Melihat gulungan awan di Papandayan akhir minggu ini seketika memberiku jawaban mengapa Lautan Awan yang ku cari baru bisa ku temui di Merapi. Sungguh Rencana Tuhan Itu Indah dan Hadir di saat Terbaik.
 |
| Semburat mentari dan kumpulan awan di Papandayan. 16/07/17 |
Tuhan mau aku mendapatkan hikmah yang lain dari pendakian-pendakian sebelum Merapi agar iya menjadi hamparan awan pertama dan menggulung kan kenangan manis tak terperi.
Tulisan ini akan menjadi seri napak tilas beberapa pendakian yang telah ku lakukan. Selamat membaca. Semoga bermanfaat.
Napak tilas #1
Lawu - Ego, tolong dan menunggu.
Tuhan tahu bukan lautan awan yang ku butuhkan namun saat itu sebuah pengingat tentang betapa manusia adalah mahluk yang egois namun manusia juga selalu punya pilihan untuk menjadi sebaliknya- untuk menjadi manusia dengan kemanusiaan, untuk berhenti mencoba melawan waktu dan lebih memilih untuk berdamai karena seringkali manusia perlu itu kadang bukan untuk dirinya namun demi kawan seperjuangannya.
Sebagai seorang perantauan dan cewek yang sudah biasa hidup sendiri di kota aku selalu mengingatkan diriku sendiri bahwa aku harus mandiri, jangan menyusahkan orang lain dan jangan merepotkan (baca: minta tolong) orang lain jika tidak benar-benar perlu. Alhamdulillah Alloh memberkahiku dengan kemudahan dalam keseharianku sehingga boleh dibilang minta tolong menjadi sesuatu yang mulai asing buatku. Kemana-manapun aku lebih sering sendiri. Aku suka keadaan di mana aku bisa merencanakan perjalananku sendiri dan aku tak perlu menunggu dan atau mengambil keputusan yang melibatkan pertimbangan orang lain. Semua ku putuskan sendiri atas dasar keperluan dan keegoisanku.
Di Lawu, baru menginjakkan kaki di Jogja saja aku sudah merepotkan K. Pras. Orang pertama yang mewujudkan kata setujunya atas permohonanku untuk mengajakku naik gunung menjadi sebuah aksi nyata. Empat hari libur, ia yakin kami bisa menempuh pendakian Gunung Lawu lintas jalur Cemoro Sewu - Cemoro Kandang.
 |
Gerbang Jalur Cemoro Sewu
*not belong to writer |
Kami memulai pendakian pukul 20. 00 bersama 2 pendaki lain yang kebetulan registrasinya bersamaan dengan kami. Aku terkagum-kagum pada k. Pras dan 2 pendaki itu yang mau menungguiku walaupun jalanku seperti keong dan berhenti setiap 5 langkah untuk mengatur nafas. Akhirnya stlh 4 jam kami bisa sampai di Pos 2. Dengan rentang waktu yang sama dua pendaki itu sudah bisa sampai puncak. Namun mereka dengan sabar menemani setiap langkah ku yang tertatih.
Perjalanan dari Pos 2 ke Puncak lebih lama lagi. Meninggalkan Pos 2 Pukul 10.00 sampai di Puncak Pukul 18.30. Kalau pakai waktu tempuh normal sudah bisa tektok alias naik turun. Kebayang kan betapa lambatnya pace- ku, berapa banyak aku berhenti dan betapa sabarnya k. Pras menemaniku selama perjalanan ke Puncak. Duh tidak terbayang kalau aku yang ada di posisi k. Pras. Pasti aku sudah ngegerundel.
 |
| *not belong to writer |
Tapi memang Alloh mentakdirkan aku belajar tentang ego, tolong dan menunggu di Lawu.
 |
| Summit pertama di pendakian pertamaku. Khusus saat summit ini langit cerah biru membentangkan pemandangan di sekeliling Gunung Lawu |
Kami mulai meninggalkan area camp dekat puncak Pukul 09.30. Dalam perjalanan turun dari puncak ke Pos 5 kaki travelmate ku terkilir. Aku tak punya knowledge sama sekali tentang pertolongan pertama sehingga tak bisa menolong. Setelah istirahat sebentar kami lalu melanjutkan perjalanan ke Warung Mbok Yem. Di sana kami berhenti untuk mengistirahatkan kakinya dan mengurutnya dengan teknik seadanya. Perjalanan pun harus ditunda hingga 1.5 jam.
 |
| Warung Mbok Yem. Banyak pendaki datang untuk sekedar ngopi atau nge-teh. Banyak juga yang camp di depan warung dengan alasan mengurangi bawaan logistik. |
Di sana aku bertemu mbok Yem (wanita legendaris yang hidup di dekat puncak Lawu. Awet muda dan menyediakan supply makanan bagi para pendaki melalui warungnya). Di warung mbok Yem, nikmatnya segelas teh panas akan sangat sulit ditandingi oleh Chinese Tea restoran mewah. Segelas teh panasku kunikmati sambil duduk di pinggir lembah yang membentang di depan rumah Mbok Yem. Pagi itu syahdu. Langit agak mendung, kabut bergerak menyelimuti area lembah. Kadang ia hilang menyibakkan kombinasi lembah yang hijau dan hamparan hutan mati yang gersang namun tenang. Kadang ia menguasai lembah dan menyisakan kesenduan yang membuat teh panasku semakin diinginkan.
 |
| Kopi warung Mbok Yem beserta pemandangan kabut yang sesukanya naik dan turun |
Perjalanan dilanjutkan dengan keadaan kaki hikingmate-ku yang belum juga membaik. Sedang aku tak cukup kuat untuk membawa 2 keril, hikingmate- ku harus terus berjalan tertatih dengan beban berat dipunggung.
Menuju Pos 3 kami kehabisan air dan tak bisa menemukan warung seperti di jalur Cemoro Sewu yang ada di setiap pos. Kami pun terpaksa meminta-minta air pada para pendaki yang lewat saat kami kehausan. Di sini aku belajar betapa manusia tak bisa hidup sendiri. Akan ada masa di mana kita akan membutuhkan bantuan orang lain dan kita harus cukup rendah hati dan berlapang dada untuk meminta bantuan sesama.
Rintik hujan mulai menemani sejak dari Pos 3, namun kami memilih untuk terus berjalan. Dengan keadaan kaki hikingmate-ku yang semakin parah, ia tidak bisa berjalan cepat dan akupun harus mengikuti pace-nya. Kami juga tak bisa mengambil jalur yang terjal karena akan semakin menyiksa untuknya. Kami pun harus memilih jalur landai yang memutar jauh sehingga semakin memperlambat gerak kami.
 |
| Langit mendung di jalur Cemoro Kandang |
Dengan hanya berbekal biskuit kami terus berjalan dan baru sampai di Pos 2 sekitar jam 16.30. Di sana kami bertemu group hiker yang akan naik. Kami nimbrung untuk beristirahat di sana dan tentunya meminta belas kasih mereka untuk bisa berbagi minum dengan kami. Aku yang berharap hanya mendapatkan beberapa teguk saja tercengang karena mereka membiarkan kami minum dari sebuah botol cadangan air mereka dan memberikan 1 botol 375ml full kepada kami. Sebagai pendaki yang baru memulai perjalanan dan dalam group berisi 8 orang perjalanan mereka masih sangat jauh dari sumber air di pos 5. Tapi mereka justru memaksa kami untuk menerimanya. Aku pun berpikir, kalau saat itu keadaan kami ditukar apakah aku akan sudah sampai ke pemahaman mereka tentang berbagi. Aku malu tentang diriku sendiri.
Pos 2 ke Pos 1 kami semakin tertatih. Semakin sulit bertemu jalur landai. Jalur didominasi selokan kecil yang becek karena hujan dan dengan cekungan di tengahnya sehingga kami harus pilih-pilih saat memijakkan kaki. Tenaga ku sudah terkuras dan emosiku mulai tak stabil. Dalam diam rasa khawatirku tumbuh. Aku terus berdoa semoga perjalanan ini segera berakhir. Namun sepertinya jalan masih sangat panjang. Kami baru bisa mencapai Pos 1 sekitar pukul 18.00 saat adzan magrib menjelang.
Lelah, lapar, dan rasa sakit di kakiku yang mulai lecet mensuplai makanan bagi rasa khawatir yang sedang tumbuh dengan asyiknya di dada. Aku terus menyakinkan diriku untuk menghadapi situasi ini dengan kesabaran. Ku hadirkan gambaran kesabaran hikingmate- ku saat penjalanan naik. Yang tak pernah komplain tentang betapa lambatnya aku, memaklumi aku yang ngos-ngosan sepanjang waktu dan segala sikap menyebalkan lainnya. Kali ini giliranku untuk menemaninya karena perjalanan pulang ini adalah perjuangannya. Aku pun belajar tentang betapa menentramkannya menunggu dengan keikhlasan karena kita tahu setiap orang punya perjuangannya masing-masing. Dan kita cukup beruntung karena kita yang terpilih untuk berada di sampingnya, menemaninya berjuang.
Melanjutkan perjalanan seusai magrib kami mendapatkan teman perjalanan baru. Seorang pendaki dari Kudus yang urung mendaki karena ternyata maagnya kambuh. Perjalanan menjadi tak sesepi tadi. Namun kondisi jalur yang basah karena hujan dan banyaknya jalur anak tangga membuat kaki hikingmateku semakin parah. Ia jatuh terduduk beberapa kali hingga akhirnya di tengah hutan Cemoro Kandang, antara waktu Magrib dan Isya yang cukup mencekam kami berada dititik terbawah kami. Kami terancam tak bisa menlanjutkan perjalanan karena temanku sudah sangat sulit berjalan. Di saat itulah 3 orang pendaki yang turun bertemu dengan kami yang memblokir jalur. Mereka berhenti dan menanyakan situasi kami. Mereka langsung berinisiatif untuk mengecek keadaan hikingmate-ku dan mengeluarkan krim urut untuk bantu memijat kaki hikingmate-ku yang terkilir. Salah satu dari mereka juga menawarkan untuk membawakan carrier hikingmateku agar dia tak perlu jalan dengan membawa beban. Di sana aku kembali terpana oleh kuasa Alloh dan kebaikan hati manusia.
Disaat paling terpuruk kami di sanalah Alloh menghadirkan bantuan dari arah yang tak terduga-duga bukan hanya untuk kaki hikingmateku tapi juga untuk meringankan beban perjuangannya. Tiga orang pahlawan itu adalah Kak Galih, Mas Ricky dan Mas Raffy. Dari Kak Galih juga kemudian kesempatanku untuk mendaki gunung-gunung yang lain muncul. Ia mengundangku untuk gabung di group whatsapp dia dan teman-teman traveling-nya. Di sanalah ku temukan traveling mates baru dan beberapa di antaranya telah tumbuh menjadi hikingmate terbaik dalam pendakian-pendakianku.
Bukan gulungan awan dan hijaunya hutan Lawu, namun kerendahan hati dan kesabaran adalah hadiah yang ditunjukkan Lawu padaku saat itu. Hal berharga yang menjadi bekalku di perjalanan-perjalanan selanjutnya.
Bersambung ke Napak Tilas #2