Tuesday, 9 June 2015

Akhir- akhir ini aku merasa sangat labil, terlalu banyak berfikir dan bertanya bahkan cenderung was- was. Aku ingat diriku duku tak begitu. Aku dulu seperti tahu sekali apa yang ku mau dan apa yang benar. Mungkin karena dulu aku jauh lebih sedikit tahu dari sekarang, mungkin juga karena dulu aku terlalu naive. Memandang hidup dengan kacamata sederhana. Kacamata hitam putih.

Mungkin ini rasanya jadi dewasa. Hidup serasa penuh tantangan. Jika dulu aku dapat memprediksi apa yang akan aku hadapi esok hari, bahwa rasa hidup tak akan jauh beda dari hari ini dan aku merasa baik- baik saja akan hal itu. Kini aku khawatir tentang bagaimana ini, bagaimana itu dan seterusnya. Kadang aku merasa takut saat memikirkan hari esok akan sama dengan hari kemarin. Aku terlalu takut jika langkah yang ku ambil adalah kemunduran dan bukan langkah maju yang dapat membawaku selangkah lebih dekat dengan mimpiku.



Lalu ngomong- ngomong tentang mimpi. Apakah bermimpi memang seaneh ini rasanya. Kamu seperti mengejar sesuatu yang tak tampak dengan beban di pundakmu yang amat  berat karena puluhan to-do list yang harus kamu lakukan dengan tekun dan berkesinambungan. Satu- satunya cara untuuk memindahkan beban itu menjadi investasi tak kasat mata adalah dengan melakukan semua  to-do list itu sehingga ia berubah menjadi proses pembelajaran yang membuatmu menjadi lebih mumpuni dari sebelumnya.

Namun pengejaran seperti tak pernah berakhir. To-do list yang satu hanya akan membawamu kepada deretan to-do list baru. Pengetahuan yang baru semakin membuatmu merasa kecil dan tak tahu apa- apa, bahwa sepuluh tetes pengetahuan lainnyalah yang kamu butuhkan setelah meneguk setetes pengetahuan. Lalu badan dan pikiranmu mulai berontak. "Masa bodoh" katanya, "kamu masih punya hari esok. Sekarang waktunya beristirahat dan ingat kamu masih punya satu session serial untuk ditonton." Seringkali aku kalah dalam pertempuran seperti ini, berakhir dengan penyesalan karena aku tak bergerak dari titik pengejaranku kemarin. masih di sini ribuan mil dari mimpi- mimpi yang ku.

Aku adalah seorang pemimpi. Aku selalu sadar itu. Aku pun pernah merasakah pahit manisnya meraih mimpi yang rasanya mustahil dengan semua tambahan pencapaian yang aku tak pernah minta sebelumnya. Aku biarkan diriku bergelimang kesepian hanya agar pengejaran mimpiku terus menjadi mungkin. Aku pernah mengabaikan waktu agar raga dan pikiranku dapat melaju ke mimpiku dengan lebih cepat. Lalu apa yang membedakannya...Baik dalam mimpiku yang ini dan yang telah tercapai, aku sama- sama dapat mecium manisnya pencapaian, melihat indahnya senyum kelegaan dan menerawang bertambah luasnya kesempatan. Namun mengapa dorongan pencapaian ini tak setinggi dulu.
Apakah memang aku sudah lelah? Namun itu adalah alasan, sedangkan pemimpi tak suka beralasan. Ataukah ini bukan mimpi sejatiku sehingga raga dan jiwaku tak mau berjuang selayaknya para pemimpi. Mungkin aku butuh bantuanmu untuk menjawabnya, atau aku sebenarnya tahu jawabanya? Ah... semakin linglung diri ini rasanya.


Lalu ku baca lagi tulisanku hari ini. Tiba- tiba aku merasa bodoh dan abstrak. (-;

Aku berharap. dalam setiap langkahku, Alloh memberi petunjuk, keridoan dan ilmu yang bermanfaat.

Wednesday, 4 February 2015

Patriarchy is an old story in Indonesia family but does not mean it has left its society. The emancipation discourse has continuously spread but for me myself I am not sure whether majority of women are struggling on it for themselves and their daughters, or human - no matter their sexuality, are always a selfish creature with a high tendency of prioritizing pleasure over dignity. In a patriarchal society like Indonesia, you may easily find women who are submissive to men (yes, plural) and easily  be destroyed by the game the men play. In this post, let's talk about a woman that I recently met. She has married for the 3rd time this January. 
In short, right a week before her 3rd married, one of her friend (has known her quiet awhile) reminded her about her divorce decree with her first husband. She, until now, does not hold the court decree. She was divorced through verbal statement and a divorce letter from her husband.  It is still a mystery how the local department can issue her marriage certificate with the 2nd husband although she does not have the divorce decree back then. She further explained that her 1st ex-husband allowed her to marry the second husband if she agreed to sign an agreement. This agreement stated that one day she will give up their only child to his custody. 


Her friend reminded her to settle all the things first; get official divorce decree from the first husband and win child custody at court. At the first time she was sure enough that she wanted to do all that, but she then started making excuses later in the discussion. At the end, she stuck on her plan, marrying the 3rd guy without doing any of her friend advice.


Question crossed my mind.

- Why is she doing this? Married and divorce without really concerning legality. 
- Isn't it bad if later her husband take her son? Is she love her son or not?
- What is in her mind? is it because she just cannot control her desire to have a new husband?
- Is it simply because she does not want to take this seriously because she has ever get away from this once?
- Or she keeps a secret that makes her must marry the 3rd guy soon?

And... I also ask myself 
Why am I so care about this?
Why is it so bothering me?
Is it because I concern about her?
or is it because I am too aware of woman emancipation and translate her decision as a setback that I can hardly accept?

Then, I think I just have to let it go and be happy for her for having a new family and start a new life. That's what friend are for. 

But if I may share my perspective, I would say
1. Women is complex. In our society, women must have strong reluctance. When woman has make a decision related to somebody else, especially that involved the family, the woman will be so reluctant to chance it especially if the family is happy about the choice. So in this case, after the whole family was there in her engagement day, and knowing when the procession will be conducted, the woman will not have a heart to even propose a delay of the wedding day to take care of the legal documents. 

2. The women is not in the capacity of worrying what I worried. Maybe she know less, hence she worry less. She know the definition of emancipation but she is going to work for money and never think of emancipation. It seems to me she never think of women's right, children's right or how cruel a human being is one day till it can take her son from her. The woman was under a believe that life will simply be good enough when there is a husband beside her, no matter what kind of problem it can bring to her life. 

I do want to say that it is because of her ego. But  education must also put a hand on this. Here in our society, if you only went to school up to senior high school, you would be thought as if right is like a wish list of tertiary stuff for yourself. Do not need to understand why you need that, get it if you can or just forget if you cannot. Most of the time it is treated merely as exam material, not an important discourse that is should be address seriously. The result? You know a few of your right and do not even ever think of "how to get it or when I can say that my right is violated?". It is worsen by the fact that she lives in patriarchal society where the people believe women should be submissive to men. That your social status is defined by standard like "whether or not you have husband", then, (if yes), who your husband is, where he works, or how much wealth he posses.



And like most of us probably think, it is so unfortunate because if women do not realize that they have rights, women will never know that their right has been taken from them, that maybe in many occasions they can always choose to say "NO and enough" toward a man who take them for granted.


Therefore, Girl!!! be grateful of all the education you enjoy, the cafe talk you have with other ladies discussing about women's right, the books about women's right that you read, or the environment support you received till you can achieved as much as you want including achieving higher than most of men around you.


Huft!! sorry for writing as if I am luckier and happier than the three-times-married woman.
It is just a relic of my perspective about Indonesian Women, patriarchy, and woman's right!

Special for you "Daughter" from John Mayer who care enough to a daughter around you!!



Sunday, 4 January 2015

Tahun baru, ada yang memaknainya dengan perayaan kembang api, ada yang memilih perenungan, ada yang memilih kebersamaan dengan keluarga sambil bakar jagung ataupun aneka daging, ada juga yang tertidur lelap menganggap pergantian tahun masehi layaknya pergantian hari Rabu ke Kamis.

Tanggapanku? Manusia itu bermacam-macam, cara mereka meraup rasa bahagia pun macam-macam, aku rasa sebagian besar masyarakat Indonesia merayakan tahun baru karena berbagai sistem dalam kehidupan mendorong mereka seperti itu misalnya sistem penanggalan umum yang digunakan, aktivitas tutup buku pada institusi yang dilaksanakan akhir tahun, godaan akan kemeriahan hiburan , promo akhir tahun dan kembang api di malam tahun baru, juga bonus tahunan dibagikan akhir tahun, mendorong sebagian besar manusia untuk paling tidak bersenang-senang dengan itu melalui liburan, makan bersama keluarga atau membeli kembang api yang indah jika tersulut api untuk menambah sedikit keceriaan. Bukankah pada dasarnya manusia senang akan keceriaan dan kemeriahan, hal yang ditawarkan oleh malam tahun baru. 

Aku? Aku bukan individu yang suka hingar bingar. Hujan malam tahun baru kemarin buatku adalah berkah, karena aku suka hujan, lebih dari malam tahun baru itu sendiri. Lalu diundang makan jagung bakar dan ayam bakar dirumah Bulikku juga merupakan berkah. Perut kenyang tanpa keluar sepeser uang. Moment terpenting dalam malam tanggal 31 Desember itu adalah "Aku memutuskan untuk pindah ke kamar kost" tak lagi numpang di rumah Paklik dan Bulik walaupun aku tahu mereka tak keberatan sama sekali. InsyaAllah aku akan kembali ke meja kerja dalam beberapa hari dan akan kembali mampun membayar sewa kamarku lagi. 


Resolusi? tentu saja aku punya (contradictive  sekali dengan ketidakinginanku untuk merayakan tahun baru, Haha). Resolusiku tahun ini sangat simple secara garis besar aku berharap: 




Mengenai kenangan, (mungkin sangat cliche), beberapa baris kata dari orang-orang yang ada ataupun melintas di hidupku , juga beberapa catatan ku sendiri di sosial media pada tahun 2014 yang masih berdengung dikepalaku adalah yang akan ku bagikan kali ini. 

"Kalau sudah tahu lauk yang kita punya akan berlebih atau tidak ada yang makan, berikan ke anak yatim belakang rumah. Saat kita membiarkan lauk-lauk itu basi dan teronggok di meja sampai esok pagi, mungkin saja mereka sedang makan hanya dengan nasi dan garam" Bapakku

"Semakin tinggi yang kita capai, semakin luas pandangan kita" Usep 
Catatan rollerrelic:  Jadi jangan heran kalau orang yang sukses bisa makin sukses dan yang kaya bisa makin kaya. Mereka mencapai dan memaknai pencapaiannya dengan mencoba melihat lebih jauh lagi, jalan mana lagi yangg harus didaki agar dapat mencapai yang lebih tinggi. Mereka yang miskin dan biasa saja kalau tak coba mendaki wajar saja akan tetap berada ditempatnya.


"Jika saya membantu anak saya mendapatkan pekerjaan atau suatu posisi dengan menggunakan nama saya atau menyuap, itu artinya saya menghina anak saya, merendahkan dia yang sudah bekerja keras untuk meraih kemapuannya saat ini" Jun HM




Kulit boleh menghitam karena terbakar matahari, asal jangan hati yang menghitam karena berlaku tidak jujur.  rollerrelic


"Rezeki itu sudah diatur, dont worry you have done your part, berusaha" Ratna Dewi




"If you cannot find what you are looking for in two minutes, go asking somebody, that will make you effective." Leo Wibisono 

"In career, it is better to kill then to be killed" Sheila  

"Life is composed by plenty of small wonderful things. If a wonderful thing is gone, does not mean your life is not wonderful anymore. It is just a lil bit less wonderful. So don't feel like you have come on the end of your life. It is there and still wonderful. Face it!" rollerrelic




Sebagai kutipan penutup dan juga tamparan jika aku hanya memandangi rencanaku tanpa melakukannya ku harus ingat bahwa 

"Idea is cheap, excellent execution what makes them expensiveYoris Sebastian. 



Wednesday, 24 December 2014

Sedikit tentang getirnya kehilangan ibu dan bagaimana obrolan dapat menghindarkan Ibumu dari hal serupa. Catatan (yang mungkin bisa menyelamatkan nyawa) bagi kamu yang saat ini sedang berkutat dengan gejala medis dan pelayanan medis.
Seperti Pak Dahlan Iskhan,  Emak tak tahu kapan tepatnya dirinya lahir. Tanggal, bulan, tahun semuanya tak tercatat secara akurat. Kelurahan memutuskan untuk menulis di KTP bahwa beliau lahir pada 30 Juni. Berbeda dengan tanggal lahir, aku tahu persis kapan Ibuku wafat - 2 Mei 2014 sekitar Pukul 4.15, tanpa aku di samping beliau. Tak sempat aku memapah beliau keluar kamar saat beliau mengeluh sesak di dada. Tak sempat aku mengambilkan beliau minum agar tenggorokan dan dadanya sedikit lega. Tak sempat pula aku mengecup kening dan memeluk beliau sebelum beliau di makamkan, karena aku masih jauh di seberang lautan saat itu terjadi. 

Berikut adalah memoar hari-hari yang ku lalui setelah emakku wafat 

*Saat kabar kepergian beliau sampai ke telingaku Pukul 6.30
Tak bisa ku cucurkan air mata. Aku tahu belahan jiwaku telah pergi selamanya, aku tak akan bisa menatap wajah keriputnya lagi dan takkan pula dapat mencium tangannya yang bau surga walaupun telapaknya kasar karena tempaan detergen dan sabun cuci piring. 
Ku kabarkan hal ini pada teman kostku, lalu memasukkan baju seadanya ke dalam tas dan bergegas menuju statiun kereta yang akan membawaku ke terminal bus untuk pulang ke kampung.
Satu setengah jam kemudian bus mulai bergerak. Di sanalah air mataku menetes untuk pertama kali. aku ingat sekali, tetesannya tak deras. Ku tatap jendela bus dan terus mendengungkan ke dalam hati "Akhirnya Emak terbebas dari semua rasa sakit dan beban, aku tahu hari ini akan datang, dan ini adalah yang terbaik untuk emak". Tak ada isakan, hanya beberapa tetes air mata. 

*Sesampainya aku di rumah, Emak telah dimakamkan
Delapan jam perjalanan, dan petang di 2 Mei  2014 pun segela menjelang. Duduk di antara bapak, kakak, adik, saudara-saudara, tak ada suara emak lagi. Suara nyaring penuh kasih sayang untuk semua anaknya. Dan aku pun tersentak akan kenyataan bahwa bahkan aku tak bisa menatap dan memeluknya untuk terakhir kali. Kenyataanya lebih pedih dari yang ku bayangkan selama di bus. 

*Hari ke-2 hingga ke-7
Saudara-saudara berdatangan, beberapa dari mereka tinggal untuk membantu mempersiapkan acara yasinan, sekedar menggoreng pisang, kerupuk atau malakukan hal yang njlimet seperti memasak soto untuk para tetangga yang berkenan datang ke rumah selepas magrib untuk membaca Surat Yasin bersama. Ku sadari betapa saudara-saudara ku sangatlah murah hati, mereka sangat peduli pada kami dalam suka maupun duka.
Di antara banjirnya kepedulian itu, terselip cerita-cerita tentang bagaimana saudara dan tetangga mengenang emak. Sudah barang tentu Emak bukan manusia sempurna, namun kebaikan-kebaikan sederhana emak diingat kuat oleh mereka, persona-persona emak yang luput dari pandanganku yang masih dangkal ini. Aku kembali tersentak, ada perasaan yang menusuk kala menyadari, banyak di antara cerita itu yang aku asing mendengarnya. Aku tak di sana saat hal itu terjadi. Aku tak ada untuk mengambil suri tauladan keseharian dari emak yang telah menjadi teman yang baik, tetangga yang peduli dan saudara yang perhatian bagi banyak orang. Anaknya yang sangat suka berpetualang ini melewatkan banyak hari tanpa hari-hari emaknya. Terlalu sedikit curahan hati dan cerita yang ku dengar dari emak tentang hari-harinya saat aku pulang ke rumah ataupun berbicara dengannya melalui telepon. Dua puluh tahun yang ku jalani bersamamu dan dari semua nilai- nilai kehidupan yang telah kau tanamkan di hatiku,  tak ku sangka masih banyak nilai-nilai kehidupan yang belum sempat kau tunjukkan padaku (atau aku saja yang lambar menyadarinya).

*Setelah hari Ke-7 sejak Emak Wafat

Setelah hari ke-7 barulah aku berani bertanya tentang bagaimana kronologi sebelum emak wafat. Kakak dan adik ku pun bercerita. Beliau terkena serangan jantung. Dua bulan terakhir beliau mengeluh sakit di dada. Dokter memberi beliau obat untuk di minum setiap hari. Subuh itu emak mengalami sakit itu lagi dan dengan jalan itulah beliau wafat tepat sebelum di bawa ke rumah sakit.

Hari demi hari bergulir, kami masih menata hati untuk move-on. Lalu kakakku menerima broadcast melalui  media sosial mengenai penyakit jantung. Di sana disebutkan pula gejala yang dialami emak dan dikabarkan bahwa gejala seperti itu dapat diberi pertolongan pertama dengan aspirin, karena merupakan gejala penyumbatan pembuluh darah di jantung yang mana darah mengental dan aspirin dapat membantu karena bersifat mengencerkan darah. 


Hari itu memang sudah 2 hari sejak supply obat Emak habis. Beliau hanya minum ekstrak kulit manggis sebagai gantinya. Bapak dan Kakak telah menawari beliau untuk kembali ke dokter untuk cek kesehatan sekaligus beli obat lagi. Namun beliau menolak karena sudah merasa baikan dan masih ada stock kapsul ekstrak kulit manggis. Kami pun tak memaksa beliau untuk kembali ke dokter. Sudah kurang lebih 7 tahun emak secara rutin harus periksa ke dokter atau menjalani terapi karena terserang stroke pada pertengahan 2007. Meski begitu beliau selalu semangat untuk menjalani pengobatan baik medis, herbal, terapi. Sejak akhir tahun 2013 beliau sudah hampir sepenuhnya pulih dan masih terus mengkonsumsi obat sesuai saran dokter dan juga suplement herbal yang diperbolehkan oleh dokter. Baru 2 bulan sebelum meninggal merasakan gejala sakit jantung itu.

Namun jika dipikir lagi, aku harus bilang bahwa aku kecewa kepada dokter yang menangani Emak. Beliau tidak secara spesifik menjelaskan kepada keluarga kami tentang apa yang dialami emak, obat apa yang iya butuhkan, bagaimana obat itu membantu beliau dan harus bagaimana setelah obat habis dan apa resiko yang mungkin terjadi jika kami tak memahami dan melaksanakan hal itu. 

Hal ini dapat terjadi karena lemahnya controlling system terhadap medical service baik publik maupun swasta oleh pemerintah, kurangnya kepedulian dokter untuk mengeedukasi pasien dan keluarganya terkait situasi medis pasien, masih lemahnya kesadaran pasien dan keluarganya akan hak-hak mereka sebagai customer dari pelayanan medis. Jika di negara seperti Singapura dan Jerman, dokter akan berusaha sekuat tenaga untuk membimbing pasien dan keluarganya membuat informed decision (keputusan yang diambil berdasarkan informasi komprehensif) dengan paling tidak menyediakan pelayanan konsultasi yang sejelas-jelasnya, di Indonesia, kebanyakan dokter bekerja dengan mindset kejar setoran. Apalagi mereka yang buka praktek di kabupaten atau kecamatan, ruang praktek belum dibuka, antrian sudah mengekor, alhasil, waktu untuk konsultasi yang seharusnya menjadi hak pasien dan kewajiban dokter pun dikorbankan. Dokter mengusir pergi pasien secepat mungkin setelah diperiksa dan diberi resep. Pemerintah pun sepertinya lengah untuk mengedukasi masyarakat tentang betapa pentingnya sesi konsultasi ini hingga mungkin dapat menyelamatkan nyawa mereka saat keadaan menjadi darurat.

Sehingga aku ingin menyarankan pada teman-teman yang saat ini sedang merawat keluarga atau sedang mengalami sendiri gejala medis. Jangan ragu untuk 'mengeksploitasi' dokter yang menangani Anda jika hal itu terkait dengan info medis. Memang benar dokter mendapatkan ilmunya dengan biaya yang mahal namun para dokter juga terikat ikrar pelayanan yang sebaik-baiknya pada masyarakat.

Jadi pastikan Anda mendapatkan info sejelas-jelasnya mengenai 

1. Apa penyakit atau gejala medis yang diderita?
2. Mengapa hal itu dapat terjadi dalam tubuh kita? Reaksi atau krisis seperti apa yang terjadi dalam tubuh kita sampai hal itu bisa terjadi?
3. Apa dampak dari gejala medis itu bagi tubuh kita secara umum, spesifik pada organ yang mengalami krisis juga termasuk organ lain yang mungkin secara tak langsung dapat terkena dampak. 
4. Obat apa yang dokter sarankan dalam resep? Apa saja yang terkandung di dalamnya? Bagaimana obat itu bereaksi atau bekerja dalam tubuh hingga ia bisa meredakan gejala medis tadi? Apa efek samping obat itu?
5. Berapa lama atau banyak pasien harus mengkonsumsi obat itu?
6. Apakah harus segera kembali ke dokter jika obat sudah akan habis ataukah cukup meminum satu set resep itu saja dan tak perlu menebus obat lagi?
7. Jika dalam situasi tertentu  kita tak bisa meraih obat namun gejala nya muncul seberapa berbahayanyakah hal itu jika kita tak segera memberikan obat itu? Adakah pertolongan pertama yang dapat dilakukan?

Bagiku ini adalah sebuah kehilangan tapi juga kelegaan karena pastinya Emak sudah berada di tempat yang lebih baik di alam kubur. Kami yakin karena beliau adalah insan yang sabar (seorang istri yang bertahan dan tegar dalam segala keterpurukan, seorang ibu yang walaupun hanya pernah sekolah hingga kelas 2 SD namun mampu dengan penuh kesabaran membesarkan tubuh dan jiwa kami (6 anaknya) dengan nilai-nilai kehidupan yang mungkin professor pun tak dapat menanamkannya dengan baik di jiwa kami).
Bagi kamu, semoga kisah pelayanan medis yang didapat emakku bisa menjadi pengetahuan agar yang membaca post ini tak harus mengalami hal serupa. 


 
*Ribuan kilo jalan yang engkau tempuh
lewati rintangan demi aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan 
Walau telapak kaki penuh darah penuh nanah
Seperti udara kasih yang engkau berikan 
Tak mampu ku membalas..... Ibu
(Iwan Fals)


Wednesday, 3 December 2014

Cantik juga berarti mengenali diri dengan baik alias menjadi seseorang yang ber-PRINSIP. Prinsip ini bisa mencakup segala aspek kehidupan, termasuk prinsip kamu tentang definisi cantik. Buat kamu yang masih menggunakan definisi kecantikan yang didiktekan orang lain, sinetron, majalah atau sumber propaganda lainnya, ada baiknya kamu mulai mencari "Apa itu cantik?" untuk dirimu.
Sumber: www.inspirationalcorner.com

Buat ku sendiri selain tentang fisik (Part I), cantik tidak sama dengan kemewahan. Cantik adalah tentang rasa nyaman dan sering kali praktis. Ini mendorongku untuk mengenakan sesuatu yang nyaman untukku. Secara garis besar (head to toe)  ini berarti, kerudung polos segiempat, blus atau kemeja panjang yang longgar (blazer hanya untuk meeting atau event resmi lainnya),, tas ransel yang akan berfungsi sebagai karung barangku, celana bahan warna gelas dan flat shoes  dengan alas dan karet bawah yang cukup tebal sehingga nyaman untuk jalan. Sejauh ini, flat shoes Merk Pavilon are still the best. Aku akan sangat mudah termakan pikiranku sendiri betapa accesories seperti bross, kalung, gelang dll telalu ramai untukku dan lebih baik tak memakainya. Kadang kalau sedang centil aja bakal pakai :p.

Prinsip lainnya adalah perjalanan menjadi cantik juga tak boleh menjauhkan kita dari orang-orang yang menyayangi kita - menyayangi kita bahkan sebelum kita menjadi cantik. Mereka yang sejak dulu ada, sejak sebelum kita menemukan arti cantik untuk diri kita. Apakah arti itu akan mendorong kita berpenampilan sama atau mendorong kita  untuk berubah, sikap kita pada orang-orang yang sejak dulu mendukung kita harus tetap sama. Tantangan akan menjadi lebih besar tentunya saatsetelah menemukan arti cantik kita terdorong untuk berubah, sedangkan teman-teman kita tetap sama seringkali mereka berseberangan dengan kita. Namun, aku yakin perbedaan itu dapat dihadapi dengan bijak. Komunikasikan pada diri sendiri dan mereka "Aku memang berubah namun aku berharap tak ada yang berubah dengan hubungan kita, kita tetap menjadi teman yang saling mendukung". Lalu lebih dari sekedar kata "walk the tak" alias buktikan dengan sikap dan perbuatan.

Bagi saya prinsip yang juga tak kalah pentingnya adalah prinsip tentang apa yang boleh dilakukan dan tak boleh dilakukan. Dalam kasusku hal ini sangat berkaitan dengan nilai-nilai yang orang tuaku ajarkan. Perbuatan yang boleh dan tak boleh, sikap yang baik dan tak baik, reaksi terhadap masalah dan lainnya. Pilihanku untuk mendalami dunia debat telah membawaku pada pergaulan yang luas. Aku, cewek berkerudung yang sempat jadi anggota rohis kampus pun secara berkala menambah jaringan dengan orang-orang dari bermacam-macam kelompok. Tentunya mereka juga memiliki nilai-nilai yang berbeda, berprinsip berbeda tentang apa yang boleh dan tidak boleh. Ya sebut saja saya memasuki pergaulan modern.

Di pergaulan modern, laki-laki dan perempuan bekerja sama, peran mereka pun setara tak ada gender-based job description, yang ada adalah kontribusi yang sama pada tim. Bepergian bersama, makan bersama, hang-out di cafe, resto dan bar, berdiskusi di tempat yang menyetel music boom-boom-boom. Lalu apa kaitannya dengan perjalanan saya menjadi cantik. Bagi saya (mungkin berbeda dengan Anda) pergaulan adalah hal yang penting, pergaulan membuka wawasan  dan mengenalkan anda pada orang - orang inspiratif dan mungkin juga rezeki yang lebih luas. Namun pada kenyataanya juga, dalam pergaulan modern, telah terjadi pemisahan yang sangat nyata anatara profesionalisme dan kehidupan pribadi. Hal hal seperti bir, vodka, champagne, bukanlah benda asing jika sudah di luar kontaks profesionalisme.Sehingga kamu mungkin saja menemui seseorang yang sangat inspiratif bagi kamu sedang asyik menikmati vodka  di depanmu.

Namun kunci sukses bergaul secara modern bukanlah mengikuti apapun yang teman-teman kita lakukan walaupun hal itu berlawanan dengan apa yang kita percayai. Juga tak perlu galau takut diusir dari circle mereka. Teman gaul yang cukup baik buat kamu akan menghargai pilihan kamu dan justru supportive. Jadi tak perlu ragu untuk mengatakan kita punya pilihan minuman dan makanan yang berbeda misalkan saja karena kita menganggap  yang mereka pilih tidak halal. Cukup katakan "gue ga boleh minum itu" dengan senyum lebar. Reaksi mereka paling "ooo iya ya" atau "memangnya kenapa?". Jelaskan dengan santai jika perlu. Jadi kita tak perlu galau dan merasa bersalah karena berbeda dan menolak ajakan teman. Pergaulan modern yang baik menghargai pilihan kamu, apapun itu. So, jadi cantik lagi-lagi bukan mengikuti apa yang orang bilang dan orang kerjakan tapi mengetahui prinsip kita, menjaganya. Dengan begitu kamu menghargai diri kamu yang juga akan mendorong orang lain untuk menghargai kamu. 

Setelah bertahun-tahun ada di pergaulan modern, hadir di berbagai social night dan datang ke berbagai cafe tapi Alhamdulillah belum pernah cobain minuman beralkohol. Bukan hanya karena aku sejak awal menginformasikan pilihanku ke teman-teman tapi juga mereka yang dengan penuh pengertian mendukung pilihanku. 

Masih banyak lagi aspek-aspek kehidupan yang berkaitan dengan prinsip. Untuk jadi cantik, pahami prinsip kamu, pegang. Yakin deh kamu bakal merasa semakin cantik, like what I always feel. *Wink


Friday, 5 September 2014


Alkisah, di sebuah desa di negara yang sedang berbenah karena banyak masalah, hiduplah masyarakat di sebuah desa terpencil jauh dari gegap gempita lampu hias. Layaknya sebuah desa, masyarakatnya berdinamika (istilah diplomatik dari menghadapi berbagai masalah). Berikut adalah sekelumit kisah mereka...


Alkisah #1
Seorang anak wanita membantu menjaga warung bakso milik ayahnya. Siang itu dia harus berjaga sendiri karena sang ayah terpanggil untuk melakukan kegiatan sosial- membuka lahan perkebunan salak untuk pembuatan madrasah. Datanglah dua orang, seumurannya atau mungkin lebih muda. Pertama mereka memesan es campur, wajar adanya untuk melegakan tenggorokan di siang yang cukup terik itu. Satu mangkok berdua, mungkin menghemat. Lalu tak lama kemudian, dua laki-laki datang menyapa dan mengobrol dengan mereka. Sudah janjian bertemu di warungnya rupanya. Sang perempuanpun memesan 2 mangkok bakso dan salah satu dari laki-laki itu juga memesan es campur.

Si bakso dan es campur dinikmati dengan santainya, ditambah dengan kerupuk yang tersedia di pojok warung, tambah sedap kelihatannya. Sang perempuan banyak cerita dan merayu. Sang laki-laki tampak menanggapi dengan bangga dan tersipu. Setelah berapa lama santapan pun habis. Dua pasang anak manusia itu pun melanjutkan mengobrol di meja mereka, lalu pindah ke depan warung. "mungkin ingin cari angin seperti pelanggan-pelanggan lainnya, memang udaranya cukup panas hari ini" pikir sang anak pemilik warung.  Iya pun duduk dengan tenang di dalam warung. Tak lama kemudian terdengar geraman suara motor. Dua pasang anak manusia itu nge-gas meninggalkan warung, lupa membayar apa yang sudah mereka jejalkan ke perut mereka. Sang anak tak berani teriak, iya tahu itu hanya akan menambah riak di air yang sudah berombak.

Alkisah #2
Pak Wage adalah seorang kuli bangunan yang mengais rezeki di kota. Sudah seminggu ini dia tinggal di rumah. Proyek pencakar langit yang sudah setahun ini ia garap, sudah tak lagi membutuhkan sentuhan tangannya yang piawai. Mentog, ayam, bebek adalah teman pengusir sepinya saat tak ada proyek seperti ini. Siang itu matahari masih di dekat ubun-ubun, Pak Wage ingin mengunjungi teman-temannya di halaman belakang, menegok saja siapa tahu menreka kekurangan pangan atau tersesat keluar lahan. Alangkah terkejutnya Pak Wage saat mendapati seorang pemuda bergerak menjauhi halaman belakangnya sambil membopong salah satu temannya. Sontak iya berkata "Hai, mau maling mentog ya?". Sang pemuda berbalik dan balik berkata, "wah jangan asal tuduh, mana buktinya? siapa yang mau maling? saya mau kembalikan. mentog ini. Saya tak terima, saya akan bawa tetua kami ke sini supaya bapak diadili". sang pemuda pun melenggang dengan motornya dan kemudian kembali dengan membawa beberapa temannya.

Rupanya iya serius. Iya marah dan menuduh Pak Wage telah menuduhnya maling, mengacung-ngasungkan senpi di depan hidung Pak Wage, mengancamnya untuk minta maaf dan ganti rugi Rp. 2 juta, atau akan dilaporkan ke polisi atas pencemaran nama baik. Pak Wage tak sudi tunduk, Si pemuda dan kelompoknya geram, makin kencang ia mencengkeram gagang senpinya, lagi- lagi meneriakkan paksaan uang damai. Tentu saja Pak Wage tak punya uang sebanyak itu, kalaupun punya ia sudah bertekad tak akan memberikannya. Istri Pak Wage gemetaran, menyaksikan nyawa suaminya di ujung tanduk. Ia hampir pingsan, sedih tak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan suaminya. Tetangga, tak bisa berbuat banyak. beberapa berkerumun dekat Pak Wage untuk mengdinginkan kepala sang pemuda, kebanyakan masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rapat-rapat. Sang pemuda bersikeras untuk mendapatkan uang damai, Pak Wage juga tak menggeser niatannya sedikitpun.

Ditengah ketegangan itu, seorang berbadan tinggi tegap dan seorang laki-laki paruh baya berwajah komikal membelah kerumunan. Ternyata mereka adalah perwira polisi dan seorang kepala sekolah yang juga saudara jauh Pak Wage. Kehadiran mereka akhirnya dapat memecah kebekuan. Sang pemuda dengan berat hati meninggalkan rumah Pak Wage dan pak Wage sedikit lega setelah senpi itu tak lagi di depan hidungnya. Namun, bahaya tetap mengancam, warga khawatir kejadian seperti kampung sebelah terjadi juga pada mereka. Mereka di serang sekelompok orang tak dikenal, sebuah rumah dibakar, dan mereka ditantang bentrok dengan kelompok tersebut. Ketegangan berlanjut selama beberapa hari, hingga akhirnya beberapa koper uang 100.000 menjadi harga yang harus dibayar warga kampung itu demi mendapatkan kedamaiannya kembali.

Alkisah #3
Beberapa hari terakhir desa kami dihebohkan oleh sebuah kisah dari seorang pemuda dari kampung nun jauh di sana.  Seorang pemuda yang baru menginjak usia 23 terobsesi untuk mengikuti jejak kawan-kawannya membangun rumah mewah dan membeli sebuah mobil keluarga. Kualitas pendidikan yang tak banyak menginspirasi dan lingkungan yang mendukung membuatnya nekad memilih jalan berbahaya untuk mencapai mimpinya itu. Ia merantau ke negeri seberang untuk bekerja dengan sistem shift bersama temannya, menyikat kendaraan roda dua yang menyapa dan minim penjaga.

Siang itu seharusnya iya sudah pulang, lumayan sudah dapat dua tangkapan, namun hujan turun, memaksanya untuk berteduh dulu di pelataran toko di pinggiran kota tempat iya merantau. Rintik hujan yang tak terlalu deras dan awan kelabu yang menyelimuti area disekitarnya membuat sebuah ninja merah di seberang jalan begitu menyilaukan matanya. Motor mahal itu seolah-olah memanggil-manggilnya, membisikkan kata 'habisi saja tuan saya, dia anak manja tak berdaya." Di satu sisi dia tahu shift nya sudah habis, di sisi lain hatinya berkata, "tangkapan iniakan semakin mendekatkannya pada rumah mewah dan mobil keluarga impiannya.
Langkahnya pun menuntunnya mendekati si ninja merah. Begitu di sana, iya menggertak si anak (yang kelihatannya) manja itu untuk memberikan kunci motornya kepadanya. Sang anak terkaget dan bertanya mengapa. Diapun menggertak lagi memaksa anak itu memberi yang ia mau.

Benar rupanya, si anak manja ini menyerahkan kunci ninja merahnya. Sang pemuda pun buru-buru menariknya dan berbalik menuju motor. alangkah kagetnya ia saat langkahnya tertangan rangkulan dua tangan kuat di kaki kirinya. Ternyata sang anak tak ingin begitu saja melepaskan ninja merahnya nan berkilau. Reflek, sang pemuda berbalik dan menendang anak (yang tak lagi terlihat) manja itu berkali kali dibagian perut dan dada sekenanya. Si anak tak manja itu tak goyah, tangannya semkin kuat merengkuh kaki sang pemuda sambil berteriak 'Rampok' berkali-kali. Sang pemuda merasa tak ada pilihan lain, ia pun mengeluarkan senpinya dari balik baju, buru-buru menembakkannya ke kepala si anak tak manja ini.

Naas, tanpa suara dentuman, tanpa terlihat lesatan peluru, tanpa muncratan darah, ternyata senpinya macet, tak menghasilkan tembakan yang diharapkannya dapat meloloskannya dari cengkeraman anak cabe rawit ini. Berkali-kali iya coba menekan pelatuk, peluru tak jua kunjung melesat. Kalap dan takut masa mendengar jeritan anak cabe rawit ini, iya pun memukul-mukulkan gagang pistolnya ke kepala anak ini, darah segar mengalir ke pelipis anak ini. Namun iya masih setegar karang, tak mau melepaskan sang pemuda dan masih terus berteriak-teriak 'Rampok'. Sang pemuda masih terus memukul. Masyarakat mulai tersadar, tertarik perhatiannya dan berlari kearah sumber kegaduhan.

Mereka langsung sadar apa yang terjadi, sang pemuda pun terpaksa pasrah diri dihujani bogem dan besi. Impiannya dan bayangan keluarganya bergantian berkelebat didepannya. Terdengar dan terasa jelas sampai ke relung hatinya cacian dan juga rasa sakit akibat pukulan bertubi-tubi yang diterimanya. Teriakan ampun tak hentinya iya suarakan, namun tenggelam dalam amarah warga yang merasa harus menegakkan keadilan dalam balutan dendam. Darah mengucur dari kepalanya sang pemuda, entah palu, linggis atau benda lain yang menerjangnya, tulangnya remuk, darah mengalir dari mata, bibit, telinga, hidung dan berbagai luka ditubuhnya. Dengan sedikit kesadaran yang tersisa ia dapat merasakan tubuhnya diseret- seret, jauh- jauh sekali, terlunta-lunta melewati puluhan rumah dan ruko. Ya, iya diarak keliling desa dalam kondisi sekarat, sebelum akhirnya polisi datang untuk membawanya ke kamar mayat.

Kisah- kisah di atas adalah sekelumit cerita dari rakyat yang merasa diabaikan oleh para polisi di daerahnya, diselimuti rasa takut karena sepertinya kejahatan lebih berkuasa dari orang-orang yang mereka beri kuasa untuk melindungi mereka- rakyatnya. Mereka masih menunggu dan mencoba percaya bahwa suatu saat bantuan akan datang. Tak hanya mereka sang penegak hukum yang perkasa, namun juga mereka sang penuntun moral dan pendidik berdedikasi yang akan menerangi jalan hidup mereka yang seperti "sang pemuda" di alkisah #3, agar warga tak perlu lagi melakukan hal yang para petinggi sering sebut sebagai main hakim sendiri. Ya, kami masih berharap rasa aman itu akan kembali lagi, kmbawa kami pada ketenangan, yangkemudian membawa kami pada produktivitas, dan akhirnya mendukung ekonomi di desa kami untuk kembali menggeliat.

Dua tahun terakhir, aktivitas ekonomi di desa itu semakin lesu. Kalau di daerah kamu bisa dibilang 'bebas maling", di desa itu "maling bebas" berbuat semaunya. Masyarakat kehilangan berbagai hal miliknya akibat perampokan, pencurian, pembegalan dan semacamnya. Tak banyak uang tersisa untuk jajan atau membeli hal yang bukan kebutuhan dasar. Warga tak berani keluar rumah setelah magrib menjelang. Siang hari pun pintu rumah pun dibiarkan tertutup rapat, demi menghindari hal-hal yang tak diinginkan. Kini penduduk di daerah perbukitan jarang sekali turun ke desa itu . Mereka datang sesekali saja dengan berkelompok untuk membeli keperluan sehari-hari atau memilih pasar lain yang lebih jauh namun memiliki jalur yang lebih aman.  Pembeli di pasar pun seolah bisa dihitung beberapa puluh saja setiap harinya. Omset pemilik toko dan warung pun menurun drastis. Warga tak bisa hidup tenang di malam dan siang hari, takut bahaya datang menghampiri sedang polisi seperti tak menampakkan diri.


Thursday, 26 June 2014

Cantik siapa tak ingin menjadi cantik. Mendapat predikat cantik, orang akan lebih mudah menerima Anda, mudah dapat pacar dan juga punya kesempatan selingkuh lebih banyak karena mudah dilirik. [Tak perlu repot-repot menyangkal walupun ada orang seperti Anda yang berusaha untuk tidak menjadikan kecantikan sebagai landasan interaksi sosial, nyatanya orang yang melakukan itu masihlah menjadi mayoritas]. Persyaratan fisik dalam mencari kerja seperti kulit bersih, tinggi minimal 160, dan berpenampilan menarik, pun biasanya secara alamiah terpenuhi.

Lalu apa arti cantik buat saya. Banyak orang bilang kamu akan cantik kalau kamu bangga atas diri kamu apa adanya. [Siapa yang percaya sebaris kalimat ini?] Terus terang saya tidak sepenuhnya percaya. Saya percaya menerima diri apa adanya menjadi salah satu faktor pendukung kecantikan Anda. Namun dibalik semua itu saya percaya cantik membutuhkan usaha, usaha yang sangat berat namun juga manis jika kita dapat menjalaninya. Jadi bagi saya cantik adalah sebuah perjalanan [tiada akhir] untuk menerima diri apa adanya, untuk menjaga prinsip kita sebaik-baiknya, untuk sehat selama nafas masih terhela.


Lalu seperti apakah saya. [Alhamdulillah] Saya wanita setinggi 165 cm [Tinggi saya berubah-ubah setiap kali saya ukur, antara 163-167cm, jadi mari ambil tengahnya saja]. Berat badan saya berkisar antara 52-58 kg [Yes, I am slender], Pipi chubby seperti tokoh Anna di Frozen [*wink], berjerawat karena faktor gen, hidung pesek khas suku Jawa, bulu mata tak lentik cenderung pendek alis tak teratur, bibir simply g lebay, gigi tak terlalu rapi, mata normal berwarna coklat [sipit saat ketawa atau senyum] dan tiara saya keriting dan berketombe. Tak perlu terlalu ngoyo dibayangkan, tak banyak memang yang bilang saya cantik, hanya diri saya, orang tua, mantan pacar dan orang-orang yang pernah ikhtiar untuk mendapatkan status sebagai pacar saya.

Namun saya sendiri sadar bahwa saya cantik. Pada kenyataannya sangat sulit untuk mencapai kesimpulan ini. Namun biarkan saya menuangkan perjalanan saya menjadi cantik dalam post pertama saya ini. Harus saya akui, cukup lama saya menimbang hal apa yang akan saya tulis pada post pertama saya. banyak topik yang telah saya dapatkan, namun perasaan berbeda saya alami saat saya mendapatkan topik ini, tiba-tiba saya merasa sangat percayya diri bahwa saya harus menjadikan topik ini sebagai postingan pertama saya. Mungkin ini yang disebut omen.

Lalu bagaimana perjalanan saya menjadi cantik.  Pada postingan pertama ini saya akan menceritakan perjalanan saya bergulat dengan keadaan fisik saya sendiri hingga akhirnya saya dapat melaksanakan perjalanan itu dengan lebih tenang dan mendapatkan unsur pertama dalam perjalanan saya menjadi cantik 

"Menerima Diri Apa Adanya"

Saat kecil saya sangat percaya bahwa diri saya cantik. Mengapa begitu? Karena orang tua saya bilang saya cantik. Selayaknya anak- anak, tentu saja saya percaya orang tua saya 100%. Saya terus percaya hal itu hingga mereka sudah tak pernah mengatakan hal itu lagi. Saya pun mulai lupa bahwa saya cantik dan mulai bertanya-tanya tentang kebenarannya. Ditambah lagi, kepercayaan saya akan hal itu semakin memudar saat sebuah tragedi terjadi pada gi gi saya.

Tentang gigi bertragedi itu. Saat masih SD, gigi taring saya putus dan gigi barunya tak tumbuh sempurna. Gigi taring baru tumbuh miring menjorok ke dalam sebelah kanan sedangkan sebelah kirinya terdorong ke kiri karena taring lama yang akan tergantikan itu tak jua tanggal saat taring baru saya tumbuh. Akibatnya, gigi-gigi tersebut membuat lubang yang cukup besar setelah taring yang akan putus itu meninggalkan mereka dalam kondisi yang tak lagi berdampingan, tercerai karena bujukan sanak saudara yang bilang semuanya akan baik-baik saja saat si taring itu tak jua menanggalkan statusnya sebagai penghuni gusiku.

Akibat selanjutnya, setiap kali saya senyum orang-orang tak bisa sepenuhnya menikmati senyum saya dan justru terpukau dengan deretan gigi saya yang tampak ompong. Ekspresi mereka macam-macam, ada yang kaget, mengernyit tanda tak suka, mengernyit karena merasa itu aneh, menahan ketawa karena mengira saya ompong atau frontal dan bertanya apa yang terjadi pada gigi saya itu. Perlu saya kabarkan, saya orang yang cukup sensitif, saya dapat membaca ekspresi orang baik yang kentara ataupun yang tersembunyi. Dan saya harus mengatakan bahwa saya dapat membaca, selama masa itu, semua orang bersikap negatif atas kenyataan yang terjadi pada gigi saya. Lubang itu, menutup peluang saya  masuk kategori orang cantik.

Saya pun tak mengira, bahwa pandangan itu membuat saya kehilangan rasa percaya diri saya, ditambah lagi saya mulai puber dan mulai tumbuh jerawat di wajah saya. Rambutku entah mengapa sudah tak lurus lagi, ia telah menjelma menjadi keriting. Lebih parahnya lagi pada masa itu tak ada yang mengatakan pada saya teori, menerima diri apa adanya. Standar kecantikan yang saya anut pun mengikuti lingkungan saya. Dan sudah tentu saya, tak tergolong mereka yang cantik. Saya menjadi tak percaya diri jika harus tersenyum, saya jadi tak terlalu suka senyum, kalaupun saya senyum tangan saya pun saya latih untuk menutupi senyum itu sehingga orang tak melihat lubang itu dan tak punya alasan untuk menunjukkan ekspresi jijik mereka. Orang-orang pun tak pernah bisa sepenuhnya melihat senyuman saya [hanya mata sipit dan pipi tembem itu yang dapat mereka lihat].

Saya tak terlalu ingat kapan saya mulai menyerah dan meninggalkan aksi petak umpet antara senyum dan lubang ini, membiarkan orang melihat senyum saya dan pasrah untuk menjelaskan saat orang bertanya. Mungkin saya ingat beberapa penyebabnya. Mungkin karena saya tak yakin dengan ingatan saya.
Wah sudah lumayan banyak, semoga tetap tertarik baca kelanjutannya. Terus terang tadi saya berhenti menulis dulu untuk mencari akun Facebook orang yang akan saya ceritakan di paragraf selanjutnya. Siapa dia, ayo ikuti kisahnya.
Yang pertama saya rasa karena pacar pertama saya (yang sampai tulisan ini saya tulis masih menjadi mantan pacar pertama dan terakhir saya) selalu mengatakan bahwa saya cantik. Dia suka marah kalau saya tutup mulut pas saya senyum. Katanya dia tidak bisa lihat senyum saya. Tidak sering tapi saya ingat betul ada suatu moment saat saya tanya mengapa dia suka saya, salah satu jawabannya adalah karena senyum saya manis, selain saya, tidak ada orang yang punya senyum seperti ini.  Tentu saja saya selalu mengatakan padanya itu gombal dan sepenuhnya percaya bahwa itu gombal walaupun dalam hati senang dan tersipu juga. Ya saya rasa itu salah satu awal mulanya saya punya dorongan untuk percaya diri lagi.

Setelah masa itu saya kenal beberapa orang yang setahu saya berikhtiar untuk jadi pacar saya. Mereka bilang hal yang sama, “Senyum saya manis”. Ah, dasar laki-laki semuanya tukang gombal ulung. Namun setelah aku pikir lagi, ada untungnya pula mereka begitu. Kata-kata positif seperti itu apalagi jika diucapkan dengan tulus [keadaan sadar di mana kekurangan itu memng ada namun kekurangan itu justru dikagumi dengan sepenuh hati] akan dapat menggugah rasa percaya diri seseorang. Menciptakan wacana tandingan akan opini negatif yang berkembang di sekitarnya, apalagi jika orang tersebut orang yang dipercaya [bukannya saya menyarankan pacaran, saya tahu cari pacar itu tak selalu mudah, ada juga yang tak mau pacaran, tapi memiliki teman yang jujur memberi pendapat serta supportif sepenuhnya apapun keadaan Anda menjadi cukup. Tanyakan saja secara blak-blakan hal-hal yang merisaukan Anda dan konfirmasi padanya apakah kerisauaan Anda tersebut benar-benar perlu, jangan-jangan Anda hanya termakan pikiran mereka yang tak terlalu mengenal Anda].

Begitu kisahnya, ngomong-ngomong akun facebooknya tak ketemu. Salahnya saya hanya mampu mengingat nama panggilannya, dan itu berarti mencari jarum ditumpukan jerami.

Dorongan positif itu didukung oleh kebiasaan baru saya saat itu yang mulai suka membaca buku pengembangan diri dan motivasi. Di sana saya mendapati banyak seruan mengenai mencintai diri sendiri dan menerima kekurangan diri untuk bisa fokus pada kekuatan diri. Hal ini memberi saya pemahaman yang lebih terkait kecantikan, saya sudah mulai bisa menepis standar kecantikan yang saya serap dari lingkungan dan mencoba mengubur kecaman saya pada gigi taring saya.

Situasi ini kemudian dimantapkan dengan kebiasaan baru saya menonton Oprah Show saat ada kesempatan. Menonton dan mendengar perbincangannya di talkshow saya mulai terhipnotis. Wanita ini jauh sekali dari standar kecantikan yang banyak beredar, namun dia luar biasa cantik dan kata-katanya tentang betapa setiap individu cantik dan harus mencintai dirinya apa adannya telah menggerakkan jiwa saya.

Semua itu terakumulasi dalam diri saya sehingga saya mulai membuang kebiasaan saya menutup mulut saya dengan tangan saat tersenyum. Saya membiarkannya terlihat oleh lawan bicara saya. Saat mereka bereaksi, saya pura-pura tak tahu, tak berubah dan tetap tersenyum menunjukkan rasa percaya diri saya. Beberapa lama masih banyak yang mengeluarkan ekspresi negatif. Lama kelamaan banyak yang hanya penasaran saja namun butuh waktu lama untuk berani bertanya bertanya apa yang terjadi dengan gigi saya. Saya pun mencoba menjelaskan dan menutupnya dengan kalimat, “masa sih kamu baru tahu, ini udah lama kok, berarti selama ini tidak pernah perhatian sama aku”. Seringkali mereka tersipu.

Kini, saya tak lagi memikirkan taring ini. Boleh dibilang saya  lupa, hanya ingat saat ada adik sepupu atau keponakan yang masih di bawah 7 tahun bertanya pada saya, “ hiii tante/ mbak ompong, kenapa tuh tante/mbak? Banyak makan permen yaaaaa?” [saya pun dengan santai menjelaskan apa yang terjadi. Kini saya tersenyum lepas tanpa beban [mata tetap sipit, pipi tetap tembem]. Kini bahkan hanya 1-2 orang saja yang menyadari ada lubang itu di sana, tak ada pandangan negatif itu lagi dan pertanyaan orang-orang pun saya rasakan karena pure penasaran saja atas apa yang terjadi.

Ternyata benar, seringkali saat Anda sendiri tak mempermasalahkan sesuatu itu, masalah itu dengan sendirinya tak akan muncul.


Kini diusia yang sudah tak ABG lagi, saya belum punya dana untuk merapikan gigi, jerawat masih selalu muncul diwajah, dan rambutpun masih keriting berketombe. Namun saya sudah tahu obatnya. Saya merawat badan saya sebaik yang saya bisa. Saya menggosok gigi 2 kali sehari dan mencuci rambut 2 hari sekali. Saat jerawat muncul saya  tak biarkannya merusak rasa percaya diri saya. saya berkata, “iya nih, jerawat mau apalagi, memang ibu, bapak, kakak dan adik semua punya sejarah jerawat”.   Saya tak mempermasalahkannya. Saya tak mengecam keberadannnya. Saya menerima diri saya apa adanya dan perjalanan menjadi cantik saya pun menjadi lebih ringan, karena unsur ini tak lagi menjadi beban.  

Sampai jumpa pada kisah "Perjalanan Saya Menjadi Cantik" Bagian 2. [*Wink]