Sunday, 4 January 2015

Tahun baru, ada yang memaknainya dengan perayaan kembang api, ada yang memilih perenungan, ada yang memilih kebersamaan dengan keluarga sambil bakar jagung ataupun aneka daging, ada juga yang tertidur lelap menganggap pergantian tahun masehi layaknya pergantian hari Rabu ke Kamis.

Tanggapanku? Manusia itu bermacam-macam, cara mereka meraup rasa bahagia pun macam-macam, aku rasa sebagian besar masyarakat Indonesia merayakan tahun baru karena berbagai sistem dalam kehidupan mendorong mereka seperti itu misalnya sistem penanggalan umum yang digunakan, aktivitas tutup buku pada institusi yang dilaksanakan akhir tahun, godaan akan kemeriahan hiburan , promo akhir tahun dan kembang api di malam tahun baru, juga bonus tahunan dibagikan akhir tahun, mendorong sebagian besar manusia untuk paling tidak bersenang-senang dengan itu melalui liburan, makan bersama keluarga atau membeli kembang api yang indah jika tersulut api untuk menambah sedikit keceriaan. Bukankah pada dasarnya manusia senang akan keceriaan dan kemeriahan, hal yang ditawarkan oleh malam tahun baru. 

Aku? Aku bukan individu yang suka hingar bingar. Hujan malam tahun baru kemarin buatku adalah berkah, karena aku suka hujan, lebih dari malam tahun baru itu sendiri. Lalu diundang makan jagung bakar dan ayam bakar dirumah Bulikku juga merupakan berkah. Perut kenyang tanpa keluar sepeser uang. Moment terpenting dalam malam tanggal 31 Desember itu adalah "Aku memutuskan untuk pindah ke kamar kost" tak lagi numpang di rumah Paklik dan Bulik walaupun aku tahu mereka tak keberatan sama sekali. InsyaAllah aku akan kembali ke meja kerja dalam beberapa hari dan akan kembali mampun membayar sewa kamarku lagi. 


Resolusi? tentu saja aku punya (contradictive  sekali dengan ketidakinginanku untuk merayakan tahun baru, Haha). Resolusiku tahun ini sangat simple secara garis besar aku berharap: 




Mengenai kenangan, (mungkin sangat cliche), beberapa baris kata dari orang-orang yang ada ataupun melintas di hidupku , juga beberapa catatan ku sendiri di sosial media pada tahun 2014 yang masih berdengung dikepalaku adalah yang akan ku bagikan kali ini. 

"Kalau sudah tahu lauk yang kita punya akan berlebih atau tidak ada yang makan, berikan ke anak yatim belakang rumah. Saat kita membiarkan lauk-lauk itu basi dan teronggok di meja sampai esok pagi, mungkin saja mereka sedang makan hanya dengan nasi dan garam" Bapakku

"Semakin tinggi yang kita capai, semakin luas pandangan kita" Usep 
Catatan rollerrelic:  Jadi jangan heran kalau orang yang sukses bisa makin sukses dan yang kaya bisa makin kaya. Mereka mencapai dan memaknai pencapaiannya dengan mencoba melihat lebih jauh lagi, jalan mana lagi yangg harus didaki agar dapat mencapai yang lebih tinggi. Mereka yang miskin dan biasa saja kalau tak coba mendaki wajar saja akan tetap berada ditempatnya.


"Jika saya membantu anak saya mendapatkan pekerjaan atau suatu posisi dengan menggunakan nama saya atau menyuap, itu artinya saya menghina anak saya, merendahkan dia yang sudah bekerja keras untuk meraih kemapuannya saat ini" Jun HM




Kulit boleh menghitam karena terbakar matahari, asal jangan hati yang menghitam karena berlaku tidak jujur.  rollerrelic


"Rezeki itu sudah diatur, dont worry you have done your part, berusaha" Ratna Dewi




"If you cannot find what you are looking for in two minutes, go asking somebody, that will make you effective." Leo Wibisono 

"In career, it is better to kill then to be killed" Sheila  

"Life is composed by plenty of small wonderful things. If a wonderful thing is gone, does not mean your life is not wonderful anymore. It is just a lil bit less wonderful. So don't feel like you have come on the end of your life. It is there and still wonderful. Face it!" rollerrelic




Sebagai kutipan penutup dan juga tamparan jika aku hanya memandangi rencanaku tanpa melakukannya ku harus ingat bahwa 

"Idea is cheap, excellent execution what makes them expensiveYoris Sebastian.