Tuesday, 9 June 2015

Akhir- akhir ini aku merasa sangat labil, terlalu banyak berfikir dan bertanya bahkan cenderung was- was. Aku ingat diriku duku tak begitu. Aku dulu seperti tahu sekali apa yang ku mau dan apa yang benar. Mungkin karena dulu aku jauh lebih sedikit tahu dari sekarang, mungkin juga karena dulu aku terlalu naive. Memandang hidup dengan kacamata sederhana. Kacamata hitam putih.

Mungkin ini rasanya jadi dewasa. Hidup serasa penuh tantangan. Jika dulu aku dapat memprediksi apa yang akan aku hadapi esok hari, bahwa rasa hidup tak akan jauh beda dari hari ini dan aku merasa baik- baik saja akan hal itu. Kini aku khawatir tentang bagaimana ini, bagaimana itu dan seterusnya. Kadang aku merasa takut saat memikirkan hari esok akan sama dengan hari kemarin. Aku terlalu takut jika langkah yang ku ambil adalah kemunduran dan bukan langkah maju yang dapat membawaku selangkah lebih dekat dengan mimpiku.



Lalu ngomong- ngomong tentang mimpi. Apakah bermimpi memang seaneh ini rasanya. Kamu seperti mengejar sesuatu yang tak tampak dengan beban di pundakmu yang amat  berat karena puluhan to-do list yang harus kamu lakukan dengan tekun dan berkesinambungan. Satu- satunya cara untuuk memindahkan beban itu menjadi investasi tak kasat mata adalah dengan melakukan semua  to-do list itu sehingga ia berubah menjadi proses pembelajaran yang membuatmu menjadi lebih mumpuni dari sebelumnya.

Namun pengejaran seperti tak pernah berakhir. To-do list yang satu hanya akan membawamu kepada deretan to-do list baru. Pengetahuan yang baru semakin membuatmu merasa kecil dan tak tahu apa- apa, bahwa sepuluh tetes pengetahuan lainnyalah yang kamu butuhkan setelah meneguk setetes pengetahuan. Lalu badan dan pikiranmu mulai berontak. "Masa bodoh" katanya, "kamu masih punya hari esok. Sekarang waktunya beristirahat dan ingat kamu masih punya satu session serial untuk ditonton." Seringkali aku kalah dalam pertempuran seperti ini, berakhir dengan penyesalan karena aku tak bergerak dari titik pengejaranku kemarin. masih di sini ribuan mil dari mimpi- mimpi yang ku.

Aku adalah seorang pemimpi. Aku selalu sadar itu. Aku pun pernah merasakah pahit manisnya meraih mimpi yang rasanya mustahil dengan semua tambahan pencapaian yang aku tak pernah minta sebelumnya. Aku biarkan diriku bergelimang kesepian hanya agar pengejaran mimpiku terus menjadi mungkin. Aku pernah mengabaikan waktu agar raga dan pikiranku dapat melaju ke mimpiku dengan lebih cepat. Lalu apa yang membedakannya...Baik dalam mimpiku yang ini dan yang telah tercapai, aku sama- sama dapat mecium manisnya pencapaian, melihat indahnya senyum kelegaan dan menerawang bertambah luasnya kesempatan. Namun mengapa dorongan pencapaian ini tak setinggi dulu.
Apakah memang aku sudah lelah? Namun itu adalah alasan, sedangkan pemimpi tak suka beralasan. Ataukah ini bukan mimpi sejatiku sehingga raga dan jiwaku tak mau berjuang selayaknya para pemimpi. Mungkin aku butuh bantuanmu untuk menjawabnya, atau aku sebenarnya tahu jawabanya? Ah... semakin linglung diri ini rasanya.


Lalu ku baca lagi tulisanku hari ini. Tiba- tiba aku merasa bodoh dan abstrak. (-;

Aku berharap. dalam setiap langkahku, Alloh memberi petunjuk, keridoan dan ilmu yang bermanfaat.