Friday, 5 September 2014


Alkisah, di sebuah desa di negara yang sedang berbenah karena banyak masalah, hiduplah masyarakat di sebuah desa terpencil jauh dari gegap gempita lampu hias. Layaknya sebuah desa, masyarakatnya berdinamika (istilah diplomatik dari menghadapi berbagai masalah). Berikut adalah sekelumit kisah mereka...


Alkisah #1
Seorang anak wanita membantu menjaga warung bakso milik ayahnya. Siang itu dia harus berjaga sendiri karena sang ayah terpanggil untuk melakukan kegiatan sosial- membuka lahan perkebunan salak untuk pembuatan madrasah. Datanglah dua orang, seumurannya atau mungkin lebih muda. Pertama mereka memesan es campur, wajar adanya untuk melegakan tenggorokan di siang yang cukup terik itu. Satu mangkok berdua, mungkin menghemat. Lalu tak lama kemudian, dua laki-laki datang menyapa dan mengobrol dengan mereka. Sudah janjian bertemu di warungnya rupanya. Sang perempuanpun memesan 2 mangkok bakso dan salah satu dari laki-laki itu juga memesan es campur.

Si bakso dan es campur dinikmati dengan santainya, ditambah dengan kerupuk yang tersedia di pojok warung, tambah sedap kelihatannya. Sang perempuan banyak cerita dan merayu. Sang laki-laki tampak menanggapi dengan bangga dan tersipu. Setelah berapa lama santapan pun habis. Dua pasang anak manusia itu pun melanjutkan mengobrol di meja mereka, lalu pindah ke depan warung. "mungkin ingin cari angin seperti pelanggan-pelanggan lainnya, memang udaranya cukup panas hari ini" pikir sang anak pemilik warung.  Iya pun duduk dengan tenang di dalam warung. Tak lama kemudian terdengar geraman suara motor. Dua pasang anak manusia itu nge-gas meninggalkan warung, lupa membayar apa yang sudah mereka jejalkan ke perut mereka. Sang anak tak berani teriak, iya tahu itu hanya akan menambah riak di air yang sudah berombak.

Alkisah #2
Pak Wage adalah seorang kuli bangunan yang mengais rezeki di kota. Sudah seminggu ini dia tinggal di rumah. Proyek pencakar langit yang sudah setahun ini ia garap, sudah tak lagi membutuhkan sentuhan tangannya yang piawai. Mentog, ayam, bebek adalah teman pengusir sepinya saat tak ada proyek seperti ini. Siang itu matahari masih di dekat ubun-ubun, Pak Wage ingin mengunjungi teman-temannya di halaman belakang, menegok saja siapa tahu menreka kekurangan pangan atau tersesat keluar lahan. Alangkah terkejutnya Pak Wage saat mendapati seorang pemuda bergerak menjauhi halaman belakangnya sambil membopong salah satu temannya. Sontak iya berkata "Hai, mau maling mentog ya?". Sang pemuda berbalik dan balik berkata, "wah jangan asal tuduh, mana buktinya? siapa yang mau maling? saya mau kembalikan. mentog ini. Saya tak terima, saya akan bawa tetua kami ke sini supaya bapak diadili". sang pemuda pun melenggang dengan motornya dan kemudian kembali dengan membawa beberapa temannya.

Rupanya iya serius. Iya marah dan menuduh Pak Wage telah menuduhnya maling, mengacung-ngasungkan senpi di depan hidung Pak Wage, mengancamnya untuk minta maaf dan ganti rugi Rp. 2 juta, atau akan dilaporkan ke polisi atas pencemaran nama baik. Pak Wage tak sudi tunduk, Si pemuda dan kelompoknya geram, makin kencang ia mencengkeram gagang senpinya, lagi- lagi meneriakkan paksaan uang damai. Tentu saja Pak Wage tak punya uang sebanyak itu, kalaupun punya ia sudah bertekad tak akan memberikannya. Istri Pak Wage gemetaran, menyaksikan nyawa suaminya di ujung tanduk. Ia hampir pingsan, sedih tak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan suaminya. Tetangga, tak bisa berbuat banyak. beberapa berkerumun dekat Pak Wage untuk mengdinginkan kepala sang pemuda, kebanyakan masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rapat-rapat. Sang pemuda bersikeras untuk mendapatkan uang damai, Pak Wage juga tak menggeser niatannya sedikitpun.

Ditengah ketegangan itu, seorang berbadan tinggi tegap dan seorang laki-laki paruh baya berwajah komikal membelah kerumunan. Ternyata mereka adalah perwira polisi dan seorang kepala sekolah yang juga saudara jauh Pak Wage. Kehadiran mereka akhirnya dapat memecah kebekuan. Sang pemuda dengan berat hati meninggalkan rumah Pak Wage dan pak Wage sedikit lega setelah senpi itu tak lagi di depan hidungnya. Namun, bahaya tetap mengancam, warga khawatir kejadian seperti kampung sebelah terjadi juga pada mereka. Mereka di serang sekelompok orang tak dikenal, sebuah rumah dibakar, dan mereka ditantang bentrok dengan kelompok tersebut. Ketegangan berlanjut selama beberapa hari, hingga akhirnya beberapa koper uang 100.000 menjadi harga yang harus dibayar warga kampung itu demi mendapatkan kedamaiannya kembali.

Alkisah #3
Beberapa hari terakhir desa kami dihebohkan oleh sebuah kisah dari seorang pemuda dari kampung nun jauh di sana.  Seorang pemuda yang baru menginjak usia 23 terobsesi untuk mengikuti jejak kawan-kawannya membangun rumah mewah dan membeli sebuah mobil keluarga. Kualitas pendidikan yang tak banyak menginspirasi dan lingkungan yang mendukung membuatnya nekad memilih jalan berbahaya untuk mencapai mimpinya itu. Ia merantau ke negeri seberang untuk bekerja dengan sistem shift bersama temannya, menyikat kendaraan roda dua yang menyapa dan minim penjaga.

Siang itu seharusnya iya sudah pulang, lumayan sudah dapat dua tangkapan, namun hujan turun, memaksanya untuk berteduh dulu di pelataran toko di pinggiran kota tempat iya merantau. Rintik hujan yang tak terlalu deras dan awan kelabu yang menyelimuti area disekitarnya membuat sebuah ninja merah di seberang jalan begitu menyilaukan matanya. Motor mahal itu seolah-olah memanggil-manggilnya, membisikkan kata 'habisi saja tuan saya, dia anak manja tak berdaya." Di satu sisi dia tahu shift nya sudah habis, di sisi lain hatinya berkata, "tangkapan iniakan semakin mendekatkannya pada rumah mewah dan mobil keluarga impiannya.
Langkahnya pun menuntunnya mendekati si ninja merah. Begitu di sana, iya menggertak si anak (yang kelihatannya) manja itu untuk memberikan kunci motornya kepadanya. Sang anak terkaget dan bertanya mengapa. Diapun menggertak lagi memaksa anak itu memberi yang ia mau.

Benar rupanya, si anak manja ini menyerahkan kunci ninja merahnya. Sang pemuda pun buru-buru menariknya dan berbalik menuju motor. alangkah kagetnya ia saat langkahnya tertangan rangkulan dua tangan kuat di kaki kirinya. Ternyata sang anak tak ingin begitu saja melepaskan ninja merahnya nan berkilau. Reflek, sang pemuda berbalik dan menendang anak (yang tak lagi terlihat) manja itu berkali kali dibagian perut dan dada sekenanya. Si anak tak manja itu tak goyah, tangannya semkin kuat merengkuh kaki sang pemuda sambil berteriak 'Rampok' berkali-kali. Sang pemuda merasa tak ada pilihan lain, ia pun mengeluarkan senpinya dari balik baju, buru-buru menembakkannya ke kepala si anak tak manja ini.

Naas, tanpa suara dentuman, tanpa terlihat lesatan peluru, tanpa muncratan darah, ternyata senpinya macet, tak menghasilkan tembakan yang diharapkannya dapat meloloskannya dari cengkeraman anak cabe rawit ini. Berkali-kali iya coba menekan pelatuk, peluru tak jua kunjung melesat. Kalap dan takut masa mendengar jeritan anak cabe rawit ini, iya pun memukul-mukulkan gagang pistolnya ke kepala anak ini, darah segar mengalir ke pelipis anak ini. Namun iya masih setegar karang, tak mau melepaskan sang pemuda dan masih terus berteriak-teriak 'Rampok'. Sang pemuda masih terus memukul. Masyarakat mulai tersadar, tertarik perhatiannya dan berlari kearah sumber kegaduhan.

Mereka langsung sadar apa yang terjadi, sang pemuda pun terpaksa pasrah diri dihujani bogem dan besi. Impiannya dan bayangan keluarganya bergantian berkelebat didepannya. Terdengar dan terasa jelas sampai ke relung hatinya cacian dan juga rasa sakit akibat pukulan bertubi-tubi yang diterimanya. Teriakan ampun tak hentinya iya suarakan, namun tenggelam dalam amarah warga yang merasa harus menegakkan keadilan dalam balutan dendam. Darah mengucur dari kepalanya sang pemuda, entah palu, linggis atau benda lain yang menerjangnya, tulangnya remuk, darah mengalir dari mata, bibit, telinga, hidung dan berbagai luka ditubuhnya. Dengan sedikit kesadaran yang tersisa ia dapat merasakan tubuhnya diseret- seret, jauh- jauh sekali, terlunta-lunta melewati puluhan rumah dan ruko. Ya, iya diarak keliling desa dalam kondisi sekarat, sebelum akhirnya polisi datang untuk membawanya ke kamar mayat.

Kisah- kisah di atas adalah sekelumit cerita dari rakyat yang merasa diabaikan oleh para polisi di daerahnya, diselimuti rasa takut karena sepertinya kejahatan lebih berkuasa dari orang-orang yang mereka beri kuasa untuk melindungi mereka- rakyatnya. Mereka masih menunggu dan mencoba percaya bahwa suatu saat bantuan akan datang. Tak hanya mereka sang penegak hukum yang perkasa, namun juga mereka sang penuntun moral dan pendidik berdedikasi yang akan menerangi jalan hidup mereka yang seperti "sang pemuda" di alkisah #3, agar warga tak perlu lagi melakukan hal yang para petinggi sering sebut sebagai main hakim sendiri. Ya, kami masih berharap rasa aman itu akan kembali lagi, kmbawa kami pada ketenangan, yangkemudian membawa kami pada produktivitas, dan akhirnya mendukung ekonomi di desa kami untuk kembali menggeliat.

Dua tahun terakhir, aktivitas ekonomi di desa itu semakin lesu. Kalau di daerah kamu bisa dibilang 'bebas maling", di desa itu "maling bebas" berbuat semaunya. Masyarakat kehilangan berbagai hal miliknya akibat perampokan, pencurian, pembegalan dan semacamnya. Tak banyak uang tersisa untuk jajan atau membeli hal yang bukan kebutuhan dasar. Warga tak berani keluar rumah setelah magrib menjelang. Siang hari pun pintu rumah pun dibiarkan tertutup rapat, demi menghindari hal-hal yang tak diinginkan. Kini penduduk di daerah perbukitan jarang sekali turun ke desa itu . Mereka datang sesekali saja dengan berkelompok untuk membeli keperluan sehari-hari atau memilih pasar lain yang lebih jauh namun memiliki jalur yang lebih aman.  Pembeli di pasar pun seolah bisa dihitung beberapa puluh saja setiap harinya. Omset pemilik toko dan warung pun menurun drastis. Warga tak bisa hidup tenang di malam dan siang hari, takut bahaya datang menghampiri sedang polisi seperti tak menampakkan diri.


Thursday, 26 June 2014

Cantik siapa tak ingin menjadi cantik. Mendapat predikat cantik, orang akan lebih mudah menerima Anda, mudah dapat pacar dan juga punya kesempatan selingkuh lebih banyak karena mudah dilirik. [Tak perlu repot-repot menyangkal walupun ada orang seperti Anda yang berusaha untuk tidak menjadikan kecantikan sebagai landasan interaksi sosial, nyatanya orang yang melakukan itu masihlah menjadi mayoritas]. Persyaratan fisik dalam mencari kerja seperti kulit bersih, tinggi minimal 160, dan berpenampilan menarik, pun biasanya secara alamiah terpenuhi.

Lalu apa arti cantik buat saya. Banyak orang bilang kamu akan cantik kalau kamu bangga atas diri kamu apa adanya. [Siapa yang percaya sebaris kalimat ini?] Terus terang saya tidak sepenuhnya percaya. Saya percaya menerima diri apa adanya menjadi salah satu faktor pendukung kecantikan Anda. Namun dibalik semua itu saya percaya cantik membutuhkan usaha, usaha yang sangat berat namun juga manis jika kita dapat menjalaninya. Jadi bagi saya cantik adalah sebuah perjalanan [tiada akhir] untuk menerima diri apa adanya, untuk menjaga prinsip kita sebaik-baiknya, untuk sehat selama nafas masih terhela.


Lalu seperti apakah saya. [Alhamdulillah] Saya wanita setinggi 165 cm [Tinggi saya berubah-ubah setiap kali saya ukur, antara 163-167cm, jadi mari ambil tengahnya saja]. Berat badan saya berkisar antara 52-58 kg [Yes, I am slender], Pipi chubby seperti tokoh Anna di Frozen [*wink], berjerawat karena faktor gen, hidung pesek khas suku Jawa, bulu mata tak lentik cenderung pendek alis tak teratur, bibir simply g lebay, gigi tak terlalu rapi, mata normal berwarna coklat [sipit saat ketawa atau senyum] dan tiara saya keriting dan berketombe. Tak perlu terlalu ngoyo dibayangkan, tak banyak memang yang bilang saya cantik, hanya diri saya, orang tua, mantan pacar dan orang-orang yang pernah ikhtiar untuk mendapatkan status sebagai pacar saya.

Namun saya sendiri sadar bahwa saya cantik. Pada kenyataannya sangat sulit untuk mencapai kesimpulan ini. Namun biarkan saya menuangkan perjalanan saya menjadi cantik dalam post pertama saya ini. Harus saya akui, cukup lama saya menimbang hal apa yang akan saya tulis pada post pertama saya. banyak topik yang telah saya dapatkan, namun perasaan berbeda saya alami saat saya mendapatkan topik ini, tiba-tiba saya merasa sangat percayya diri bahwa saya harus menjadikan topik ini sebagai postingan pertama saya. Mungkin ini yang disebut omen.

Lalu bagaimana perjalanan saya menjadi cantik.  Pada postingan pertama ini saya akan menceritakan perjalanan saya bergulat dengan keadaan fisik saya sendiri hingga akhirnya saya dapat melaksanakan perjalanan itu dengan lebih tenang dan mendapatkan unsur pertama dalam perjalanan saya menjadi cantik 

"Menerima Diri Apa Adanya"

Saat kecil saya sangat percaya bahwa diri saya cantik. Mengapa begitu? Karena orang tua saya bilang saya cantik. Selayaknya anak- anak, tentu saja saya percaya orang tua saya 100%. Saya terus percaya hal itu hingga mereka sudah tak pernah mengatakan hal itu lagi. Saya pun mulai lupa bahwa saya cantik dan mulai bertanya-tanya tentang kebenarannya. Ditambah lagi, kepercayaan saya akan hal itu semakin memudar saat sebuah tragedi terjadi pada gi gi saya.

Tentang gigi bertragedi itu. Saat masih SD, gigi taring saya putus dan gigi barunya tak tumbuh sempurna. Gigi taring baru tumbuh miring menjorok ke dalam sebelah kanan sedangkan sebelah kirinya terdorong ke kiri karena taring lama yang akan tergantikan itu tak jua tanggal saat taring baru saya tumbuh. Akibatnya, gigi-gigi tersebut membuat lubang yang cukup besar setelah taring yang akan putus itu meninggalkan mereka dalam kondisi yang tak lagi berdampingan, tercerai karena bujukan sanak saudara yang bilang semuanya akan baik-baik saja saat si taring itu tak jua menanggalkan statusnya sebagai penghuni gusiku.

Akibat selanjutnya, setiap kali saya senyum orang-orang tak bisa sepenuhnya menikmati senyum saya dan justru terpukau dengan deretan gigi saya yang tampak ompong. Ekspresi mereka macam-macam, ada yang kaget, mengernyit tanda tak suka, mengernyit karena merasa itu aneh, menahan ketawa karena mengira saya ompong atau frontal dan bertanya apa yang terjadi pada gigi saya itu. Perlu saya kabarkan, saya orang yang cukup sensitif, saya dapat membaca ekspresi orang baik yang kentara ataupun yang tersembunyi. Dan saya harus mengatakan bahwa saya dapat membaca, selama masa itu, semua orang bersikap negatif atas kenyataan yang terjadi pada gigi saya. Lubang itu, menutup peluang saya  masuk kategori orang cantik.

Saya pun tak mengira, bahwa pandangan itu membuat saya kehilangan rasa percaya diri saya, ditambah lagi saya mulai puber dan mulai tumbuh jerawat di wajah saya. Rambutku entah mengapa sudah tak lurus lagi, ia telah menjelma menjadi keriting. Lebih parahnya lagi pada masa itu tak ada yang mengatakan pada saya teori, menerima diri apa adanya. Standar kecantikan yang saya anut pun mengikuti lingkungan saya. Dan sudah tentu saya, tak tergolong mereka yang cantik. Saya menjadi tak percaya diri jika harus tersenyum, saya jadi tak terlalu suka senyum, kalaupun saya senyum tangan saya pun saya latih untuk menutupi senyum itu sehingga orang tak melihat lubang itu dan tak punya alasan untuk menunjukkan ekspresi jijik mereka. Orang-orang pun tak pernah bisa sepenuhnya melihat senyuman saya [hanya mata sipit dan pipi tembem itu yang dapat mereka lihat].

Saya tak terlalu ingat kapan saya mulai menyerah dan meninggalkan aksi petak umpet antara senyum dan lubang ini, membiarkan orang melihat senyum saya dan pasrah untuk menjelaskan saat orang bertanya. Mungkin saya ingat beberapa penyebabnya. Mungkin karena saya tak yakin dengan ingatan saya.
Wah sudah lumayan banyak, semoga tetap tertarik baca kelanjutannya. Terus terang tadi saya berhenti menulis dulu untuk mencari akun Facebook orang yang akan saya ceritakan di paragraf selanjutnya. Siapa dia, ayo ikuti kisahnya.
Yang pertama saya rasa karena pacar pertama saya (yang sampai tulisan ini saya tulis masih menjadi mantan pacar pertama dan terakhir saya) selalu mengatakan bahwa saya cantik. Dia suka marah kalau saya tutup mulut pas saya senyum. Katanya dia tidak bisa lihat senyum saya. Tidak sering tapi saya ingat betul ada suatu moment saat saya tanya mengapa dia suka saya, salah satu jawabannya adalah karena senyum saya manis, selain saya, tidak ada orang yang punya senyum seperti ini.  Tentu saja saya selalu mengatakan padanya itu gombal dan sepenuhnya percaya bahwa itu gombal walaupun dalam hati senang dan tersipu juga. Ya saya rasa itu salah satu awal mulanya saya punya dorongan untuk percaya diri lagi.

Setelah masa itu saya kenal beberapa orang yang setahu saya berikhtiar untuk jadi pacar saya. Mereka bilang hal yang sama, “Senyum saya manis”. Ah, dasar laki-laki semuanya tukang gombal ulung. Namun setelah aku pikir lagi, ada untungnya pula mereka begitu. Kata-kata positif seperti itu apalagi jika diucapkan dengan tulus [keadaan sadar di mana kekurangan itu memng ada namun kekurangan itu justru dikagumi dengan sepenuh hati] akan dapat menggugah rasa percaya diri seseorang. Menciptakan wacana tandingan akan opini negatif yang berkembang di sekitarnya, apalagi jika orang tersebut orang yang dipercaya [bukannya saya menyarankan pacaran, saya tahu cari pacar itu tak selalu mudah, ada juga yang tak mau pacaran, tapi memiliki teman yang jujur memberi pendapat serta supportif sepenuhnya apapun keadaan Anda menjadi cukup. Tanyakan saja secara blak-blakan hal-hal yang merisaukan Anda dan konfirmasi padanya apakah kerisauaan Anda tersebut benar-benar perlu, jangan-jangan Anda hanya termakan pikiran mereka yang tak terlalu mengenal Anda].

Begitu kisahnya, ngomong-ngomong akun facebooknya tak ketemu. Salahnya saya hanya mampu mengingat nama panggilannya, dan itu berarti mencari jarum ditumpukan jerami.

Dorongan positif itu didukung oleh kebiasaan baru saya saat itu yang mulai suka membaca buku pengembangan diri dan motivasi. Di sana saya mendapati banyak seruan mengenai mencintai diri sendiri dan menerima kekurangan diri untuk bisa fokus pada kekuatan diri. Hal ini memberi saya pemahaman yang lebih terkait kecantikan, saya sudah mulai bisa menepis standar kecantikan yang saya serap dari lingkungan dan mencoba mengubur kecaman saya pada gigi taring saya.

Situasi ini kemudian dimantapkan dengan kebiasaan baru saya menonton Oprah Show saat ada kesempatan. Menonton dan mendengar perbincangannya di talkshow saya mulai terhipnotis. Wanita ini jauh sekali dari standar kecantikan yang banyak beredar, namun dia luar biasa cantik dan kata-katanya tentang betapa setiap individu cantik dan harus mencintai dirinya apa adannya telah menggerakkan jiwa saya.

Semua itu terakumulasi dalam diri saya sehingga saya mulai membuang kebiasaan saya menutup mulut saya dengan tangan saat tersenyum. Saya membiarkannya terlihat oleh lawan bicara saya. Saat mereka bereaksi, saya pura-pura tak tahu, tak berubah dan tetap tersenyum menunjukkan rasa percaya diri saya. Beberapa lama masih banyak yang mengeluarkan ekspresi negatif. Lama kelamaan banyak yang hanya penasaran saja namun butuh waktu lama untuk berani bertanya bertanya apa yang terjadi dengan gigi saya. Saya pun mencoba menjelaskan dan menutupnya dengan kalimat, “masa sih kamu baru tahu, ini udah lama kok, berarti selama ini tidak pernah perhatian sama aku”. Seringkali mereka tersipu.

Kini, saya tak lagi memikirkan taring ini. Boleh dibilang saya  lupa, hanya ingat saat ada adik sepupu atau keponakan yang masih di bawah 7 tahun bertanya pada saya, “ hiii tante/ mbak ompong, kenapa tuh tante/mbak? Banyak makan permen yaaaaa?” [saya pun dengan santai menjelaskan apa yang terjadi. Kini saya tersenyum lepas tanpa beban [mata tetap sipit, pipi tetap tembem]. Kini bahkan hanya 1-2 orang saja yang menyadari ada lubang itu di sana, tak ada pandangan negatif itu lagi dan pertanyaan orang-orang pun saya rasakan karena pure penasaran saja atas apa yang terjadi.

Ternyata benar, seringkali saat Anda sendiri tak mempermasalahkan sesuatu itu, masalah itu dengan sendirinya tak akan muncul.


Kini diusia yang sudah tak ABG lagi, saya belum punya dana untuk merapikan gigi, jerawat masih selalu muncul diwajah, dan rambutpun masih keriting berketombe. Namun saya sudah tahu obatnya. Saya merawat badan saya sebaik yang saya bisa. Saya menggosok gigi 2 kali sehari dan mencuci rambut 2 hari sekali. Saat jerawat muncul saya  tak biarkannya merusak rasa percaya diri saya. saya berkata, “iya nih, jerawat mau apalagi, memang ibu, bapak, kakak dan adik semua punya sejarah jerawat”.   Saya tak mempermasalahkannya. Saya tak mengecam keberadannnya. Saya menerima diri saya apa adanya dan perjalanan menjadi cantik saya pun menjadi lebih ringan, karena unsur ini tak lagi menjadi beban.  

Sampai jumpa pada kisah "Perjalanan Saya Menjadi Cantik" Bagian 2. [*Wink]