Thursday, 17 August 2017

Melihat gulungan awan di Papandayan akhir minggu ini seketika memberiku jawaban mengapa Lautan Awan yang ku cari baru bisa ku temui di Merapi. Sungguh Rencana Tuhan Itu Indah dan Hadir di saat Terbaik.

Semburat mentari dan kumpulan awan di Papandayan. 16/07/17

Tuhan mau aku mendapatkan hikmah yang lain dari pendakian-pendakian sebelum Merapi agar iya menjadi hamparan awan pertama dan menggulung kan kenangan manis tak terperi.

Tulisan ini akan menjadi seri napak tilas beberapa pendakian yang telah ku lakukan. Selamat membaca. Semoga bermanfaat.

Napak tilas #1
Lawu -  Ego, tolong dan menunggu.

Tuhan tahu bukan lautan awan yang ku butuhkan namun saat itu sebuah pengingat tentang betapa manusia adalah mahluk yang egois namun manusia juga selalu  punya pilihan untuk menjadi sebaliknya- untuk menjadi manusia dengan kemanusiaan, untuk berhenti mencoba melawan waktu dan lebih memilih untuk berdamai karena seringkali manusia perlu itu kadang bukan untuk dirinya namun demi kawan seperjuangannya.

Sebagai seorang perantauan dan cewek yang sudah biasa hidup sendiri di kota aku selalu mengingatkan diriku sendiri bahwa aku harus mandiri, jangan menyusahkan orang lain dan jangan merepotkan (baca: minta tolong) orang lain jika tidak benar-benar perlu. Alhamdulillah Alloh memberkahiku dengan kemudahan dalam keseharianku sehingga  boleh dibilang minta tolong menjadi sesuatu yang mulai asing buatku. Kemana-manapun aku lebih sering sendiri. Aku suka keadaan di mana aku bisa merencanakan perjalananku sendiri dan  aku tak perlu menunggu  dan atau mengambil keputusan yang melibatkan pertimbangan orang lain. Semua ku putuskan sendiri atas dasar keperluan dan keegoisanku.
Di Lawu, baru menginjakkan kaki di Jogja saja aku sudah merepotkan K. Pras. Orang pertama yang mewujudkan kata setujunya atas permohonanku untuk mengajakku naik gunung menjadi sebuah aksi nyata. Empat hari libur, ia yakin kami bisa menempuh pendakian Gunung Lawu lintas jalur Cemoro Sewu - Cemoro Kandang.

Gerbang Jalur Cemoro Sewu
*not belong to writer

Kami memulai pendakian pukul 20. 00 bersama 2 pendaki lain yang kebetulan registrasinya bersamaan dengan kami. Aku terkagum-kagum pada k. Pras dan 2 pendaki itu yang mau menungguiku walaupun jalanku seperti keong dan berhenti setiap 5 langkah untuk mengatur nafas. Akhirnya stlh 4 jam kami bisa sampai di Pos 2. Dengan rentang waktu yang sama dua pendaki itu sudah bisa sampai puncak. Namun mereka dengan sabar menemani setiap langkah ku yang tertatih.

Perjalanan dari Pos 2 ke Puncak lebih lama lagi. Meninggalkan Pos 2 Pukul 10.00 sampai di Puncak Pukul 18.30. Kalau pakai waktu tempuh normal sudah bisa tektok alias naik turun. Kebayang kan betapa lambatnya pace- ku, berapa banyak aku berhenti dan betapa sabarnya k. Pras menemaniku selama perjalanan ke Puncak. Duh tidak terbayang kalau aku yang ada di posisi k. Pras. Pasti aku sudah ngegerundel.

*not belong to writer


Tapi memang Alloh mentakdirkan aku belajar tentang ego, tolong dan menunggu  di Lawu.

Summit pertama di pendakian pertamaku. Khusus saat summit ini langit cerah biru membentangkan pemandangan di sekeliling Gunung Lawu

Kami mulai meninggalkan area camp dekat puncak Pukul 09.30. Dalam perjalanan turun dari puncak ke Pos 5 kaki travelmate ku terkilir. Aku tak punya knowledge sama sekali tentang pertolongan pertama sehingga tak bisa menolong. Setelah istirahat sebentar kami lalu melanjutkan perjalanan ke Warung Mbok Yem. Di sana kami berhenti untuk mengistirahatkan kakinya dan mengurutnya dengan teknik seadanya. Perjalanan pun harus ditunda hingga 1.5 jam.

Warung Mbok Yem. Banyak pendaki datang untuk sekedar ngopi atau nge-teh. Banyak juga yang camp di depan warung dengan alasan mengurangi bawaan logistik.


Di sana aku bertemu mbok Yem (wanita legendaris yang hidup di dekat puncak Lawu. Awet muda dan menyediakan supply makanan bagi para pendaki melalui warungnya). Di warung mbok Yem, nikmatnya segelas teh panas akan sangat sulit ditandingi oleh Chinese Tea restoran mewah. Segelas teh panasku kunikmati sambil duduk di pinggir lembah  yang membentang di depan rumah Mbok Yem. Pagi itu syahdu. Langit agak mendung, kabut bergerak menyelimuti area lembah. Kadang ia hilang menyibakkan kombinasi lembah yang hijau dan hamparan hutan mati yang gersang namun tenang. Kadang ia menguasai lembah dan menyisakan kesenduan yang membuat teh panasku semakin diinginkan.
Kopi warung Mbok Yem beserta pemandangan kabut yang sesukanya naik dan turun

Perjalanan dilanjutkan dengan keadaan kaki hikingmate-ku yang belum juga membaik. Sedang aku tak cukup kuat untuk membawa 2 keril, hikingmate- ku harus terus berjalan tertatih dengan beban berat dipunggung.
Menuju Pos 3 kami kehabisan air dan tak bisa menemukan warung seperti di jalur Cemoro Sewu yang ada di setiap pos. Kami pun terpaksa meminta-minta air pada para pendaki yang lewat saat kami kehausan. Di sini aku belajar betapa manusia tak bisa hidup sendiri. Akan ada masa di mana kita akan membutuhkan bantuan orang lain dan kita harus cukup rendah hati dan berlapang dada untuk meminta bantuan sesama.
Rintik hujan mulai menemani sejak dari Pos 3, namun kami memilih untuk terus berjalan. Dengan keadaan kaki hikingmate-ku yang semakin parah, ia tidak bisa berjalan cepat dan akupun harus mengikuti pace-nya. Kami juga tak bisa mengambil jalur yang terjal karena akan semakin menyiksa untuknya. Kami pun harus memilih jalur landai yang memutar jauh sehingga semakin memperlambat gerak kami.

Langit mendung di jalur Cemoro Kandang

Dengan hanya berbekal biskuit kami terus berjalan dan baru sampai di Pos 2 sekitar jam 16.30. Di sana kami bertemu group hiker yang akan naik. Kami nimbrung untuk beristirahat di sana dan tentunya meminta belas kasih mereka untuk bisa berbagi minum dengan kami. Aku yang berharap hanya mendapatkan beberapa teguk saja tercengang karena mereka membiarkan kami minum dari sebuah botol cadangan air mereka dan memberikan 1 botol 375ml full kepada kami. Sebagai pendaki yang baru memulai perjalanan dan dalam group berisi 8 orang perjalanan mereka masih sangat jauh dari sumber air di pos 5. Tapi mereka justru memaksa kami untuk menerimanya. Aku pun berpikir, kalau saat itu keadaan kami ditukar apakah aku akan sudah sampai ke pemahaman mereka tentang berbagi. Aku malu tentang diriku sendiri.
Pos 2 ke Pos 1 kami semakin tertatih. Semakin sulit bertemu jalur landai. Jalur didominasi selokan kecil yang becek karena hujan dan dengan cekungan di tengahnya sehingga kami harus pilih-pilih saat memijakkan kaki. Tenaga ku sudah terkuras dan emosiku mulai tak stabil. Dalam diam rasa khawatirku tumbuh. Aku terus berdoa semoga perjalanan ini segera berakhir. Namun sepertinya jalan masih sangat panjang. Kami baru bisa mencapai Pos 1 sekitar pukul 18.00 saat adzan magrib menjelang.
Lelah, lapar, dan rasa sakit di kakiku yang mulai lecet mensuplai makanan bagi rasa khawatir yang sedang tumbuh dengan asyiknya di dada. Aku terus menyakinkan diriku untuk menghadapi situasi ini dengan kesabaran. Ku hadirkan gambaran kesabaran hikingmate- ku saat penjalanan naik. Yang tak pernah komplain tentang betapa lambatnya aku, memaklumi aku yang ngos-ngosan sepanjang waktu dan segala sikap menyebalkan lainnya. Kali ini giliranku untuk menemaninya karena perjalanan pulang ini adalah perjuangannya. Aku pun belajar tentang betapa menentramkannya menunggu dengan keikhlasan karena kita tahu setiap orang punya perjuangannya masing-masing. Dan kita cukup beruntung karena kita yang terpilih untuk berada di sampingnya, menemaninya berjuang.

Melanjutkan perjalanan seusai magrib kami mendapatkan teman perjalanan baru. Seorang pendaki dari Kudus yang urung mendaki karena ternyata maagnya kambuh. Perjalanan menjadi tak sesepi tadi. Namun kondisi jalur yang basah karena hujan dan banyaknya jalur anak tangga membuat  kaki hikingmateku semakin parah. Ia jatuh terduduk beberapa kali hingga akhirnya di tengah hutan Cemoro Kandang, antara waktu Magrib dan Isya yang cukup mencekam kami berada dititik terbawah kami. Kami terancam tak bisa menlanjutkan perjalanan karena temanku sudah sangat sulit berjalan. Di saat itulah 3 orang pendaki yang turun bertemu dengan kami yang memblokir jalur.  Mereka berhenti dan menanyakan situasi kami. Mereka langsung berinisiatif untuk mengecek keadaan hikingmate-ku dan mengeluarkan krim urut untuk bantu memijat kaki hikingmate-ku yang terkilir. Salah satu dari mereka juga menawarkan untuk membawakan carrier hikingmateku agar dia tak perlu jalan dengan membawa beban. Di sana aku kembali terpana oleh kuasa Alloh dan kebaikan hati manusia.
Disaat paling terpuruk kami di sanalah Alloh menghadirkan bantuan dari arah yang tak terduga-duga bukan hanya untuk kaki hikingmateku tapi juga untuk meringankan beban perjuangannya. Tiga orang pahlawan itu adalah Kak Galih, Mas Ricky dan Mas Raffy. Dari Kak Galih juga kemudian kesempatanku untuk mendaki gunung-gunung yang lain muncul. Ia mengundangku untuk gabung di group whatsapp dia dan teman-teman traveling-nya. Di sanalah ku temukan traveling mates baru dan beberapa di antaranya telah tumbuh menjadi hikingmate terbaik dalam pendakian-pendakianku.

Bukan gulungan awan dan hijaunya hutan Lawu, namun kerendahan hati dan kesabaran adalah hadiah yang ditunjukkan Lawu padaku saat itu. Hal berharga yang menjadi bekalku di perjalanan-perjalanan selanjutnya.

Bersambung ke Napak Tilas #2

Sunday, 18 June 2017


Saya adalah newbie hiker. Baru Mei tahun 2015 mendapatkan kesempatan untuk naik gunung karena kebaikan kakak angkatan saya saat kuliah yang mau menemani saya mendaki Gunung Lawu untuk pertama kalinya.

Terus terang saya mulai mendaki karena penasaran dengan bagaimana mendaki telah mengubah cara pandang  terhadap alam dan hidup pendaki-pendaki yang saya kenal. Di samping itu tentu saja karena saya ngiler melihat foto-foto para pendaki yang sedang muncak. Berdiri di puncak gunung dan disuguhi hamparan awan putih yang bergulung-gulung dia bawah kaki. Belum lagi foto-foto sunrise yang breathtaking. Saya sangat penasaran akan sensasinya jika mengalaminya langsung. 
Ngomong-ngomong soal sensasi di puncak gunung. Aku akan berbagi sedikit tentang 3 puncak gunung yang telah ku daki

1. Puncak Lawu- Puncak Hargo Dumilah 3265 mdpl. Mentari sudah timbul di ufuk timur saat aku keluar dari tenda. Warna ungu, jingga, hitam, putih, kuning berbaur menciptakan semburat yang indah. Setelah sedikit peregangan dan melakukan ritual pagi, aku paksa teman mendakiku yang masih malas-malasan di tenda untuk keluar dan bernagkat ke puncak. Ternyata jaraknya dekat sekali. Hanya 1 menit jalan kaki . 
Saat sampai di puncak matahari perlahan naik. Aku sangat beruntung karena mendapat kesempatan untuk melihat bayangan segitiga Gunung Lawu di sisi barat gunung. Bayangan yang hanya bisa dinikmati dalam beberapa detik. 




Alhamdulillah, langit cerah pagi itu. Namun tak ada gumpalan awan disana. Langit Lawu terlalu bersih. Terlalu biru. Angin bertiup kencang namun sangat sejuk bahkan cenderung dingin.  Sedikit kecewa karena tak ada adegan foto di atas awan. Tapi sensasinya luar biasa. Menjadi bagian dari keindahan yang masif seperti itu aku tiba-tiba merasa kecil dan merasa kurang bersyukur atas alam yang dihamparkan Tuhan. 




2. Puncak Rajabasa
Rajabasa adalah gunung yang berada disekitar pesisir tenggara Lampung. Tipikal gunung yang berada didekat pantai dan tidak terlalu tinggi -1281 mdpl, udaranya tidak terlalu dingin namun berlimpah angin.  Angin kencang terus menyerang tenda kami sejak malam. Sleeping system saya berupa baju dan celana panjang, jaket polar, sleeping bag dan sleeping pad klymit tiba-tiba terasa berlebihan. 


Kira-kira pukul 5.00 pagi saya keluar dari tenda karena rasanya sudah sangat cukup tidur dan tak ingin melewatkan moment sunrise. Setelah sholat subuh saya fokus mengamati sekitar. Angin terus berhembus kencang namun tidak membawa hawa dingin. Cuaca agak mendung di sebelah timur sehingga sinar matahari yang mulai muncul tidak bisa menembus gumpalan awan kelabu di depan kami. Hanya sedikit semburata jingga yang menjadi penanda di sanalah matahari berada. Lagi-lagi saya tidak bisa menikmati romantisme ngopi di atas awan.



Namun lain ceritanya dengan sisi barat daya Gunung Rajabasa. Laut menghampar luas. Di pinggirnya terlihat kelap- kelip lampu dari perkampungan penduduk di bawah kami. Garis pantai perlahan terlihat jelas dan menyajikan sensasi tersendiri karena saya dapat menikmati 2 lanskap favorit saya sekaligus - laut dan gunung. 


3. Puncak Gede 2958 mdpl - Happy banget sama ketua pendakian kali ini. Pukul 04.30 kami sudah dibangunkan karena sudah dijadwalkan untuk sunrise catching. Dari pendakian sebelumnya saya sudah belajar untuk tak banyak berharap akan langit yang cerah atau berdiri di atas kumpulan awan. Saya memustuskan untuk summit karena ingin menginjakkan kaki di Puncak Gede. 

Memulai perjalanan summit Pukul 5.20 ternyata udara masih cukup dingin. Kami semua memakai warm system lengkap dan tak lupa headlamp untuk penerang jalur karena hari masih gelap. Jarang berada diketinggian sekitar 3000mdpl bikin nafasku dan beberapa teman pendakian lainnya engap-engapan. Alhasil kita sering break untuk atur nafas. 

Di tengah perjalanan ternyata matahari sudah mulai terbit. Kami terpaksa menikmatinya dengan mencuri pandang dari sela-sela pohon yang sudah mulai jarang karena sudah dekat puncak. 
Akhirnya setelah 40 menit kami sampai di puncak dan benar saja, langit mendung pagi itu. Kami tidak bisa menemukan semburat jingga atau pun mentari pagi yang mulai menguning. Namun sudah sampai di Puncak Gede saja sudah memenuhi dadaku dengan keharuan- finally another summit with beloved hikingmates. 
Kaharuan lain memenuhi dada, memandang Gunung Pangrango dari Puncak Gede terasa sangat nostalgic. Teringat perjuangan saat mendaki Pangrango beberapa bulan sebelumnya. Dari Kandang Badak ke Puncak menjadi jalur terberat yang pernah ku daki waktu itu. Salah perkiraan waktu, kami terpaksa harus terus melaju walaupun hari sudah petang. Tak ada tempat camp di jalur.  Dalam keadaan lapar, lelah dan diguyur hujan kami mencoba mengerahkan sisa-sisa tenaga untuk menghadapi jalur 3D yang tak habis-habis. Keadaan itu sangat menguras emosi, saya tahu benar saat itu saya sangat gusar. Namun saya sangat beruntung karena hiking mates saya waktu itu sangat pengertian dan sabar menghadapi saya yang sudah sangat cranky. Pukul 7.30 kami baru sampai di puncak dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Mandalawangi untuk camp. 





Itulah mengapa memandang Pangrango dari Gede menjadi sangat nostalgic buat saya saat itu. Saya dan hiking mates saya (yang juga hiking mate di Pangrango) tiba-tiba excited untuk lebih fokus memandangi Pangrango. Tersenyum manis pada kenangan yang telah kami lalui di sana dan melupakan kekecewaan karena mendung yang menggulung di langit Gede.  
Saat itu Pangrango terlihat sangat gagah. Ada suatu kengerian yang sulit dijelaskan di sana dan aku bersyukur Pangrango sudah sangat baik padaku saat itu. 



Gerimis sempat mampir di Puncak Gede. Namun kami urung turun karena langit mulai cerah saat kami bersiap turun. Di sebelah kiri Puncak Gede, awan putih dan langit biru mulai terhampar. Mentari pun mulai menunjukkan teriknya di timur sana. Saya kembali dihadapkan pada keindahan masif yang membuat saya merasa sangat kecil dihadapan hamparan keindahan ciptaan Tuhan ini. Tiba- tiba semua ini membawa saya pada kesadaran bahwa Tuhan Maha Baik karena telah menciptakan kemewahan gunung - gunung yang untuk menikmatinya kamu tidak harus jadi milyader. Yang harus kamu miliki adalah tubuh yang sehat untuk bisa mendaki dan termasuk sepasang mata untuk menikmati kemewahan  itu. Dan Tuhan telah memberikannya padamu sejak kamu lahir. Yes all you need to enjoy those luxurious beauty is already there since you were born. Gede terima kasih telah mengizinkan kami menginjakkan kamki di puncakmu untuk melihat keindahan yang mewah ini. 

Puncak-puncak gunung yang kudaki terus menghadirkan sensasi-sensasi yang khas. Tak melulu melalui gumpalan awan putih dan langit yang indah. Kadang melalui perjuangan untuk mendakinya, cerita yang dibagi  oleh dan bersama teman-teman pendakian, maupun beraneka lanskap menakjubkan  yang rasanya terlalu sederhana jika dikerucutkan menjadi gumpalan awan dan langit biru. 
Lalu biarlah aku menasehati diriku sendiri terkait ini - *Saat kau memutuskan untuk mendaki lagi, biarkan alam memutuskan dengan cara apa ia akan menyapamu kali ini*

Saturday, 20 May 2017



1
Tak usah kau tunggu kata-kata indah
Aku itu sedang berdarah, lemah, memilih menyerah pada gundah
Aku rasa hatiku patah

2
Aaah kau, sok kalah pada rasa yang selalu serakah!!!
Berhentilah menjalarkan gundah
Berpura-pura mengerti arti kata menyerah
Dan jangan bodoh
Kau tahu - Hati itu darah... iya tak patah

1
Sialan... aku ini sedang sedih
Hiburlah dengan sedikit welas asih
Bukannya menghunus-hunuskan logika
Pada rasa yang sekarat kehilangan asa




2
Lalu apa??  Kau mau mengistirahatkan logika
Membiarkan iya mati suri oleh asa yg memang sudah tak lagi di sana
Namun sampai kapan? Kau tahu hidup terus berjalan
Alam terus menyajikan keindahan-keindahan

1
Aaaah aku memang masih berduka
Namun Logika ......tetaplah di sana
Bantu aku melepaskan rasa yang tinggal asa
Bantu aku mencabutnya dari akar jiwa
Agar rasa baru dapat menerpa dan menggantikan asa usang yang melegenda


*pictures are not belong to me



Sunday, 14 May 2017

After months receiving request from my father to visit my aunty in Cianjur, finally I made it through a quiet long detour. After went home for my foster grandpa funeral, I was heading back to Java Island not to directly going back to Tangerang but to Cianjur. Beside silaturahim, my visit to Cianjur is to, hopefully, get a broader inside about how life is in this city.

Cianjur is not too far from Jakarta, it takes just 3.5 hours from Rambutan Bus station. Yet, my journey was taking too long, 10 hours from Merak to Cianjur. It is because the bus take too much stop and detour as attempt to get more  for passanger.  The normal time should only be 6 - 7 hours. If you want to visit Cianjur from Merak I would like to suggest you to take transit in Rambutan and then take Marita to Cianjur.
Bypass Cianjur. Photo from DiCianjur.com

Anyway, being satelite city of Bogor, Cianjur has a chill weather and not much of air polution.  Entering the city at almost dawn, I can feel that the society still live modestly. At this time still not much of society going out to do too-early business like in Tangerang or Jakarta. Seems people are still sleeping nicely on their bed. I can say, Cianjur greeted me with two positives lifestyle show.

However, I would say the lifestyle my aunty and her family do might a little bit uncommon for most people. So it is not a depiction of generalize Cianjur society lifestyle.

Around 4.15 am people wakes up and go to mosque for early morning prayer. I clean up and  pray at home. After my uncle and his children come back from mosque, I, my aunty and my uncle sat in living room and enjoyed the morning talks.
It was about updating what we are up to, what's for the next couple years and of course the talk about marriage- they offer to introduce me to their friends. But lets skip this part. 😂

From our morning discussion I learn that Cianjur is now slowly changing into industrial region. Several factory producing international brand has start their factory operation in Cianjur thia last few years and more to come. Many farmfield are converted into factory. People are moving their hope from selling harvested crop to monthly wage from those factory. Cianjur is urbanizing.

I asked them what most people in the neighbourhood do for life. Teachers are the most common profession. Even the non education major also join the force. Second is business owner (small scale industry). Another one is farmer, but mostly in the subdistrict of Cianjur, in the downtown side.

I dont like the fact that people is leaving farmer profession to pursue job as manufacturing worker. What's the difference from Tangerang society??

PT Pou Yuen Indonesia, Shoe Factory in Cianjur. Photo from Detik Business

It is sad to give up to the fact development means industrialization. Even Cianjur which the area is hilly, manufacture are still  considered it very tempting to develop their factory here. It is considerably good for developing country where the government wants a continueing flow of investment. But, the growing number of this manufacturing would also means the coming of job opportunity which lead to growing demand  on output of machinated human from our education system. People who would rely on their source of life to their salary from manufacture,. The salary is, then, used to by rice. The rice that used to come from their own paddy field but probably sold to pay their education fee. This education is considered paramount to fulfill the requirement to join the manufacture.
Amd finally society would realize that life is not as easy as it use to be when they still wat from thwie own paddy field and vegetable farm. That working for manufacturing is the only chance to survive for its where you can get money to by food.

Life is hard here.

Saturday, 6 May 2017

Dua hati berdera menuju belantara.
Bersama beriringan namun tak seirama


1.
Duhai hati yang menemaniku di perjalanan ini
Aku terjebak memori

2.
Duhai hati yang mengembara sedari tadi
Genggam tanganku dan mari berlari
Kita ciptakan memori kta sendiri


1.
Aku tak suka belantara
Terlalu banyak dia

2.
Hi Belantara
Ku tapaki kedamaianmu bersama dia

1.
Aku benci udara belantara
Sesak dadaku dikepung memori akan aroma indahnya

2.
Duhai udara belantara
Biarkan ku simpan aroma tubuhnya di dada


1.
Ah deru air, sentuhanmu dingin
Semakin membekukan memori yang tak ku ingin

2.
Wahai gemericik, sejuk sentuhanmu mengundang syukurku
Atas rasanya padaku

Satu hati dalam diam merana
Satu lagi dalam tenang merajut rasa 
Satu hati terjebak rona memori
Satu lagi terhuyung - huyung merangkai kenangan di hati




Monday, 27 March 2017

I was one of person who believe that live in a big city is a huge advantage for its facility, connection and working opportunity. But, I start to doubt my own perception because life is hard here. It beats you everyday and in th

at everyday you have to get up and keep move on for tomorrow is still coming. You will need to at least feed yourself to stay alive -if saying fight back is too much. Life is hard here becuase the availability of facility does not necessarily mean that you can access the facility or you dont need it. Here, facility does not feel like privilege, it is just a daily need. And to build connection, you need time (you have to admit, your time is very limited) and (most of time) you need money to be connected with many. Not to mention, you dont always get the job that you like. 
Therefore recently I started to question if life could be better if I live in a different place, if I am having different job, is there a better thing I can do for myself but not here. I start seeing living in rural area as an option. 
This weekend I am forced to take a detour from my holiday plan, from hiking to go home (to Lampung) because my foster grandpa passed away. Sad indeed, but I also try to take the opportunity to get input from my family and neighbour about my plan. I would like to know "how is life in rural place like this?". I drawn myself into their daily conversation. As you may imagine it is an anywhere opportunity to get. In a village, you can get the talk about life anywhere and anytime. Take time to visit them in their house- join them in the afternoon talk after naaping time or in the evening after dinner, they will tell you all the story you missed from the village. 
The stories flow. In the village where my parent live, *Life is Hard, Dear*. People get sick. The same illness suffer by people in big city. Stroke, heart attach, diabete, leukimia, breast cancer and many more. Health facility is very basic here. The nearest hospital is 70 km away. For light illness people go to "Puskesmas" or community health center.  Private doctor is another option. Life is hard  here in my village, for "to live in village is a healthier life" is just a myth. 

A man just came back from his farm. The background is the empty market . The activivy stop at apptoximately 10.00 am. Many tenant just get enough money to eat for that day because they do not sell alot. 

Another fact is that people are trapped in loan. It is a common practice for civil servant. They will hypothecate their civil servant certificate to be in debt to bank.  People talked about Mr. A have a huge bank loan for his child school in Germany and failed to pay because here in the country the child cannot get a job that cover his study expense. Mr. B took loan to buy car. People was shocked knowing that Mr. And  Mrs. C got divorce and Mr. C refuses to split their loan to build house and buy car. Now Mrs. C should pay those choking debt by herself. 

Right Pict: Tradisional house of Lampung. Left Pict: Typical contemporer house built by society nowadys

Once again, I thought only people in big city would take this risky lifestyle. I, myself, is trying hard to avoid debt especially to entity like bank. I do not take any offer to have credit card for I am affraid I cannot control my shopping appetite. I thought people in the village would realize it better that economic situation in the area do not give them much opportunity to invest and multiple their money moreover if civil servant salary is the only source of income they have. Life is hard here for the expensive lifestyle
Talking about economic situation, farming is no more a potential source of income. For example, 3 years ago cassava and corn have a huge profit potential, but now the price is going down and farmers are loosing their profit. Other commodity like durian, papaya, chilli etc are affected by bad weather. The price is high but they can only harvest a few. It is pretty different in the city. People are still going to work despite bad weather. They still get monthly salary regardless their productivity. 
In the village, it gets worse by security concern. Robbery is daily news for society and install terror in their head. It limits society mobilization and willingness to buy valuable things for they are affraid it will endangered themselves. Security is almost not a concern in the city, especially Jakarta. Government wants to make investor feel safe. Their money is save. Their investment is safe. While, it is totally different here in the village. The robbery is an old news but seems government has no power over the criminal. Society live in terror. But who cares, maybe because there is no investor money to be protected. Who cares that it affects economic activity of the villagers. People are affraid or  do not have money to buy things. Market is empty. Money circulates very slowly. This district is dying. 
Sadly, I have to conclude  that, *life is hard here for economic activity does not work properly*. 
I have not given up to find a comparison. I decided to visit my uncle in Cianjur, a district on West Java. 
(to be continued)

Aneh rasanya, benar-benar berada dalam petuah *semuanya diciptakan berpasangan*. Eits.. aku nggak lagi mau bahas tentang jodoh. Ini tentang hidup dan mati.

Beberapa hari lalu,  aku dapat kabar bahwa kakekku (Mbah Awi) meninggal - kakek angkat ayah, tapi beliau sungguh sayang kepada kami cucu-cucu bukan kandungnya. Beliau selalu mengingatkanku pada mbah kakung dalam hal fisik, namun benar-benar dalam versi yang berbeda dalam hal karakter. Mbah kakung orang yang tegas ceplas ceplos dan cenderung kejawen. Mbah Awi lembut sekali, tutur bahasanya terucap rapi ciri khas cendikiawan dan memegang teguh islam dalam kesehariannya. Yang pasti keduanya baik dan aku ingin mengamalkan teladan-teladan kebaikan mereka. Semoga keduanya diberi tempat yang indah di sisi Alloh.

Ada mati dan ada hidup. Keesokan harinya di jam makan siang, seorang teman kantor bercerita riang di tangah kantor " hore, garis dua... garis dua*. Akhirnya istrinya hamil. Terdengar ada getaran haru, bahagia dan cemas dalam teriakan itu. Semua orang menyelamati.

Aku sendiri lalu memikirkan tentang betapa manusia dengan sangat mudah digantikan. Hari ini aku kehilangan, di hari yang sama seorang teman menerima kehadiran kehidupan baru. Sangat urgent rasanya untuk segera menyadari dan menjelang tujuan hidup sebelum Tuhan memutuskan sudah saatnya aku digantikan oleh nyawa lainnya.