Sedikit tentang getirnya kehilangan ibu dan bagaimana obrolan dapat menghindarkan Ibumu dari hal serupa. Catatan (yang mungkin bisa menyelamatkan nyawa) bagi kamu yang saat ini sedang berkutat dengan gejala medis dan pelayanan medis.
Seperti Pak Dahlan Iskhan, Emak tak tahu kapan tepatnya dirinya lahir. Tanggal, bulan, tahun semuanya tak tercatat secara akurat. Kelurahan memutuskan untuk menulis di KTP bahwa beliau lahir pada 30 Juni. Berbeda dengan tanggal lahir, aku tahu persis kapan Ibuku wafat - 2 Mei 2014 sekitar Pukul 4.15, tanpa aku di samping beliau. Tak sempat aku memapah beliau keluar kamar saat beliau mengeluh sesak di dada. Tak sempat aku mengambilkan beliau minum agar tenggorokan dan dadanya sedikit lega. Tak sempat pula aku mengecup kening dan memeluk beliau sebelum beliau di makamkan, karena aku masih jauh di seberang lautan saat itu terjadi.
Berikut adalah memoar hari-hari yang ku lalui setelah emakku wafat
Tak bisa ku cucurkan air mata. Aku tahu belahan jiwaku telah pergi selamanya, aku tak akan bisa menatap wajah keriputnya lagi dan takkan pula dapat mencium tangannya yang bau surga walaupun telapaknya kasar karena tempaan detergen dan sabun cuci piring.
Ku kabarkan hal ini pada teman kostku, lalu memasukkan baju seadanya ke dalam tas dan bergegas menuju statiun kereta yang akan membawaku ke terminal bus untuk pulang ke kampung.
Satu setengah jam kemudian bus mulai bergerak. Di sanalah air mataku menetes untuk pertama kali. aku ingat sekali, tetesannya tak deras. Ku tatap jendela bus dan terus mendengungkan ke dalam hati "Akhirnya Emak terbebas dari semua rasa sakit dan beban, aku tahu hari ini akan datang, dan ini adalah yang terbaik untuk emak". Tak ada isakan, hanya beberapa tetes air mata.
*Sesampainya aku di rumah, Emak telah dimakamkan
Delapan jam perjalanan, dan petang di 2 Mei 2014 pun segela menjelang. Duduk di antara bapak, kakak, adik, saudara-saudara, tak ada suara emak lagi. Suara nyaring penuh kasih sayang untuk semua anaknya. Dan aku pun tersentak akan kenyataan bahwa bahkan aku tak bisa menatap dan memeluknya untuk terakhir kali. Kenyataanya lebih pedih dari yang ku bayangkan selama di bus.
*Hari ke-2 hingga ke-7
Saudara-saudara berdatangan, beberapa dari mereka tinggal untuk membantu mempersiapkan acara yasinan, sekedar menggoreng pisang, kerupuk atau malakukan hal yang njlimet seperti memasak soto untuk para tetangga yang berkenan datang ke rumah selepas magrib untuk membaca Surat Yasin bersama. Ku sadari betapa saudara-saudara ku sangatlah murah hati, mereka sangat peduli pada kami dalam suka maupun duka.
Di antara banjirnya kepedulian itu, terselip cerita-cerita tentang bagaimana saudara dan tetangga mengenang emak. Sudah barang tentu Emak bukan manusia sempurna, namun kebaikan-kebaikan sederhana emak diingat kuat oleh mereka, persona-persona emak yang luput dari pandanganku yang masih dangkal ini. Aku kembali tersentak, ada perasaan yang menusuk kala menyadari, banyak di antara cerita itu yang aku asing mendengarnya. Aku tak di sana saat hal itu terjadi. Aku tak ada untuk mengambil suri tauladan keseharian dari emak yang telah menjadi teman yang baik, tetangga yang peduli dan saudara yang perhatian bagi banyak orang. Anaknya yang sangat suka berpetualang ini melewatkan banyak hari tanpa hari-hari emaknya. Terlalu sedikit curahan hati dan cerita yang ku dengar dari emak tentang hari-harinya saat aku pulang ke rumah ataupun berbicara dengannya melalui telepon. Dua puluh tahun yang ku jalani bersamamu dan dari semua nilai- nilai kehidupan yang telah kau tanamkan di hatiku, tak ku sangka masih banyak nilai-nilai kehidupan yang belum sempat kau tunjukkan padaku (atau aku saja yang lambar menyadarinya).
*Setelah hari Ke-7 sejak Emak Wafat
Setelah hari ke-7 barulah aku berani bertanya tentang bagaimana kronologi sebelum emak wafat. Kakak dan adik ku pun bercerita. Beliau terkena serangan jantung. Dua bulan terakhir beliau mengeluh sakit di dada. Dokter memberi beliau obat untuk di minum setiap hari. Subuh itu emak mengalami sakit itu lagi dan dengan jalan itulah beliau wafat tepat sebelum di bawa ke rumah sakit.
Hari demi hari bergulir, kami masih menata hati untuk move-on. Lalu kakakku menerima broadcast melalui media sosial mengenai penyakit jantung. Di sana disebutkan pula gejala yang dialami emak dan dikabarkan bahwa gejala seperti itu dapat diberi pertolongan pertama dengan aspirin, karena merupakan gejala penyumbatan pembuluh darah di jantung yang mana darah mengental dan aspirin dapat membantu karena bersifat mengencerkan darah.
Hari itu memang sudah 2 hari sejak supply obat Emak habis. Beliau hanya minum ekstrak kulit manggis sebagai gantinya. Bapak dan Kakak telah menawari beliau untuk kembali ke dokter untuk cek kesehatan sekaligus beli obat lagi. Namun beliau menolak karena sudah merasa baikan dan masih ada stock kapsul ekstrak kulit manggis. Kami pun tak memaksa beliau untuk kembali ke dokter. Sudah kurang lebih 7 tahun emak secara rutin harus periksa ke dokter atau menjalani terapi karena terserang stroke pada pertengahan 2007. Meski begitu beliau selalu semangat untuk menjalani pengobatan baik medis, herbal, terapi. Sejak akhir tahun 2013 beliau sudah hampir sepenuhnya pulih dan masih terus mengkonsumsi obat sesuai saran dokter dan juga suplement herbal yang diperbolehkan oleh dokter. Baru 2 bulan sebelum meninggal merasakan gejala sakit jantung itu.
Namun jika dipikir lagi, aku harus bilang bahwa aku kecewa kepada dokter yang menangani Emak. Beliau tidak secara spesifik menjelaskan kepada keluarga kami tentang apa yang dialami emak, obat apa yang iya butuhkan, bagaimana obat itu membantu beliau dan harus bagaimana setelah obat habis dan apa resiko yang mungkin terjadi jika kami tak memahami dan melaksanakan hal itu.
Hal ini dapat terjadi karena lemahnya controlling system terhadap medical service baik publik maupun swasta oleh pemerintah, kurangnya kepedulian dokter untuk mengeedukasi pasien dan keluarganya terkait situasi medis pasien, masih lemahnya kesadaran pasien dan keluarganya akan hak-hak mereka sebagai customer dari pelayanan medis. Jika di negara seperti Singapura dan Jerman, dokter akan berusaha sekuat tenaga untuk membimbing pasien dan keluarganya membuat informed decision (keputusan yang diambil berdasarkan informasi komprehensif) dengan paling tidak menyediakan pelayanan konsultasi yang sejelas-jelasnya, di Indonesia, kebanyakan dokter bekerja dengan mindset kejar setoran. Apalagi mereka yang buka praktek di kabupaten atau kecamatan, ruang praktek belum dibuka, antrian sudah mengekor, alhasil, waktu untuk konsultasi yang seharusnya menjadi hak pasien dan kewajiban dokter pun dikorbankan. Dokter mengusir pergi pasien secepat mungkin setelah diperiksa dan diberi resep. Pemerintah pun sepertinya lengah untuk mengedukasi masyarakat tentang betapa pentingnya sesi konsultasi ini hingga mungkin dapat menyelamatkan nyawa mereka saat keadaan menjadi darurat.
Sehingga aku ingin menyarankan pada teman-teman yang saat ini sedang merawat keluarga atau sedang mengalami sendiri gejala medis. Jangan ragu untuk 'mengeksploitasi' dokter yang menangani Anda jika hal itu terkait dengan info medis. Memang benar dokter mendapatkan ilmunya dengan biaya yang mahal namun para dokter juga terikat ikrar pelayanan yang sebaik-baiknya pada masyarakat.Jadi pastikan Anda mendapatkan info sejelas-jelasnya mengenai
1. Apa penyakit atau gejala medis yang diderita?
2. Mengapa hal itu dapat terjadi dalam tubuh kita? Reaksi atau krisis seperti apa yang terjadi dalam tubuh kita sampai hal itu bisa terjadi?
3. Apa dampak dari gejala medis itu bagi tubuh kita secara umum, spesifik pada organ yang mengalami krisis juga termasuk organ lain yang mungkin secara tak langsung dapat terkena dampak.
4. Obat apa yang dokter sarankan dalam resep? Apa saja yang terkandung di dalamnya? Bagaimana obat itu bereaksi atau bekerja dalam tubuh hingga ia bisa meredakan gejala medis tadi? Apa efek samping obat itu?
5. Berapa lama atau banyak pasien harus mengkonsumsi obat itu?
6. Apakah harus segera kembali ke dokter jika obat sudah akan habis ataukah cukup meminum satu set resep itu saja dan tak perlu menebus obat lagi?
7. Jika dalam situasi tertentu kita tak bisa meraih obat namun gejala nya muncul seberapa berbahayanyakah hal itu jika kita tak segera memberikan obat itu? Adakah pertolongan pertama yang dapat dilakukan?
Bagiku ini adalah sebuah kehilangan tapi juga kelegaan karena pastinya Emak sudah berada di tempat yang lebih baik di alam kubur. Kami yakin karena beliau adalah insan yang sabar (seorang istri yang bertahan dan tegar dalam segala keterpurukan, seorang ibu yang walaupun hanya pernah sekolah hingga kelas 2 SD namun mampu dengan penuh kesabaran membesarkan tubuh dan jiwa kami (6 anaknya) dengan nilai-nilai kehidupan yang mungkin professor pun tak dapat menanamkannya dengan baik di jiwa kami).
Bagi kamu, semoga kisah pelayanan medis yang didapat emakku bisa menjadi pengetahuan agar yang membaca post ini tak harus mengalami hal serupa.
lewati rintangan demi aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau telapak kaki penuh darah penuh nanah
Seperti udara kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas..... Ibu
(Iwan Fals)
RSS Feed
Twitter
09:57
rollerrelic




