Pangrango, Mengenal Batasan Fisik Ku.
Salah satu anugerah dari sebuah perjalanan jika kita mau membuka diri pada kawan baru dan kawan perjalanan baru adalah sebuah jaringan pertemanan yang mungkin akan membawamu pada perjalanan-perjalanan lainnya. Masih ingat Kak Galih, salah satu anggota pendaki yang menolongku di Gunung Lawu. Pertemuan itu berlanjut pada undangan untuk bergabung ke Kemcer Whatsapp group. Salah satu perjalananku dengan tim Kemcer ini adalah Pendakian Pangrango pada November 2016 lalu.
Aku, Kak Galih, Maretha dan Kak Chandra.
Melalui jalur Cibodas, Base Camp Kandang Badak kami lalui tanpa kesulitan berarti.
 |
| Jalur makadam yang mendominasi perjalanan dari base camp TNGGP Cibodas hingga Pos Panyancangan |
Memasuki Hutan TNGGP, aku tersusupi keindahan yang sangat aku suka. Hutan ini sangat memukauku. Lebat, sejuk, cahaya matahari ada tapi sama sekali tidak mendominasi. Udaranya segar, aromanya khas. Sesuatu yang tak dapat ku lihat namun dengan sangat jelas bisa ku cium dan akan sering ku rindukan. Suasananya sunyi dari gemuruh suara buatan manusia. Obrolan dan candaan kami tersaingi oleh suara berisik hewan-hewan penghuni Gede. Mereka seperti tak peduli akan kehadiran kami. "INI RUMAHKU, KALIAN ADALAH PENDATANG, AKU AKAN MENGOCEH SESUKAKU" mungkin begitu runtuk mereka. Ah... aku terpesona.
 |
| Pohon-pohon besar yang banyak ditemui di TNGGP |
Sayangnya perkiraan kami meleset. Mumgkin kami tetlalu menikmati suasana sehingga batu sampai di Kandang Badak pada 13.30 WIB. Satu jam terlambat dari rencana. Teman kami yang sudah pernah ke Puncak Pangrango sempat menasehati agat kami tidak melanjutkan perjalanan ke puncak jika Pukul 1 kami belum siap jalan dari kandang Badak Ke Puncak. Namun saat itu keinginan kami sangat kuat untuk bisa berkemah di Lembah Mandalawangi - Lembah Cinta. Kami pun melanjutkan perjalanan ke Puncak Pangrango pada Pukul 14.30.
Perjalanan dari kandang badak ke mandalawangi menyadarkanku bahwa lapar, gelap dan lelah adalah kombinasi yang akan memicu kegusaranku.
Perjalanan yang diperkirakan hanya 3 jam ternyata belum juga berakjir setelah 4 jam. Hari sudah mulai gelap, hujan mulai turun dengan ramainya, kami tak bisa berhenti dan membangun tenda dan memasak walaupun semua anggota sudah letih dan lapar karena tak ada tempat yang cukup besar untuk mendirikan tenda kami yg kap 4. Tanjakan-tanjakan 3D ku lalui dengan sisa-sisa tenaga. Nafas tersengal-sengal dan perut keroncongan. Disaat itulah saya merasa sangat beruntung berada dalam tim ini.
 |
| Ini pas turun, pas naiknya g kepikiran buat foto 😑 |
K. Chandra menjadi obor semangat- tanjakan 3D justru menyulut semangatnya. Menularkannya pada tim yang sudah kehabisan baterai semangat, terutama aku dan k. Galih. Tetha- ku temukan dia sebagai seorang yang sangat konsisten dalam keceriaannya apapun situasi yang dihadapi. Stock adrenalinnya seperti tak habis-habis. Dengan sangat sabar dia menyemangatiku, menungguku yang kesulitan mengangkat badan dan keril dibahu di tanjakan-tanjakan 3D yg seperti tak habis-habis itu. Tetap tersenyum saat aku menanggapi kalimat semangatnya dengan wajah acuh tak acuhku. Setiap ingat momen ini, aku ingin peluk dia erat-erat sebagai tanda terima kasih.
K. Galih- sebut saja teman seperjuangan sebagai pendaki selower. Sebagai sweeper k. Galih sangat konsisten menjaga posisi di paling belakang. Aku dan dia 11-12 dalam hal mengatur nafas. Tapi sabarnya k. Galih tuh sekonsisten ke-unyuan-nya. Sambil atur nafas sambil waspada jagain kami yang di depannya. Salim Kakak ketua ter -nggemesin.
Satu jam sejak kami mulai mendaki jalur sulit di bawah guyuran hujan dan sepertinya belum akan habis. Tapi kami sepakat kami harus terus bergerak agar segera sampai di area camp impian kami.
Aku lelah, cemas dan menjadi semakin tak sabaran. Tetha beberapa kali kena semburan ketidaksabaranku. Tapi ia tak bergeming (#peluktetha).
 |
| #pelukerat #travelmate |
Dalam keadaan mental dan fisik yang sudah kacau balau kami tetus berjalan berharap segera bertemu jalur landai lurus yang kata pendaki yang kami temui dijalur, itu merupakan pertanda kami sudah dekat dengan puncak.
Akhirnya pada pukul 19.30 kami sampai di jalur landai itu dan kami pun segera tiba di Puncak Pangrango. Bertukar sedikit cerita dengan pendaki yang camp di Puncak , kami lalu menuju Lembah Mandalawangi. Gelap, dingin, sunyi dan cenderung mencekam. Tim cowok buru-buru mendirikan tenda, aku dan Tetha masak air dan makanan sekedarnya. Kami terlalu lelah dan tak sanggup rasanya menantnag dingin Mandalawangi malam itu. Kami pun memilih tidur.
Melangkahkan kaki keluar dari tenda di pagi itu adalah sebuah pengalaman magis. Aku tergugu dipeluk oleh syahdunya Lembah Mandalawangi.
Udara dingin dengan angin yang menyapa lembut. Langit biru cerah hampir tak terhalang awan. Bukit-bukit hijau di sekeliling Mandalawangi. Hamparan Edelweiss yang menjadi primadona dalam kumpulan keindahan ini dilengkapi wajah-wajah berseri rekan pendakianku. Aku terhipnotis. Seperti ada rindu yang diselipkan direlung hatiku oleh Mandalawangi. Rasa rindu yang sudah muncul walaupun aku bahkan belum betanjak dari sana. Mungkin ini yang dinamakan mendapatkan "keistimewaan" atau privilege. Saat kamu tahu kamu mendapatkan privilege, kamu tahu itu tak bisa kamu miliki selamanya. Karena privilege hanya berlaku pada konteks tertentu. Dan kali ini konteks nya adalah Keramahan Mandalawangi di suatu pagi bersama rekan-rekan yang luar biasa istimewa dihatimu. Aku seketika merasa sendu namun juga bahagia atas moment istimewa itu. Menulis pengalaman inipun seperti menyulut api pada bara rindu akan Lembah Mandalawangi.
 |
| Sesaat sebelum meninggalkan Lembah Mandalawangi. Berusaha menyimpan sebanyak-banyaknya memori tentang kesyahduannya dalam ingatan |
Di Pangrango aku belajar memahami batasan fisik dan emosiku dan belajar dari timku tentang bagaimana hal itu tak seharusnya melemahkan fisik dan jiwa kita sepenuhnya. Saat itu aku masih kalah. Namun semoga diperjalanan berikutnya aku menjadi lebih bijak dan lebih kuat secara mental maupun fisik. Dalam kehidupan sehari-hari pun seringkali kita merasa lelah dan terombang-ambing emosi. Karena beban atau masalah yang dihadapi. Namun satu yang pasti, kita tidak boleh berhenti dan yang lebih penting lagi kita tidak boleh membiarkan emosi menguasai kita dan membuat orang-orang yang sama-sama berjuang bersama kita menjadi tidak nyaman. Mari selalu mengingat bahwa perjuangan ini dimulai bersama, dengan tujuan yang sama dan akan dicapai bersama dengan tangan yang masih saling menggenggam untuk menguatkan satu sama lain. Terima kasih Tim Kalajengking Hitam (nama group yang kami coretkan secara asal pada form registrasi).
 |
| Tim Kalajengking Hitam (baca: Kemping Ceria) di sebuah pagi di Lembah Mandalawangi |
 |
| Gambaran jalur dari Kandang Badak ke puncak |
 |
| Penanda Puncak Pangrango |
 |
| Istirahat sejenak dalam bingkai hutan lebat yang sejuk |
0 comments:
Post a Comment