Alkisah, di sebuah desa di negara yang sedang berbenah karena banyak masalah, hiduplah masyarakat di sebuah desa terpencil jauh dari gegap gempita lampu hias. Layaknya sebuah desa, masyarakatnya berdinamika (istilah diplomatik dari menghadapi berbagai masalah). Berikut adalah sekelumit kisah mereka...
Alkisah #1
Seorang anak wanita membantu menjaga warung bakso milik ayahnya. Siang itu dia harus berjaga sendiri karena sang ayah terpanggil untuk melakukan kegiatan sosial- membuka lahan perkebunan salak untuk pembuatan madrasah. Datanglah dua orang, seumurannya atau mungkin lebih muda. Pertama mereka memesan es campur, wajar adanya untuk melegakan tenggorokan di siang yang cukup terik itu. Satu mangkok berdua, mungkin menghemat. Lalu tak lama kemudian, dua laki-laki datang menyapa dan mengobrol dengan mereka. Sudah janjian bertemu di warungnya rupanya. Sang perempuanpun memesan 2 mangkok bakso dan salah satu dari laki-laki itu juga memesan es campur.
Si bakso dan es campur dinikmati dengan santainya, ditambah dengan kerupuk yang tersedia di pojok warung, tambah sedap kelihatannya. Sang perempuan banyak cerita dan merayu. Sang laki-laki tampak menanggapi dengan bangga dan tersipu. Setelah berapa lama santapan pun habis. Dua pasang anak manusia itu pun melanjutkan mengobrol di meja mereka, lalu pindah ke depan warung. "mungkin ingin cari angin seperti pelanggan-pelanggan lainnya, memang udaranya cukup panas hari ini" pikir sang anak pemilik warung. Iya pun duduk dengan tenang di dalam warung. Tak lama kemudian terdengar geraman suara motor. Dua pasang anak manusia itu nge-gas meninggalkan warung, lupa membayar apa yang sudah mereka jejalkan ke perut mereka. Sang anak tak berani teriak, iya tahu itu hanya akan menambah riak di air yang sudah berombak.
Alkisah #2
Pak Wage adalah seorang kuli bangunan yang mengais rezeki di kota. Sudah seminggu ini dia tinggal di rumah. Proyek pencakar langit yang sudah setahun ini ia garap, sudah tak lagi membutuhkan sentuhan tangannya yang piawai. Mentog, ayam, bebek adalah teman pengusir sepinya saat tak ada proyek seperti ini. Siang itu matahari masih di dekat ubun-ubun, Pak Wage ingin mengunjungi teman-temannya di halaman belakang, menegok saja siapa tahu menreka kekurangan pangan atau tersesat keluar lahan. Alangkah terkejutnya Pak Wage saat mendapati seorang pemuda bergerak menjauhi halaman belakangnya sambil membopong salah satu temannya. Sontak iya berkata "Hai, mau maling mentog ya?". Sang pemuda berbalik dan balik berkata, "wah jangan asal tuduh, mana buktinya? siapa yang mau maling? saya mau kembalikan. mentog ini. Saya tak terima, saya akan bawa tetua kami ke sini supaya bapak diadili". sang pemuda pun melenggang dengan motornya dan kemudian kembali dengan membawa beberapa temannya.
Rupanya iya serius. Iya marah dan menuduh Pak Wage telah menuduhnya maling, mengacung-ngasungkan senpi di depan hidung Pak Wage, mengancamnya untuk minta maaf dan ganti rugi Rp. 2 juta, atau akan dilaporkan ke polisi atas pencemaran nama baik. Pak Wage tak sudi tunduk, Si pemuda dan kelompoknya geram, makin kencang ia mencengkeram gagang senpinya, lagi- lagi meneriakkan paksaan uang damai. Tentu saja Pak Wage tak punya uang sebanyak itu, kalaupun punya ia sudah bertekad tak akan memberikannya. Istri Pak Wage gemetaran, menyaksikan nyawa suaminya di ujung tanduk. Ia hampir pingsan, sedih tak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan suaminya. Tetangga, tak bisa berbuat banyak. beberapa berkerumun dekat Pak Wage untuk mengdinginkan kepala sang pemuda, kebanyakan masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rapat-rapat. Sang pemuda bersikeras untuk mendapatkan uang damai, Pak Wage juga tak menggeser niatannya sedikitpun.
Ditengah ketegangan itu, seorang berbadan tinggi tegap dan seorang laki-laki paruh baya berwajah komikal membelah kerumunan. Ternyata mereka adalah perwira polisi dan seorang kepala sekolah yang juga saudara jauh Pak Wage. Kehadiran mereka akhirnya dapat memecah kebekuan. Sang pemuda dengan berat hati meninggalkan rumah Pak Wage dan pak Wage sedikit lega setelah senpi itu tak lagi di depan hidungnya. Namun, bahaya tetap mengancam, warga khawatir kejadian seperti kampung sebelah terjadi juga pada mereka. Mereka di serang sekelompok orang tak dikenal, sebuah rumah dibakar, dan mereka ditantang bentrok dengan kelompok tersebut. Ketegangan berlanjut selama beberapa hari, hingga akhirnya beberapa koper uang 100.000 menjadi harga yang harus dibayar warga kampung itu demi mendapatkan kedamaiannya kembali.
Alkisah #3
Beberapa hari terakhir desa kami dihebohkan oleh sebuah kisah dari seorang pemuda dari kampung nun jauh di sana. Seorang pemuda yang baru menginjak usia 23 terobsesi untuk mengikuti jejak kawan-kawannya membangun rumah mewah dan membeli sebuah mobil keluarga. Kualitas pendidikan yang tak banyak menginspirasi dan lingkungan yang mendukung membuatnya nekad memilih jalan berbahaya untuk mencapai mimpinya itu. Ia merantau ke negeri seberang untuk bekerja dengan sistem shift bersama temannya, menyikat kendaraan roda dua yang menyapa dan minim penjaga.
Siang itu seharusnya iya sudah pulang, lumayan sudah dapat dua tangkapan, namun hujan turun, memaksanya untuk berteduh dulu di pelataran toko di pinggiran kota tempat iya merantau. Rintik hujan yang tak terlalu deras dan awan kelabu yang menyelimuti area disekitarnya membuat sebuah ninja merah di seberang jalan begitu menyilaukan matanya. Motor mahal itu seolah-olah memanggil-manggilnya, membisikkan kata 'habisi saja tuan saya, dia anak manja tak berdaya." Di satu sisi dia tahu shift nya sudah habis, di sisi lain hatinya berkata, "tangkapan iniakan semakin mendekatkannya pada rumah mewah dan mobil keluarga impiannya.
Langkahnya pun menuntunnya mendekati si ninja merah. Begitu di sana, iya menggertak si anak (yang kelihatannya) manja itu untuk memberikan kunci motornya kepadanya. Sang anak terkaget dan bertanya mengapa. Diapun menggertak lagi memaksa anak itu memberi yang ia mau.
Benar rupanya, si anak manja ini menyerahkan kunci ninja merahnya. Sang pemuda pun buru-buru menariknya dan berbalik menuju motor. alangkah kagetnya ia saat langkahnya tertangan rangkulan dua tangan kuat di kaki kirinya. Ternyata sang anak tak ingin begitu saja melepaskan ninja merahnya nan berkilau. Reflek, sang pemuda berbalik dan menendang anak (yang tak lagi terlihat) manja itu berkali kali dibagian perut dan dada sekenanya. Si anak tak manja itu tak goyah, tangannya semkin kuat merengkuh kaki sang pemuda sambil berteriak 'Rampok' berkali-kali. Sang pemuda merasa tak ada pilihan lain, ia pun mengeluarkan senpinya dari balik baju, buru-buru menembakkannya ke kepala si anak tak manja ini.
Naas, tanpa suara dentuman, tanpa terlihat lesatan peluru, tanpa muncratan darah, ternyata senpinya macet, tak menghasilkan tembakan yang diharapkannya dapat meloloskannya dari cengkeraman anak cabe rawit ini. Berkali-kali iya coba menekan pelatuk, peluru tak jua kunjung melesat. Kalap dan takut masa mendengar jeritan anak cabe rawit ini, iya pun memukul-mukulkan gagang pistolnya ke kepala anak ini, darah segar mengalir ke pelipis anak ini. Namun iya masih setegar karang, tak mau melepaskan sang pemuda dan masih terus berteriak-teriak 'Rampok'. Sang pemuda masih terus memukul. Masyarakat mulai tersadar, tertarik perhatiannya dan berlari kearah sumber kegaduhan.
Mereka langsung sadar apa yang terjadi, sang pemuda pun terpaksa pasrah diri dihujani bogem dan besi. Impiannya dan bayangan keluarganya bergantian berkelebat didepannya. Terdengar dan terasa jelas sampai ke relung hatinya cacian dan juga rasa sakit akibat pukulan bertubi-tubi yang diterimanya. Teriakan ampun tak hentinya iya suarakan, namun tenggelam dalam amarah warga yang merasa harus menegakkan keadilan dalam balutan dendam. Darah mengucur dari kepalanya sang pemuda, entah palu, linggis atau benda lain yang menerjangnya, tulangnya remuk, darah mengalir dari mata, bibit, telinga, hidung dan berbagai luka ditubuhnya. Dengan sedikit kesadaran yang tersisa ia dapat merasakan tubuhnya diseret- seret, jauh- jauh sekali, terlunta-lunta melewati puluhan rumah dan ruko. Ya, iya diarak keliling desa dalam kondisi sekarat, sebelum akhirnya polisi datang untuk membawanya ke kamar mayat.
Kisah- kisah di atas adalah sekelumit cerita dari rakyat yang merasa diabaikan oleh para polisi di daerahnya, diselimuti rasa takut karena sepertinya kejahatan lebih berkuasa dari orang-orang yang mereka beri kuasa untuk melindungi mereka- rakyatnya. Mereka masih menunggu dan mencoba percaya bahwa suatu saat bantuan akan datang. Tak hanya mereka sang penegak hukum yang perkasa, namun juga mereka sang penuntun moral dan pendidik berdedikasi yang akan menerangi jalan hidup mereka yang seperti "sang pemuda" di alkisah #3, agar warga tak perlu lagi melakukan hal yang para petinggi sering sebut sebagai main hakim sendiri. Ya, kami masih berharap rasa aman itu akan kembali lagi, kmbawa kami pada ketenangan, yangkemudian membawa kami pada produktivitas, dan akhirnya mendukung ekonomi di desa kami untuk kembali menggeliat.
Dua tahun terakhir, aktivitas ekonomi di desa itu semakin lesu. Kalau di daerah kamu bisa dibilang 'bebas maling", di desa itu "maling bebas" berbuat semaunya. Masyarakat kehilangan berbagai hal miliknya akibat perampokan, pencurian, pembegalan dan semacamnya. Tak banyak uang tersisa untuk jajan atau membeli hal yang bukan kebutuhan dasar. Warga tak berani keluar rumah setelah magrib menjelang. Siang hari pun pintu rumah pun dibiarkan tertutup rapat, demi menghindari hal-hal yang tak diinginkan. Kini penduduk di daerah perbukitan jarang sekali turun ke desa itu . Mereka datang sesekali saja dengan berkelompok untuk membeli keperluan sehari-hari atau memilih pasar lain yang lebih jauh namun memiliki jalur yang lebih aman. Pembeli di pasar pun seolah bisa dihitung beberapa puluh saja setiap harinya. Omset pemilik toko dan warung pun menurun drastis. Warga tak bisa hidup tenang di malam dan siang hari, takut bahaya datang menghampiri sedang polisi seperti tak menampakkan diri.
RSS Feed
Twitter
11:35
rollerrelic

