Cantik siapa tak ingin
menjadi cantik. Mendapat predikat cantik, orang akan lebih mudah menerima Anda,
mudah dapat pacar dan juga punya kesempatan selingkuh lebih banyak karena mudah
dilirik. [Tak perlu repot-repot menyangkal walupun ada orang seperti Anda yang
berusaha untuk tidak menjadikan kecantikan sebagai landasan interaksi sosial,
nyatanya orang yang melakukan itu masihlah menjadi mayoritas]. Persyaratan fisik
dalam mencari kerja seperti kulit bersih, tinggi minimal 160, dan berpenampilan
menarik, pun biasanya secara alamiah terpenuhi.
Lalu apa arti cantik buat
saya. Banyak orang bilang kamu akan cantik kalau kamu bangga atas diri kamu apa
adanya. [Siapa yang percaya sebaris kalimat ini?] Terus terang saya tidak
sepenuhnya percaya. Saya percaya menerima diri apa adanya menjadi salah satu
faktor pendukung kecantikan Anda. Namun dibalik semua itu saya percaya
cantik membutuhkan usaha, usaha yang sangat berat namun juga manis jika kita
dapat menjalaninya. Jadi bagi saya cantik adalah sebuah perjalanan [tiada
akhir] untuk menerima diri apa adanya, untuk menjaga prinsip kita
sebaik-baiknya, untuk sehat selama nafas masih terhela.
Lalu seperti apakah saya.
[Alhamdulillah] Saya wanita setinggi 165 cm [Tinggi saya berubah-ubah setiap
kali saya ukur, antara 163-167cm, jadi mari ambil tengahnya saja]. Berat badan
saya berkisar antara 52-58 kg [Yes, I am slender], Pipi chubby seperti tokoh Anna di Frozen [*wink], berjerawat karena faktor gen, hidung pesek khas
suku Jawa, bulu mata tak lentik cenderung pendek alis tak teratur, bibir simply g lebay, gigi tak terlalu rapi,
mata normal berwarna coklat [sipit saat ketawa atau senyum] dan tiara saya
keriting dan berketombe. Tak perlu terlalu ngoyo
dibayangkan, tak banyak memang yang bilang saya cantik, hanya diri saya, orang
tua, mantan pacar dan orang-orang yang pernah ikhtiar untuk mendapatkan status
sebagai pacar saya.
Namun saya sendiri sadar
bahwa saya cantik. Pada kenyataannya sangat sulit untuk mencapai kesimpulan
ini. Namun biarkan saya menuangkan perjalanan saya menjadi cantik dalam post pertama
saya ini. Harus saya akui, cukup lama saya menimbang hal apa yang akan saya
tulis pada post pertama saya. banyak topik yang telah saya dapatkan, namun
perasaan berbeda saya alami saat saya mendapatkan topik ini, tiba-tiba saya
merasa sangat percayya diri bahwa saya harus menjadikan topik ini sebagai
postingan pertama saya. Mungkin ini yang disebut omen.
Lalu bagaimana perjalanan
saya menjadi cantik. Pada postingan
pertama ini saya akan menceritakan perjalanan saya bergulat dengan keadaan
fisik saya sendiri hingga akhirnya saya dapat melaksanakan perjalanan itu
dengan lebih tenang dan mendapatkan unsur pertama dalam perjalanan saya
menjadi cantik
"Menerima Diri Apa Adanya"
Saat kecil saya sangat
percaya bahwa diri saya cantik. Mengapa begitu? Karena orang tua saya bilang
saya cantik. Selayaknya anak- anak, tentu saja saya percaya orang tua saya 100%.
Saya terus percaya hal itu hingga mereka sudah tak pernah mengatakan hal itu
lagi. Saya pun mulai lupa bahwa saya cantik dan mulai bertanya-tanya tentang kebenarannya.
Ditambah lagi, kepercayaan saya akan hal itu semakin memudar saat sebuah
tragedi terjadi pada gi gi saya.
Tentang gigi bertragedi
itu. Saat masih SD, gigi taring saya putus dan gigi barunya tak tumbuh
sempurna. Gigi taring baru tumbuh miring menjorok ke dalam sebelah kanan
sedangkan sebelah kirinya terdorong ke kiri karena taring lama yang akan tergantikan
itu tak jua tanggal saat taring baru saya tumbuh. Akibatnya, gigi-gigi tersebut
membuat lubang yang cukup besar setelah taring yang akan putus itu meninggalkan
mereka dalam kondisi yang tak lagi berdampingan, tercerai karena bujukan sanak
saudara yang bilang semuanya akan baik-baik saja saat si taring itu tak jua
menanggalkan statusnya sebagai penghuni gusiku.
Akibat selanjutnya,
setiap kali saya senyum orang-orang tak bisa sepenuhnya menikmati senyum saya
dan justru terpukau dengan deretan gigi saya yang tampak ompong. Ekspresi
mereka macam-macam, ada yang kaget, mengernyit tanda tak suka, mengernyit
karena merasa itu aneh, menahan ketawa karena mengira saya ompong atau frontal
dan bertanya apa yang terjadi pada gigi saya itu. Perlu saya kabarkan, saya orang
yang cukup sensitif, saya dapat membaca ekspresi orang baik yang kentara
ataupun yang tersembunyi. Dan saya harus mengatakan bahwa saya dapat membaca, selama
masa itu, semua orang bersikap negatif atas kenyataan yang terjadi pada gigi
saya. Lubang itu, menutup peluang saya masuk
kategori orang cantik.
Saya pun tak mengira,
bahwa pandangan itu membuat saya kehilangan rasa percaya diri saya, ditambah lagi
saya mulai puber dan mulai tumbuh jerawat di wajah saya. Rambutku entah mengapa
sudah tak lurus lagi, ia telah menjelma menjadi keriting. Lebih parahnya lagi
pada masa itu tak ada yang mengatakan pada saya teori, menerima diri apa
adanya. Standar kecantikan yang saya anut pun mengikuti lingkungan saya. Dan
sudah tentu saya, tak tergolong mereka yang cantik. Saya menjadi tak percaya
diri jika harus tersenyum, saya jadi tak terlalu suka senyum, kalaupun saya
senyum tangan saya pun saya latih untuk menutupi senyum itu sehingga orang tak
melihat lubang itu dan tak punya alasan untuk menunjukkan ekspresi jijik
mereka. Orang-orang pun tak pernah bisa sepenuhnya melihat senyuman saya [hanya
mata sipit dan pipi tembem itu yang dapat mereka lihat].
Saya tak terlalu ingat
kapan saya mulai menyerah dan meninggalkan aksi petak umpet antara senyum dan
lubang ini, membiarkan orang melihat senyum saya dan pasrah untuk menjelaskan
saat orang bertanya. Mungkin saya ingat beberapa penyebabnya. Mungkin karena
saya tak yakin dengan ingatan saya.
Wah sudah lumayan banyak,
semoga tetap tertarik baca kelanjutannya. Terus terang tadi saya berhenti
menulis dulu untuk mencari akun Facebook orang yang akan saya ceritakan di
paragraf selanjutnya. Siapa dia, ayo ikuti kisahnya.
Yang pertama saya rasa karena
pacar pertama saya (yang sampai tulisan ini saya tulis masih menjadi mantan pacar pertama dan terakhir saya) selalu mengatakan bahwa saya cantik. Dia suka marah kalau saya
tutup mulut pas saya senyum. Katanya dia tidak bisa lihat senyum saya. Tidak
sering tapi saya ingat betul ada suatu moment saat saya tanya mengapa dia suka
saya, salah satu jawabannya adalah karena senyum saya manis, selain saya, tidak
ada orang yang punya senyum seperti ini. Tentu saja saya selalu mengatakan padanya itu
gombal dan sepenuhnya percaya bahwa itu gombal walaupun dalam hati senang dan
tersipu juga. Ya saya rasa itu salah satu awal mulanya saya punya dorongan
untuk percaya diri lagi.
Setelah masa itu saya
kenal beberapa orang yang setahu saya berikhtiar untuk jadi pacar saya. Mereka
bilang hal yang sama, “Senyum saya manis”. Ah, dasar laki-laki semuanya tukang
gombal ulung. Namun setelah aku pikir lagi, ada untungnya pula mereka begitu. Kata-kata
positif seperti itu apalagi jika diucapkan dengan tulus [keadaan sadar di mana
kekurangan itu memng ada namun kekurangan itu justru dikagumi dengan sepenuh
hati] akan dapat menggugah rasa percaya diri seseorang. Menciptakan wacana
tandingan akan opini negatif yang berkembang di sekitarnya, apalagi jika orang
tersebut orang yang dipercaya [bukannya saya menyarankan pacaran, saya tahu
cari pacar itu tak selalu mudah, ada juga yang tak mau pacaran, tapi memiliki
teman yang jujur memberi pendapat serta supportif sepenuhnya apapun keadaan
Anda menjadi cukup. Tanyakan saja secara blak-blakan hal-hal yang merisaukan
Anda dan konfirmasi padanya apakah kerisauaan Anda tersebut benar-benar perlu,
jangan-jangan Anda hanya termakan pikiran mereka yang tak terlalu mengenal
Anda].
Begitu kisahnya,
ngomong-ngomong akun facebooknya tak ketemu. Salahnya saya hanya mampu
mengingat nama panggilannya, dan itu berarti mencari jarum ditumpukan jerami.
Dorongan positif itu
didukung oleh kebiasaan baru saya saat itu yang mulai suka membaca buku
pengembangan diri dan motivasi. Di sana saya mendapati banyak seruan mengenai
mencintai diri sendiri dan menerima kekurangan diri untuk bisa fokus pada
kekuatan diri. Hal ini memberi saya pemahaman yang lebih terkait kecantikan,
saya sudah mulai bisa menepis standar kecantikan yang saya serap dari lingkungan
dan mencoba mengubur kecaman saya pada gigi taring saya.
Situasi ini kemudian
dimantapkan dengan kebiasaan baru saya menonton Oprah Show saat ada kesempatan.
Menonton dan mendengar perbincangannya di talkshow saya mulai terhipnotis. Wanita
ini jauh sekali dari standar kecantikan yang banyak beredar, namun dia luar
biasa cantik dan kata-katanya tentang betapa setiap individu cantik dan harus
mencintai dirinya apa adannya telah menggerakkan jiwa saya.
Semua itu terakumulasi
dalam diri saya sehingga saya mulai membuang kebiasaan saya menutup mulut saya
dengan tangan saat tersenyum. Saya membiarkannya terlihat oleh lawan bicara
saya. Saat mereka bereaksi, saya pura-pura tak tahu, tak berubah dan tetap
tersenyum menunjukkan rasa percaya diri saya. Beberapa lama masih banyak yang
mengeluarkan ekspresi negatif. Lama kelamaan banyak yang hanya penasaran saja namun
butuh waktu lama untuk berani bertanya bertanya apa yang terjadi dengan gigi
saya. Saya pun mencoba menjelaskan dan menutupnya dengan kalimat, “masa sih
kamu baru tahu, ini udah lama kok, berarti selama ini tidak pernah perhatian
sama aku”. Seringkali mereka tersipu.
Kini, saya tak lagi
memikirkan taring ini. Boleh dibilang saya lupa, hanya ingat saat ada adik sepupu atau
keponakan yang masih di bawah 7 tahun bertanya pada saya, “ hiii tante/ mbak
ompong, kenapa tuh tante/mbak? Banyak makan permen yaaaaa?” [saya pun dengan
santai menjelaskan apa yang terjadi. Kini saya tersenyum lepas tanpa beban
[mata tetap sipit, pipi tetap tembem]. Kini bahkan hanya 1-2 orang saja yang
menyadari ada lubang itu di sana, tak ada pandangan negatif itu lagi dan
pertanyaan orang-orang pun saya rasakan karena pure penasaran saja atas apa yang terjadi.
Ternyata benar,
seringkali saat Anda sendiri tak mempermasalahkan sesuatu itu, masalah itu
dengan sendirinya tak akan muncul.
Kini diusia yang sudah
tak ABG lagi, saya belum punya dana untuk merapikan gigi, jerawat masih selalu muncul diwajah, dan rambutpun masih keriting berketombe. Namun saya sudah tahu
obatnya. Saya merawat badan saya sebaik yang saya bisa. Saya menggosok gigi 2 kali sehari dan mencuci rambut 2 hari sekali. Saat jerawat muncul
saya tak biarkannya merusak rasa percaya
diri saya. saya berkata, “iya nih, jerawat mau apalagi, memang ibu, bapak,
kakak dan adik semua punya sejarah jerawat”. Saya tak
mempermasalahkannya. Saya tak mengecam keberadannnya. Saya menerima diri saya
apa adanya dan perjalanan menjadi cantik saya pun menjadi lebih ringan, karena
unsur ini tak lagi menjadi beban.
Sampai jumpa pada kisah "Perjalanan Saya Menjadi Cantik" Bagian 2. [*Wink]
RSS Feed
Twitter
10:50
rollerrelic


Posted in
thank you for sharing....nice to meet you Nurul Djanah :)
ReplyDelete