keluar dari tenda karena rasanya sudah sangat cukup tidur dan tak ingin melewatkan moment sunrise. Setelah sholat subuh saya fokus mengamati sekitar. Angin terus berhembus kencang namun tidak membawa hawa dingin. Cuaca agak mendung di sebelah timur sehingga sinar matahari yang mulai muncul tidak bisa menembus gumpalan awan kelabu di depan kami. Hanya sedikit semburata jingga yang menjadi penanda di sanalah matahari berada. Lagi-lagi saya tidak bisa menikmati romantisme ngopi di atas awan.
Namun lain ceritanya dengan sisi barat daya Gunung Rajabasa. Laut menghampar luas. Di pinggirnya terlihat kelap- kelip lampu dari perkampungan penduduk di bawah kami. Garis pantai perlahan terlihat jelas dan menyajikan sensasi tersendiri karena saya dapat menikmati 2 lanskap favorit saya sekaligus - laut dan gunung.
3. Puncak Gede 2958 mdpl - Happy banget sama ketua pendakian kali ini. Pukul 04.30 kami sudah dibangunkan karena sudah dijadwalkan untuk sunrise catching. Dari pendakian sebelumnya saya sudah belajar untuk tak banyak berharap akan langit yang cerah atau berdiri di atas kumpulan awan. Saya memustuskan untuk summit karena ingin menginjakkan kaki di Puncak Gede.
Memulai perjalanan summit Pukul 5.20 ternyata udara masih cukup dingin. Kami semua memakai warm system lengkap dan tak lupa headlamp untuk penerang jalur karena hari masih gelap. Jarang berada diketinggian sekitar 3000mdpl bikin nafasku dan beberapa teman pendakian lainnya engap-engapan. Alhasil kita sering break untuk atur nafas.
Di tengah perjalanan ternyata matahari sudah mulai terbit. Kami terpaksa menikmatinya dengan mencuri pandang dari sela-sela pohon yang sudah mulai jarang karena sudah dekat puncak.
Akhirnya setelah 40 menit kami sampai di puncak dan benar saja, langit mendung pagi itu. Kami tidak bisa menemukan semburat jingga atau pun mentari pagi yang mulai menguning. Namun sudah sampai di Puncak Gede saja sudah memenuhi dadaku dengan keharuan- finally another summit with beloved hikingmates.
Kaharuan lain memenuhi dada, memandang Gunung Pangrango dari Puncak Gede terasa sangat nostalgic. Teringat perjuangan saat mendaki Pangrango beberapa bulan sebelumnya. Dari Kandang Badak ke Puncak menjadi jalur terberat yang pernah ku daki waktu itu. Salah perkiraan waktu, kami terpaksa harus terus melaju walaupun hari sudah petang. Tak ada tempat camp di jalur. Dalam keadaan lapar, lelah dan diguyur hujan kami mencoba mengerahkan sisa-sisa tenaga untuk menghadapi jalur 3D yang tak habis-habis. Keadaan itu sangat menguras emosi, saya tahu benar saat itu saya sangat gusar. Namun saya sangat beruntung karena hiking mates saya waktu itu sangat pengertian dan sabar menghadapi saya yang sudah sangat cranky. Pukul 7.30 kami baru sampai di puncak dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Mandalawangi untuk camp.
Itulah mengapa memandang Pangrango dari Gede menjadi sangat nostalgic buat saya saat itu. Saya dan hiking mates saya (yang juga hiking mate di Pangrango) tiba-tiba excited untuk lebih fokus memandangi Pangrango. Tersenyum manis pada kenangan yang telah kami lalui di sana dan melupakan kekecewaan karena mendung yang menggulung di langit Gede.
Saat itu Pangrango terlihat sangat gagah. Ada suatu kengerian yang sulit dijelaskan di sana dan aku bersyukur Pangrango sudah sangat baik padaku saat itu.
Gerimis sempat mampir di Puncak Gede. Namun kami urung turun karena langit mulai cerah saat kami bersiap turun. Di sebelah kiri Puncak Gede, awan putih dan langit biru mulai terhampar. Mentari pun mulai menunjukkan teriknya di timur sana. Saya kembali dihadapkan pada keindahan masif yang membuat saya merasa sangat kecil dihadapan hamparan keindahan ciptaan Tuhan ini. Tiba- tiba semua ini membawa saya pada kesadaran bahwa Tuhan Maha Baik karena telah menciptakan kemewahan gunung - gunung yang untuk menikmatinya kamu tidak harus jadi milyader. Yang harus kamu miliki adalah tubuh yang sehat untuk bisa mendaki dan termasuk sepasang mata untuk menikmati kemewahan itu. Dan Tuhan telah memberikannya padamu sejak kamu lahir. Yes all you need to enjoy those luxurious beauty is already there since you were born. Gede terima kasih telah mengizinkan kami menginjakkan kamki di puncakmu untuk melihat keindahan yang mewah ini.
Puncak-puncak gunung yang kudaki terus menghadirkan sensasi-sensasi yang khas. Tak melulu melalui gumpalan awan putih dan langit yang indah. Kadang melalui perjuangan untuk mendakinya, cerita yang dibagi oleh dan bersama teman-teman pendakian, maupun beraneka lanskap menakjubkan yang rasanya terlalu sederhana jika dikerucutkan menjadi gumpalan awan dan langit biru.
Lalu biarlah aku menasehati diriku sendiri terkait ini - *Saat kau memutuskan untuk mendaki lagi, biarkan alam memutuskan dengan cara apa ia akan menyapamu kali ini*
RSS Feed
Twitter
02:10
rollerrelic









0 comments:
Post a Comment