Cikuray - Dengarkan Intuisimu
Dari 5 anggota team, tadinya aku hanya kenal Kak Rudi, namun sudah lumrah rasanya kita cepat merasa akrab dengan teman pendakian baru. Obrolan pun mengalir cepat antara aku, K. Rudi, Lasti, Imel dan Henry.
Cikuray memang asyik. Treknya nanjak terus jadi elevasinya cepat. Sampai di basecamp kami disuguhi pemandangan tanah coklat yang basah karena hujan sebelumnya, hamparan hijau kebun teh, langit biru cerah dan awan putih bergelantungan. Semburat keceriaan yang cukup terik dan menghadirkan semangat.
![]() |
| Menuju Base Camp Cikuray via Pemancar |
Masuk ke hutannya aku, Imel dan Henry lebih sering berjalan di depan meninggalkan Lasti dan Kak Rudi yang memang bertugas sebagai sweeper. Namun setiap kali jarak kami terasa agak jauh dan mereka berdua tak terlihat kami berhenti untuk menunggu sekaligus istirahat. Aku suka Cikuray, hutannya cukup lebat, anginnya juga sepoi-sepoi. Kadang-kadang kabut menyusul kami dari belakang lalu meninggalkan kami begitu saja. Maha Agung Alloh pencipta kedamaian ini.
Cek kabut magis Cikuray di sini:
![]() |
| Pohon, lumut dan kabut 😍 |
Waktu masih menunjukkan pukul 3 sore saat kami sampai di Pos 3. Suasana berkabut. Beberapa anggota tim sudah kelelahan sedangkan aku masih sangat bersemangat untuk melanjutkan perjalanan. K. Rudi sebagai ketua tim memutuskan tim akan beristirahat selama 1 jam dan kemudian menimbang kembali apakah akan melanjutkan pendakian atau mendirikan tenda dan bermalam di situ.
Sejam hampir berlalu dan langitpun mulai mendung, K. Rudi pun memutuskan untuk buka tenda agar kami bisa dengan mudah berteduh saat hujan turun. Dan menilik kembali situasi di Jam 5.
Sebenarnya saya agak keberatan karena merasa perjalanan masih bisa dilanjutkan dan nantinya camp di Pos 6 atau Pos 7. Namun melihat anggota tim yg sudah kelelahan, aku pun setuju untuk mendirikan kemah dan stay lebih lama di Pos 3. Ternyata hujan benar-benar turun dengan derasnya diikuti gemuruh petir. Malam ini adalah malam yang sama saat beberapa Pendaki Prau tersambar petir di dekat puncak. Hujan baru reda Pukul 10.30. Kak Lasti dengan penuh semangat menyiapkan makanan untuk tim. Aku sudah sangat lelah dan tak berniat untuk makan. Aku memilih bantu-sekedarnya saja dalam urusan perut ini dan lebih memilih stay di tenda dan bantu merapikan tenda lalu berangkat tidur setelah merengek ke Kak Rudi untuk di antar summit sebelum subuh.
Pagi itu, aku belajar lebih enak summit tanpa membawa beban carrier seperti yang kami lakukan di Pangrango. Perjalanan menjadi lebih ringan dan cepat. Summit menjadi lebih menyenangkan. Dalam perjalanan dari dan ke puncak pun kami banyak mendengar cerita dari pendaki lain yang nekat camp di pos 6 hingga puncak. Hujan deras dan angin berhembus kencang, bahkan ada yang hampir tersambar petir. Mereka yg nekat melanjutkan perjalanan setelah jam 3 harus rela basah kuyup kehujanan. Rain coat tidak membantu katanya.
Perjalanan summit kami cukup cepat. Saat sampai di pos 7 dan area puncak para pe daki yang camp di atas sedang sibuk masak. Area itu dilingkupi aroma kopi, yang diseduh, indomie rebus, telur goreng dan tawa renyah para pendaki yang bersenda gurau dengan teman-temannya. Puncak pun menawarkan langit yang cerah biru. Pemandangan hijau terhampar luas di depan kami. Awan bergerumul di beberapa titik bergerak perlahan mengikuti tiupan angin.
Di Cikuray aku belajar, alam selalu berbaik hati pada manusia. Saat iya memberikan tanda-tanda bahaya terimalah dengan lapang dada walaupun kau merasa akan kuat menghadapinya. Hutan belantara seperti Cikuray bukanlah milikmu. Kau tak punya kendali di situ. Saat menghadapi pilihan menantang seperti itu simpan rasa kuatmu dan pilihlah yang lebih memudahkanmu -seperti dirikan tenda dan nikmati obrolan sore bersama kawan pendakianmu.
Begitu pula dalam kehidupan sehari-hari atau dalam perjalanan lainnya. Saat hati memberi isyarat atau kondisi memaksamu untuk menunda pergerakan karena sesuatu yang tak dapat kamu kendalikan, cari alternatif yang aman jika memungkinkan. Jika tidak jalani dengan hati-hati dan sabar. Dengarkan intuisimu, jika ia mengisyaratkan berhenti, berhentilah, jika ia mengisyaratkan bahaya waspadalah dan atau minta pertolongan, jika ia bilang tak usah maka urungkan. Namun bukan berarti kita harus khawatir secara berlebihan. Persiapan yang matang, pengetahuan atas resiko dan tantangan adalah bekal yang penting agar kita bisa melangkah lebih percaya diri dalam situasi apapun. So persiapkan diri, kenali medan dan dengarkan intuisimu.
Lagi-lagi bukan lautan awan, namun pelajaran .
Sejam hampir berlalu dan langitpun mulai mendung, K. Rudi pun memutuskan untuk buka tenda agar kami bisa dengan mudah berteduh saat hujan turun. Dan menilik kembali situasi di Jam 5.
Sebenarnya saya agak keberatan karena merasa perjalanan masih bisa dilanjutkan dan nantinya camp di Pos 6 atau Pos 7. Namun melihat anggota tim yg sudah kelelahan, aku pun setuju untuk mendirikan kemah dan stay lebih lama di Pos 3. Ternyata hujan benar-benar turun dengan derasnya diikuti gemuruh petir. Malam ini adalah malam yang sama saat beberapa Pendaki Prau tersambar petir di dekat puncak. Hujan baru reda Pukul 10.30. Kak Lasti dengan penuh semangat menyiapkan makanan untuk tim. Aku sudah sangat lelah dan tak berniat untuk makan. Aku memilih bantu-sekedarnya saja dalam urusan perut ini dan lebih memilih stay di tenda dan bantu merapikan tenda lalu berangkat tidur setelah merengek ke Kak Rudi untuk di antar summit sebelum subuh.
Pagi itu, aku belajar lebih enak summit tanpa membawa beban carrier seperti yang kami lakukan di Pangrango. Perjalanan menjadi lebih ringan dan cepat. Summit menjadi lebih menyenangkan. Dalam perjalanan dari dan ke puncak pun kami banyak mendengar cerita dari pendaki lain yang nekat camp di pos 6 hingga puncak. Hujan deras dan angin berhembus kencang, bahkan ada yang hampir tersambar petir. Mereka yg nekat melanjutkan perjalanan setelah jam 3 harus rela basah kuyup kehujanan. Rain coat tidak membantu katanya.
![]() |
| Semburat jingga mentari menembus hutan di Gunung Cikuray |
Di Cikuray aku belajar, alam selalu berbaik hati pada manusia. Saat iya memberikan tanda-tanda bahaya terimalah dengan lapang dada walaupun kau merasa akan kuat menghadapinya. Hutan belantara seperti Cikuray bukanlah milikmu. Kau tak punya kendali di situ. Saat menghadapi pilihan menantang seperti itu simpan rasa kuatmu dan pilihlah yang lebih memudahkanmu -seperti dirikan tenda dan nikmati obrolan sore bersama kawan pendakianmu.
Begitu pula dalam kehidupan sehari-hari atau dalam perjalanan lainnya. Saat hati memberi isyarat atau kondisi memaksamu untuk menunda pergerakan karena sesuatu yang tak dapat kamu kendalikan, cari alternatif yang aman jika memungkinkan. Jika tidak jalani dengan hati-hati dan sabar. Dengarkan intuisimu, jika ia mengisyaratkan berhenti, berhentilah, jika ia mengisyaratkan bahaya waspadalah dan atau minta pertolongan, jika ia bilang tak usah maka urungkan. Namun bukan berarti kita harus khawatir secara berlebihan. Persiapan yang matang, pengetahuan atas resiko dan tantangan adalah bekal yang penting agar kita bisa melangkah lebih percaya diri dalam situasi apapun. So persiapkan diri, kenali medan dan dengarkan intuisimu.
Lagi-lagi bukan lautan awan, namun pelajaran .
RSS Feed
Twitter
00:36
rollerrelic




