Seorang perempuan paruh baya menatap sayu keluar jendela kereta.
Hatinya sedikit resah, diperjalanan ini suaminya sakit. Masuk angin kalau kata orang jawa.
Iya bersyukur putri ketiganya akhirnya dapat bergabung dengan mereka saat kereta mampir di Statiun Jatinegara.
Kala menatap ke jendela itu, ia mengucap syukur dengan getir.
Segala puji bagi Allah yang telah memberinya kekuatan untuk menempuh perjalanan PP 2000 km ini meski dengan langkah terseok-seok dan tangan kanan yang setengah berfungsi.
Terima kasih pula karena dikuatkan akan janji keberkahan silaturahmi bagi siapapun yg menyongsongnya, sehingga membumbungkan kekuatan untuk melakukan perjalanan ini.
Terima kasih untuk sekali lagi mendapatkan kesempatan melihat kampung halamannya setelah 10 tahun berlalu. Saat itu Mbah Kakung anak-anak pulang kepangkuan Gusti Alloh.
Terima kasih telah diizinkan berada didekat putra sulung tercinta. Sudah belasan tahun sejak sang putra meningggalkan Sang Ibu, kembali ke Sang Pencipta. "Apa kabarmu di sana, Nak? Ibu rindu," lirihnya.
Terima kasih, dapat berada di rumah itu lagi, walau hanya sebentar. Rumah yang ia bangun dengan hasil jerih payahnya sendiri ketika ia belum dipertemukan dengan ayah anak-anak. Rumah di mana ia membesarkan anak-anaknya, hampir seperti seorang diri, karena suami harus berurbanisasi.
"Jangan jual rumah Ibu ya Nak. Satu-satunya harta yang pernah Ibu miliki dalam waktu lama," pesannya dalam hati, berharap anak-anaknya mengerti.
Ia menghela nafas. teringatkan lagi ia sudah cukup tua, rasanya baru beljm lama sejak ia semalaman gendong anak-anaknya yang demam . Kini badan itu seringkali harus dibopong anak-anaknya ketika berjalan.
Baru sebentar rasanya hari-harinya dipenuhi rengekan 5 anak-anaknya yang kini sudah mulai belajar mandiri. Rumah sudah mulai sunyi.
Lalu sebentar ia menatap sendu putrinya di baris seberang sana. Putrinya sibuk membuatkan teh panas untuk ayahnya.
"Nduk, kamu sudah besar sekarang. Kamu jarang pulang. Tapi ibu mengerti, dulu juga ibu begitu, berapi- api merajut mimpi," ucapnya dalam hati.
Ia lalu mencoba terlelap sambil berdoa, semoga esok ia kuat menyusuri jembatan Pelabuhan menuju Terminal Bakauheuni. Atau paling tidak anak dan suaminya akan cukup sabar menantinya diujung jembatan yang akan ia arungi dengan langkah terseok-seok.
Emak ku tercinta,
Mungkin memang seperti itulah sifatnya selalu optimis dan merasa kuat. Atau mungkin pula, ia cukup menyadari bahwa ia harus melakukan perjalanan ini, sekali lagi merasa dekat dengan tanah kelahirannya, dengan orang-orang terkasihnya dan sekali lagi mengarungi bumi bersama satu-satunya laki-laki yang pernah memikat hatinya, karena mungkin kesempatan itu takkan ada lagi.
RSS Feed
Twitter
05:37
rollerrelic
