Thursday, 26 June 2014

Cantik siapa tak ingin menjadi cantik. Mendapat predikat cantik, orang akan lebih mudah menerima Anda, mudah dapat pacar dan juga punya kesempatan selingkuh lebih banyak karena mudah dilirik. [Tak perlu repot-repot menyangkal walupun ada orang seperti Anda yang berusaha untuk tidak menjadikan kecantikan sebagai landasan interaksi sosial, nyatanya orang yang melakukan itu masihlah menjadi mayoritas]. Persyaratan fisik dalam mencari kerja seperti kulit bersih, tinggi minimal 160, dan berpenampilan menarik, pun biasanya secara alamiah terpenuhi.

Lalu apa arti cantik buat saya. Banyak orang bilang kamu akan cantik kalau kamu bangga atas diri kamu apa adanya. [Siapa yang percaya sebaris kalimat ini?] Terus terang saya tidak sepenuhnya percaya. Saya percaya menerima diri apa adanya menjadi salah satu faktor pendukung kecantikan Anda. Namun dibalik semua itu saya percaya cantik membutuhkan usaha, usaha yang sangat berat namun juga manis jika kita dapat menjalaninya. Jadi bagi saya cantik adalah sebuah perjalanan [tiada akhir] untuk menerima diri apa adanya, untuk menjaga prinsip kita sebaik-baiknya, untuk sehat selama nafas masih terhela.


Lalu seperti apakah saya. [Alhamdulillah] Saya wanita setinggi 165 cm [Tinggi saya berubah-ubah setiap kali saya ukur, antara 163-167cm, jadi mari ambil tengahnya saja]. Berat badan saya berkisar antara 52-58 kg [Yes, I am slender], Pipi chubby seperti tokoh Anna di Frozen [*wink], berjerawat karena faktor gen, hidung pesek khas suku Jawa, bulu mata tak lentik cenderung pendek alis tak teratur, bibir simply g lebay, gigi tak terlalu rapi, mata normal berwarna coklat [sipit saat ketawa atau senyum] dan tiara saya keriting dan berketombe. Tak perlu terlalu ngoyo dibayangkan, tak banyak memang yang bilang saya cantik, hanya diri saya, orang tua, mantan pacar dan orang-orang yang pernah ikhtiar untuk mendapatkan status sebagai pacar saya.

Namun saya sendiri sadar bahwa saya cantik. Pada kenyataannya sangat sulit untuk mencapai kesimpulan ini. Namun biarkan saya menuangkan perjalanan saya menjadi cantik dalam post pertama saya ini. Harus saya akui, cukup lama saya menimbang hal apa yang akan saya tulis pada post pertama saya. banyak topik yang telah saya dapatkan, namun perasaan berbeda saya alami saat saya mendapatkan topik ini, tiba-tiba saya merasa sangat percayya diri bahwa saya harus menjadikan topik ini sebagai postingan pertama saya. Mungkin ini yang disebut omen.

Lalu bagaimana perjalanan saya menjadi cantik.  Pada postingan pertama ini saya akan menceritakan perjalanan saya bergulat dengan keadaan fisik saya sendiri hingga akhirnya saya dapat melaksanakan perjalanan itu dengan lebih tenang dan mendapatkan unsur pertama dalam perjalanan saya menjadi cantik 

"Menerima Diri Apa Adanya"

Saat kecil saya sangat percaya bahwa diri saya cantik. Mengapa begitu? Karena orang tua saya bilang saya cantik. Selayaknya anak- anak, tentu saja saya percaya orang tua saya 100%. Saya terus percaya hal itu hingga mereka sudah tak pernah mengatakan hal itu lagi. Saya pun mulai lupa bahwa saya cantik dan mulai bertanya-tanya tentang kebenarannya. Ditambah lagi, kepercayaan saya akan hal itu semakin memudar saat sebuah tragedi terjadi pada gi gi saya.

Tentang gigi bertragedi itu. Saat masih SD, gigi taring saya putus dan gigi barunya tak tumbuh sempurna. Gigi taring baru tumbuh miring menjorok ke dalam sebelah kanan sedangkan sebelah kirinya terdorong ke kiri karena taring lama yang akan tergantikan itu tak jua tanggal saat taring baru saya tumbuh. Akibatnya, gigi-gigi tersebut membuat lubang yang cukup besar setelah taring yang akan putus itu meninggalkan mereka dalam kondisi yang tak lagi berdampingan, tercerai karena bujukan sanak saudara yang bilang semuanya akan baik-baik saja saat si taring itu tak jua menanggalkan statusnya sebagai penghuni gusiku.

Akibat selanjutnya, setiap kali saya senyum orang-orang tak bisa sepenuhnya menikmati senyum saya dan justru terpukau dengan deretan gigi saya yang tampak ompong. Ekspresi mereka macam-macam, ada yang kaget, mengernyit tanda tak suka, mengernyit karena merasa itu aneh, menahan ketawa karena mengira saya ompong atau frontal dan bertanya apa yang terjadi pada gigi saya itu. Perlu saya kabarkan, saya orang yang cukup sensitif, saya dapat membaca ekspresi orang baik yang kentara ataupun yang tersembunyi. Dan saya harus mengatakan bahwa saya dapat membaca, selama masa itu, semua orang bersikap negatif atas kenyataan yang terjadi pada gigi saya. Lubang itu, menutup peluang saya  masuk kategori orang cantik.

Saya pun tak mengira, bahwa pandangan itu membuat saya kehilangan rasa percaya diri saya, ditambah lagi saya mulai puber dan mulai tumbuh jerawat di wajah saya. Rambutku entah mengapa sudah tak lurus lagi, ia telah menjelma menjadi keriting. Lebih parahnya lagi pada masa itu tak ada yang mengatakan pada saya teori, menerima diri apa adanya. Standar kecantikan yang saya anut pun mengikuti lingkungan saya. Dan sudah tentu saya, tak tergolong mereka yang cantik. Saya menjadi tak percaya diri jika harus tersenyum, saya jadi tak terlalu suka senyum, kalaupun saya senyum tangan saya pun saya latih untuk menutupi senyum itu sehingga orang tak melihat lubang itu dan tak punya alasan untuk menunjukkan ekspresi jijik mereka. Orang-orang pun tak pernah bisa sepenuhnya melihat senyuman saya [hanya mata sipit dan pipi tembem itu yang dapat mereka lihat].

Saya tak terlalu ingat kapan saya mulai menyerah dan meninggalkan aksi petak umpet antara senyum dan lubang ini, membiarkan orang melihat senyum saya dan pasrah untuk menjelaskan saat orang bertanya. Mungkin saya ingat beberapa penyebabnya. Mungkin karena saya tak yakin dengan ingatan saya.
Wah sudah lumayan banyak, semoga tetap tertarik baca kelanjutannya. Terus terang tadi saya berhenti menulis dulu untuk mencari akun Facebook orang yang akan saya ceritakan di paragraf selanjutnya. Siapa dia, ayo ikuti kisahnya.
Yang pertama saya rasa karena pacar pertama saya (yang sampai tulisan ini saya tulis masih menjadi mantan pacar pertama dan terakhir saya) selalu mengatakan bahwa saya cantik. Dia suka marah kalau saya tutup mulut pas saya senyum. Katanya dia tidak bisa lihat senyum saya. Tidak sering tapi saya ingat betul ada suatu moment saat saya tanya mengapa dia suka saya, salah satu jawabannya adalah karena senyum saya manis, selain saya, tidak ada orang yang punya senyum seperti ini.  Tentu saja saya selalu mengatakan padanya itu gombal dan sepenuhnya percaya bahwa itu gombal walaupun dalam hati senang dan tersipu juga. Ya saya rasa itu salah satu awal mulanya saya punya dorongan untuk percaya diri lagi.

Setelah masa itu saya kenal beberapa orang yang setahu saya berikhtiar untuk jadi pacar saya. Mereka bilang hal yang sama, “Senyum saya manis”. Ah, dasar laki-laki semuanya tukang gombal ulung. Namun setelah aku pikir lagi, ada untungnya pula mereka begitu. Kata-kata positif seperti itu apalagi jika diucapkan dengan tulus [keadaan sadar di mana kekurangan itu memng ada namun kekurangan itu justru dikagumi dengan sepenuh hati] akan dapat menggugah rasa percaya diri seseorang. Menciptakan wacana tandingan akan opini negatif yang berkembang di sekitarnya, apalagi jika orang tersebut orang yang dipercaya [bukannya saya menyarankan pacaran, saya tahu cari pacar itu tak selalu mudah, ada juga yang tak mau pacaran, tapi memiliki teman yang jujur memberi pendapat serta supportif sepenuhnya apapun keadaan Anda menjadi cukup. Tanyakan saja secara blak-blakan hal-hal yang merisaukan Anda dan konfirmasi padanya apakah kerisauaan Anda tersebut benar-benar perlu, jangan-jangan Anda hanya termakan pikiran mereka yang tak terlalu mengenal Anda].

Begitu kisahnya, ngomong-ngomong akun facebooknya tak ketemu. Salahnya saya hanya mampu mengingat nama panggilannya, dan itu berarti mencari jarum ditumpukan jerami.

Dorongan positif itu didukung oleh kebiasaan baru saya saat itu yang mulai suka membaca buku pengembangan diri dan motivasi. Di sana saya mendapati banyak seruan mengenai mencintai diri sendiri dan menerima kekurangan diri untuk bisa fokus pada kekuatan diri. Hal ini memberi saya pemahaman yang lebih terkait kecantikan, saya sudah mulai bisa menepis standar kecantikan yang saya serap dari lingkungan dan mencoba mengubur kecaman saya pada gigi taring saya.

Situasi ini kemudian dimantapkan dengan kebiasaan baru saya menonton Oprah Show saat ada kesempatan. Menonton dan mendengar perbincangannya di talkshow saya mulai terhipnotis. Wanita ini jauh sekali dari standar kecantikan yang banyak beredar, namun dia luar biasa cantik dan kata-katanya tentang betapa setiap individu cantik dan harus mencintai dirinya apa adannya telah menggerakkan jiwa saya.

Semua itu terakumulasi dalam diri saya sehingga saya mulai membuang kebiasaan saya menutup mulut saya dengan tangan saat tersenyum. Saya membiarkannya terlihat oleh lawan bicara saya. Saat mereka bereaksi, saya pura-pura tak tahu, tak berubah dan tetap tersenyum menunjukkan rasa percaya diri saya. Beberapa lama masih banyak yang mengeluarkan ekspresi negatif. Lama kelamaan banyak yang hanya penasaran saja namun butuh waktu lama untuk berani bertanya bertanya apa yang terjadi dengan gigi saya. Saya pun mencoba menjelaskan dan menutupnya dengan kalimat, “masa sih kamu baru tahu, ini udah lama kok, berarti selama ini tidak pernah perhatian sama aku”. Seringkali mereka tersipu.

Kini, saya tak lagi memikirkan taring ini. Boleh dibilang saya  lupa, hanya ingat saat ada adik sepupu atau keponakan yang masih di bawah 7 tahun bertanya pada saya, “ hiii tante/ mbak ompong, kenapa tuh tante/mbak? Banyak makan permen yaaaaa?” [saya pun dengan santai menjelaskan apa yang terjadi. Kini saya tersenyum lepas tanpa beban [mata tetap sipit, pipi tetap tembem]. Kini bahkan hanya 1-2 orang saja yang menyadari ada lubang itu di sana, tak ada pandangan negatif itu lagi dan pertanyaan orang-orang pun saya rasakan karena pure penasaran saja atas apa yang terjadi.

Ternyata benar, seringkali saat Anda sendiri tak mempermasalahkan sesuatu itu, masalah itu dengan sendirinya tak akan muncul.


Kini diusia yang sudah tak ABG lagi, saya belum punya dana untuk merapikan gigi, jerawat masih selalu muncul diwajah, dan rambutpun masih keriting berketombe. Namun saya sudah tahu obatnya. Saya merawat badan saya sebaik yang saya bisa. Saya menggosok gigi 2 kali sehari dan mencuci rambut 2 hari sekali. Saat jerawat muncul saya  tak biarkannya merusak rasa percaya diri saya. saya berkata, “iya nih, jerawat mau apalagi, memang ibu, bapak, kakak dan adik semua punya sejarah jerawat”.   Saya tak mempermasalahkannya. Saya tak mengecam keberadannnya. Saya menerima diri saya apa adanya dan perjalanan menjadi cantik saya pun menjadi lebih ringan, karena unsur ini tak lagi menjadi beban.  

Sampai jumpa pada kisah "Perjalanan Saya Menjadi Cantik" Bagian 2. [*Wink]

1 comment:

  1. thank you for sharing....nice to meet you Nurul Djanah :)

    ReplyDelete